Purbaya dan Airlangga Jelaskan Faktor IHSG Anjlok 8%, Minta Investor Tak Panik
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah 718 poin atau anjlok 8% ke level 8.261 poin pada awal berlangsungnya sesi kedua perdagangan hari ini.
Purbaya optimistis IHSG akan kembali menguat karena pemerintah telah memperkuat fondasi ekonomi nasional secara serius. "Tidak usah takut, akan rebound karena pondasi ekonomi kami perbaiki secara betul-betul serius," kata Purbaya di Istana Merdeka Jakarta pada Rabu (28/1).
Ia menilai pelemahan IHSG semata dipicu sentimen rilis Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik atau free float. Situasi tersebut memicu Bursa Efek Indonesia memberlakukan penghentian sementara perdagangan saham atau trading halt.
Purbaya menilai penurunan IHSG merupakan reaksi pasar yang berlebihan karena laporan MSCI tersebut baru bersifat awal dan masih menyisakan waktu eksekusi hingga Mei.
Ia telah berkomunikasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna memastikan seluruh catatan MSCI dapat diselesaikan sebelum batas waktu tersebut.
"Mereka (OJK) bilang ini akan dibereskan sebelum Mei. Jadi ini hanya shock sesaat," Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) 2020-2025 itu.
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Airlangga. Dia mengatakan Bursa Efek Indonesia melakukan evaluasi untuk menindaklanjuti permintaan MSCI.
Ia juga mengatakan bahwa pemerintah akan terus memantau pergerakan IHSG dan menjadwalkan rapat koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta pemangku kepentingan terkait. Airlangga menyebut rapat itu direncanakan berlangsung pada esok hari.
Airlangga turut mengimbau agar para investor tidak panik menyikapi penurunan IHSG saat ini. "Engga perlu panik, kalau saham kan risikonya setiap hari ada yang naik, ada yang turun," ujarnya.
Ia juga menyebut penurunan IHSG tidak berkaitan dengan pengangkatan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. "Tidak ada kaitan, tidak ada," kata Airlangga.