Hasil Rapat OJK, BEI, dan MSCI, Salah Satunya Buka Data Investor Kepemilikan 1%
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama self regulatory organizations (SROs) menyampaikan hasil pertemuan dengan pengelola indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang diadakan secara virtual pada Senin (2/2). Dalam pertemuan itu, otoritas menyatakan untuk segera mengejar target peningkatan batas porsi saham publik atau free float menjadi 15% pada Maret 2026.
Pertemuan itu dihadiri oleh Pejabat Pengganti Ketua sekaligus Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi; Pejabat Pengganti Anggota Dewan Komisioner sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi; Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, serta; Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Samsul Hidayat.
Friderica, yang lebih akrab disapa Kiki, mengatakan bahwa salah satu proposal yang didiskusikan OJK bersama MSCI berkaitan dengan penyesuaian free float menjadi 15% dan keterbukaan data investor di hingga batas maksimal 1%. Data tersebut, menurut dia, sudah dapat dibuka mulai Februari ini.
“Data yang sekarang mau 1% itu kita buka. Itu bahkan Februari sudah bisa. Jadi, ini sekarang sudah 1 Februari, sebentar lagi kita bisa. Kemudian yang ketentuan untuk peningkatan free float dari 7,5% sampai 15% itu kita kejar bisa Maret,” kata Kiki kepada wartawan di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2).
Kiki juga menyinggung pergerakan pasar saham domestik. Adapun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini ditutup turun 4,88% ke level 7.922,73. Meski demikian, menurut Kiki, terdapat sinyal positif di balik penurunan tersebut.
Dia mengatakan, setelah empat hari berturut-turut mencatatkan aksi jual bersih, investor asing pada perdagangan hari ini membukukan net buy sebesar Rp 654,9 miliar.
“Ini berita bagusnya, bahwa ternyata foreign buy hari ini setelah empat hari kemarin net sell dari foreign,” katanya.
Secara regional, Kiki mengatakan sejumlah indeks saham di kawasan Asia juga bergerak melemah. Indeks Kospi Korea Selatan, misalnya, turun cukup dalam hingga 5,4%. Pelemahan juga terjadi di bursa Hong Kong, India, Singapura, dan Cina. Harga emas pun tercatat melemah pada hari yang sama.
Ia menambahkan, saham-saham yang mengalami penurunan mayoritas merupakan saham yang selama ini telah mencatatkan kenaikan harga cukup tinggi. Kondisi tersebut mencerminkan aksi rebalancing portofolio oleh investor.
“Kalau kita lihat, saham-saham yang fundamentalnya bagus justru mengalami kenaikan hari ini. Sementara saham-saham yang turun kebanyakan adalah saham yang harganya sudah naik terlalu tinggi,” kata Kiki.
Mencermati dinamika pasar yang sangat cepat, Kiki menegaskan, OJK bersama seluruh SRO akan memastikan seluruh aktivitas perdagangan berlangsung secara teratur, wajar, dan efisien. Ia juga mengimbau investor pasar modal untuk tetap tenang dan tidak panik.
“Jadi tolong jangan panik ya, tetap tenang dan kita semua disini OJK, SRO, we are doing our job. Kami memastikan semuanya dapat dilaksanakan dengan baik begitu ya,” kata Kiki.