IHSG Rawan Terkoreksi, Analis Rekomendasikan saham CDIA, INDY, ISAT, hingga ARTO

Katadata/Fauza Syahputra
Pengunjung berjalan di dekat layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026).
6/2/2026, 06.46 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG rawan terkoreksi pada perdagangan akhir pekan ini. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan pergerakan IHSG akan disertai dengan munculnya tekanan jual.

Sebelumnya indeks ditutup turun 0,53% ke 8.103 pada Kamis (5/2). Secara teknikal, IHSG saat ini masih berada pada bagian dari wave [x] sehingga masih berpeluang naik untuk menguji 8.328–8.527.

“Namun demikian cermati area koreksi yang berada di 7.094–8.095,” tulis Herditya dalam risetnya, Jumat (6/2). 

MNC Sekuritas menetapkan support IHSG hari ini berada di 7.854 dan 7.654. Sementara resistance terdekat berada di 8.181 dan 8.318.

Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.  

Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.

MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness saham PT Indika Energy Tbk (INDY) akumulasi beli di rentang Rp 3.170–Rp 3.290 dengan target harga di Rp 3.570–Rp 3.820, sementara level stoploss di bawah Rp 3.070. 

Kemudian saham PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) buy on weakness di Rp 324–336 dengan target ke Rp 375–400, dan stoploss jika ke Rp 308.

Sedangkan Phintraco Sekuritas menyebut melemahnya IHSG dipicu sentimen negatif dari penurunan bursa Asia dan koreksi harga emas, meskipun data pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 melampaui ekspektasi. 

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4% pada 2026, sementara Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan berada di kisaran 4,9%–5,7%. Investor selanjutnya menantikan rilis data cadangan devisa Januari 2026 dan indeks harga properti kuartal IV 2025 pada Jumat (6/2).

Ekonomi Indonesia tumbuh 0,86% secara kuartalan (QoQ) pada kuartal IV 2025, lebih tinggi dari estimasi 0,68%, meski melambat dibanding 1,42% pada kuartal sebelumnya. Capaian ini menandai pertumbuhan selama tiga kuartal berturut-turut, walaupun terdampak bencana alam di Sumatra. 

Secara tahunan, ekonomi tumbuh 5,39% (YoY), meningkat dari 5,04% pada kuartal III 2025 dan melampaui perkiraan 5,01%, sekaligus menjadi laju tahunan terkuat sejak kuartal III 2022. Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat 5,11%, sedikit di bawah target pemerintah 5,2%, namun lebih baik dibandingkan 2024 yakni 5,03%.

Sementara itu, Moody’s Ratings menurunkan outlook peringkat Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil pada Kamis (5/2) setelah penutupan pasar, meski tetap mempertahankan peringkat di level Baa2. 

Phintraco Sekuritas menilai perubahan outlook tersebut berdasarkan penilaian adanya penurunan prediktabilitas kebijakan yang berpotensi melemahkan efektivitas kebijakan serta mengindikasikan penurunan kualitas tata kelola.

“Hal ini berpotensi menjadi sentimen negatif pada perdagangan Jumat (6/2). Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi menguji level support di 8.000,” tulis Phintraco dalam analisisnya, Jumat (6/2). 

Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), PT Surya Citra Media Tbk (SCMA), PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Indosat Tbk (ISAT).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila