Outflow Asing Masih Tekan Pasar Modal RI, Investor Lokal Jadi Bantalan IHSG
Pasar modal Indonesia awal pekan ini kembali menghadapi tekanan signifikan. Itu terlihat setelah bursa mencatatkan nilai jual bersih asing (net foreign sell) atau outflow mencapai Rp1,01 triliun hanya dalam satu hari pada perdagangan 26 Januari 2026.
Analis pasar modal Reza Fahmi Riawan menganggap fenomena ini menjadi sinyal kuat bahwa investor global tengah memasuki mode risk-off. Dalam kondisi ini, para pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko demi keamanan modal.
"Tekanan jual yang masif ini tidak berdiri sendiri, melainkan berakar pada eskalasi dinamika geopolitik dan pergeseran preferensi aset di tingkat global," kata dia kepada Katadata, Selasa (27/1).
Dia menuturkan, ketidakpastian perdagangan dunia kembali memanas menyusul ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif sebesar 100% terhadap Kanada apabila negara tersebut melanjutkan kesepakatan dagang dengan Cina. Ketegangan antara kekuatan ekonomi besar ini memperburuk persepsi risiko global, yang secara otomatis mendorong investor internasional untuk segera mengurangi eksposur mereka di pasar emerging markets, termasuk Indonesia.
Di tengah badai ketidakpastian tersebut, pasar justru melihat lonjakan luar biasa pada harga emas dunia yang berhasil menembus rekor baru di atas US$ 5.000 per ons. Rekor ini mencerminkan tingginya permintaan terhadap aset safe haven yang dipicu oleh kombinasi agresifnya pembelian bank sentral, penurunan imbal hasil riil, serta kekhawatiran geopolitik yang mendalam.
Kondisi global ini, kata Reza, memberikan dampak langsung yang cukup terasa pada stabilitas instrumen keuangan dalam negeri. Nilai tukar rupiah terpantau bergerak melemah di kisaran Rp16.850 hingga Rp16.880 per dolar AS. Di pasar surat utang, yield SBN tenor 10 tahun naik ke level 6,33%, yang menunjukkan bahwa investor kini menuntut imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko yang meningkat.
"Hal ini dipertegas dengan kenaikan premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia ke posisi 73 bps, sebuah indikator yang mengonfirmasi adanya persepsi risiko investasi yang lebih besar terhadap Indonesia di mata global," ujar Reza.
Dia menuturkan, meskipun tekanan eksternal cukup berat, pasar modal Indonesia masih memiliki daya tahan yang relatif terjaga. Dominasi investor domestik yang saat ini menguasai 71,5% dari total transaksi menjadi bantalan penting yang menahan kejatuhan lebih dalam.
"Kehadiran investor lokal yang kuat berfungsi sebagai penyeimbang, memastikan bahwa stabilitas pasar nasional tidak sepenuhnya bergantung pada fluktuasi arus modal asing yang tengah bergerak menuju instrumen lindung nilai global," ucapnya.
Data perdagangan pada Senin (26/1) kemarin menunjukkan adanya penjualan bersih atau net sell oleh investor asing sebesar Rp 1,01 triliun. Saham-saham blue chips pun jadi sasaran jual mereka.
Tiga dari empat emiten bank raksasa Indonesia (Big Four) berada dalam urutan teratas daftar jual itu. Ketiga bank itu adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang nilai saham dilepas asingnya mencapai Rp 785,4 miliar; PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar Rp 448,86 miliar, dan; PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar Rp 152,3 miliar.
Sementara pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (27/1), Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat tipis sebesar 4,9 poin atau 0,05% ke level 8.980,23.