FTSE Tunda Review Saham RI, Tekanan Bayangi Gerak IHSG Setelah Dibuka Merah
Indeks Harga Saham Gabungan dibuka turun ke level oreksi 4,75 poin atau -0,06% ke level 8.027,12 pada perdagangan Selasa (102). Penurunan terjadi seiring dengan pengumuman terbaru yang dikeluarkan lembaga investasi Financial Times Stock Exchange (FTSE) Russell menunda evaluasi indeks Maret 2026 untuk pasar saham Indonesia.
Sebanyak 248 saham naik, 197 turun, dan 513 tidak bergerak. Nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 748 miliar, melibatkan 1,06 miliar saham dalam 94.210 kali transaksi. Kapitalisasi pasar parkir di level Rp 14.547 triliun.
Pengumuman FTSE menambah ketidakpastian di pasar modal sehingga investor cenderung wait and see yang membuat gerak IHSG berfluktuasi. Setelah dibuka merah, IHSG bergerak stagnan dan bahkan kembali hijau pada perdagangan pukul 9.20 WIB naik 0,50% ke level 8.072.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menyatakan IHSG berpotensi mengalami koreksi lanjutan dalam jangka pendek. Menurut Hendra tekanan psikologis dari penundaan review FTSE, meskipun sifatnya teknis, tetap dapat mendorong pelaku pasar untuk mengambil sikap wait and see, terutama di tengah minimnya katalis positif baru dari global.
“Kondisi ini biasanya mendorong pasar untuk menguji ulang area support terdekat sebagai bentuk pencarian keseimbangan baru," ujar Hendra kepada Antara di Jakarta, Selasa.
Secara teknikal, Ia memproyeksikan IHSG berpeluang menguji kembali ke level terendah kemarin di area 7.863. Level ini menjadi support penting dalam jangka sangat pendek karena mencerminkan area di mana minat beli mulai muncul.
"Selama level tersebut masih mampu dipertahankan, koreksi yang terjadi dapat dikategorikan sebagai pullback yang wajar dalam fase konsolidasi, bukan sinyal pembalikan tren yang lebih dalam," ujar Hendra.
Sementara itu, area 8.100 menjadi resistance psikologis yang cukup kuat. Selain sebagai angka bulat yang sensitif secara psikologis, level ini juga merupakan area distribusi sebelumnya, di mana tekanan jual cenderung kembali meningkat.
Dalam pengumuman terbaru, FTSE menyatakan tidak ada rebalancing indeks pada April ini setelah menilai masih terdapat ketidakpastian terkait reformasi pasar modal Indonesia. Salah satu yang menjadi sorotan adalah adanya ketikdapastian dalam penentuan free float dan potensi gangguan pasar selama proses reformasi berlangsung.
FTSE menyatakan akan terus memantau perkembangan pasar modal RI dan mengumumkan kembali review kuartalan pada Juni 2026. Pengumuman selanjutnya dijadwalkan pada 22 Mei 2026.
“Mengikuti masukan dari Komite Penasihat Eksternal FTSE Russell dan mempertimbangkan potensi dampak negatif pada volume perdagangan serta ketidakpastian dalam pasar RI menentukan persentase free float,” tulis FTSE dalam pengumumannya, Selasa (10/2).
Dampak utama dari kebijakan itu yakni seluruh perubahan indeks untuk sementara tidak diterapkan. Penundaan tersebut mencakup penambahan saham baru, baik dari IPO maupun hasil evaluasi, serta penghapusan saham dari hasil review.
Selain itu, perubahan klasifikasi ukuran emiten (large, mid, dan small cap), penyesuaian jumlah saham beredar serta bobot investasi juga ditangguhkan. Aksi korporasi berupa rights issue untuk sementara tidak dilakukan dalam perhitungan indeks. Meski demikian, sejumlah ketentuan tetap berjalan. Di antaranya penghapusan saham akibat merger, akuisisi, suspensi berkepanjangan, bangrkut, atau delisting tetap diproses sesuai aturan.