Pasar Modal RI Berisiko Turun Kasta, CIO Danantara Sindir Regulator
Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara, Pandu Sjahrir, menyinggung soal potensi turunnya status pasar modal Indonesia ke kategori Frontier Market. Dia menyebut kondisi tersebut seolah menjadi “cita-cita” regulator pasar modal.
Potensi penurunan status itu merujuk pada pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait hasil konsultasi perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik atau free float. Sejumlah analis menilai kebijakan tersebut berisiko menurunkan status Indonesia dari Emerging Market (Pasar Berkembang) menjadi Frontier Market (Pasar Perintis), yang berpotensi memicu arus keluar dana asing dalam jumlah besar.
“Saya lagi baca daftar Frontier Market, karena kan persiapannya ke Frontier Market sekarang. Negara seperti Bangladesh, Nigeria, Pakistan, Tunisia. Mungkin ini cita-cita dari regulasi, saya enggak tahu,” ujar Pandu dalam agenda Navigating Indonesia’s Next Chapter di Jakarta, Kamis (29/1).
Pandu mengatakan, tindak lanjut atas pengumuman MSCI sepenuhnya berada di tangan regulator. Bagi Danantara, pengumuman tersebut merupakan fakta yang harus diterima. Pandu menilai MSCI telah menjalankan perannya secara tepat.
Sementara fokus utama perusahaan tetap pada aktivitas investasi. Apalagi sekarang status Danantara adalah sebagai investor pasar modal. Menurut Pandu, perusahaan akan menyesuaikan porsi investasi secara proporsional apabila likuiditas pasar menurun akibat perubahan status pasar.
“Kalau terjadi perubahan dari emerging ke frontier market, kira-kira potensi outflow-nya bisa sekitar US$ 25 miliar sampai US$ 50 miliar,” katanya.
Dia juga menyoroti pentingnya komunikasi regulator dengan para pemangku kepentingan. Menurutnya, langkah tersebut menjadi krusial di tengah respons pasar yang sudah berjalan.
Lebih jauh, Pandu menekankan bahwa pasar modal Indonesia harus bersaing di tingkat global. Menurutnya, kompetitor utama Indonesia bukanlah negara-negara di kawasan, melainkan pasar besar seperti India dan Hong Kong.
“Kita harus berkompetisi secara global. Kompetisi kita itu India, Hong Kong. Lihat dua itu sebagai north star dan tiru. Jangan melihat ke pasar yang lebih kecil,” ujarnya.
Langkah Senyap Danantara Masuk ke Pasar Modal RI
Secara diam-diam, Danantara ternyata sudah masuk ke pasar modal Indonesia sejak akhir tahun lalu. Pandu mengatakan, Danantara juga masuk berinvestasi melalui instrumen saham ke Bursa Efek Indonesia (BEI) dan melakukannya setiap hari.
“Kita dari akhir tahun lalu sudah mulai masuk setiap hari ke pasar modal, kita sudah berinvestasi, tapi ya kami diem-diem ajalah, karena kan kalau info semua juga, ya you know the market,” kata Pandu.
Adapun saham-saham yang dilirik oleh Danantara untuk berinvestasi adalah saham yang memiliki fundamental baik dan memiliki likuiditas yang baik.
Namun, kata dia, Danantara juga perlu memilih saham dengan nilai (value) yang baik. “Jadi (saham yang dicari Danantara) fundamental, liquidity and value. Secara fundamental kita harus melihat tiga itu,” ujar Pandu.
Menurut dia, saat ini Danantara melakukan trading dengan jumlah miliaran dolar AS per hari. Namun dia tidak menyebutkan angkanya secara eksplisit. Pandu hanya menyatakan target Danantara trading senilai US$ 8-10 miliar. Ia juga tidak mengungkapkan apa saja saham yang telah dipilih Danantara untuk berinvestasi.