Manuver INET Rambah Bisnis Data Center hingga Siapkan Modal Jumbo Rp 4,2 Triliun

Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET)
PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET)
10/2/2026, 15.04 WIB

Emiten yang bergerak di bidang telekomunikasi PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) mengumumkan aksi korporasi dengan masuk ke bisnis data center. Direktur Utama INET, Muhammad Arief mengatakan perusahaan mendirikan anak usaha baru bernama PT Sinergi Inti Data Indonesia (SIDI). 

Arief menjelaskan entitas baru ini nantinya akan bergerak di bidang pengolahan data dan aktivitas konsultasi keamanan informasi. INET akan menyetorkan modal sebesar 18.700 lembar saham dengan nilai nominal Rp 1.000.000 per saham. Dengan demikian total modal yang ditempatkan dan disetor oleh INET kepada SIDI mencapai Rp 18,7 miliar.

Struktur permodalan SIDI juga melibatkan PT Inti Pusat Data Nusantara yang menyetor 3.300 lembar saham dengan nilai nominal yang sama atau setara Rp 3,3 miliar. Apabila dikalkulasikan, total modal ditempatkan dan disetor SIDI mencapai 22.000 lembar saham dengan nilai nominal Rp 1.000.000 per saham atau seluruhnya sebesar Rp 22 miliar.

“Fakta material ini merupakan salah satu langkah strategis INET untuk ekspansi, dengan mendirikan anak usaha yang akan berfokus untuk menjalankan usaha utamanya sebagai data center,” tulis Arief dalam keterbukaan informasi BEI, Selasa (10/2). 

Siapkan Belanja Modal Jumbo Rp 4,2 Triliun pada 2026

Seiring dengan pendirian bisnis data center, manajemen INET menyiapkan belanja modal atau capital expenditure jumbo sebesar Rp 4,2 triliun. Arief mengatakan, kebutuhan dana tersebut akan dipenuhi dari pendanaan internal, yang berasal dari aksi right issue senilai Rp 3,2 triliun serta penerbitan obligasi sebesar Rp 1 triliun.  

Lebih lanjut, Arief menjelaskan dana hasil penerbitan obligasi akan digunakan untuk memperkuat infrastruktur sekaligus memperluas diversifikasi jaringan INET, khususnya di wilayah Kalimantan Barat. Perseroan menargetkan surat utang tersebut dapat diterbitkan pada awal 2026.  

Sementara itu, dana segar dari rights issue akan digunakan untuk mempercepat ekspansi jaringan Fiber To The Home (FTTH) berkecepatan tinggi berbasis teknologi Wi-Fi 7. Sebagian besar dana, yakni sekitar Rp 2,8 triliun akan disalurkan kepada anak usaha PT Garuda Prima Internetindo (GPI) untuk menambah sekitar 2 juta pelanggan baru di Bali dan Lombok.  

Selain itu, sekitar Rp 213,44 miliar dialokasikan untuk melunasi biaya sewa jaringan kabel bawah laut. Adapun sekitar Rp 135 miliar akan digunakan sebagai modal kerja pembangunan jaringan FTTH di Pulau Jawa melalui anak usaha INET. Sisa dana rights issue akan dimanfaatkan untuk pengembangan layanan, aktivitas pemasaran, serta kebutuhan operasional dan biaya overhead lainnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila