Gelombang IPO Sepi, Sejumlah Calon Emiten Tahan Rencana Melantai di Bursa

vecteezy.com/ecaterina tolicova
Ilustrasi initial public offering (IPO) atau penawaran saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI).
23/2/2026, 12.40 WIB

Gelombang initial public offering (IPO) alias pencatatan saham perdana pada 2026 diperkirakan tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Sejumlah calon emiten memilih menunda IPO pada awal tahun ini.

Padahal, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan bahwa sampai hari ini ada delapan perusahaan dalam pipeline atau antrean pencatatan saham di pasar modal nasional. Jumlah itu bertambah dari laporan BEI bulan lalu yang menyebut ada tujuh calon emiten yang bersiap untuk melantai di bursa.

Merespons sepinya IPO, Plt Direktur Utama BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Fifi Virgantaria mengatakan, salah satu ketakutan calon emiten untuk melantai di BEI adalah terkait dengan aturan baru free float. Selain itu, pemeriksaan terhadap beberapa emiten juga memunculkan kekhawatiran di pasar untuk IPO.

“Soal free float yang harus lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, ini kan jadi PR (pekerjaan rumah) bersama juga gitu, sih,” kata Fifi ketika ditemui di Jakarta, dikutip Senin (23/2). 

Sepinya IPO pada kuartal pertama tahun ini sebagai imbas pengumuman MSCI yang membekukkan pasar modal RI untuk rebalancing Februari 2026. Tak hanya itu, kabar terburuknya adalah pasar RI bisa turun kasta ke Frontier Market alias Pasar Perintis.

Frontier Market adalah negara berkembang dengan pasar modal tahap awal yang kurang likuid dan berisiko tinggi dibandingkan dengan Emerging Market atau Pasar Berkembang, namun menawarkan potensi pertumbuhan tinggi. Contoh negara yang masuk Frontier Market yakni Vietnam, Nigeria, Kazakhstan, Kroasia, Bangladesh, Kenya, Maroko, Bahrain, Yordania, dan Oman.

BRI Danareksa Sekuritas menargetkan enam perusahaan untuk melantai di bursa melalui IPO. Namun, sejumlah calon emiten saat ini masih bersikap hati-hati dan menunggu kejelasan kebijakan otoritas. Ia juga mengaku ada kemungkinan untuk memangkas target IPO seiring dengan kepastian rampungnya kebijakan dari regulator hingga Mei 2026 ini.  

“Jadi kalau ngomong berapa (target IPO) masih agak abu-abu sekarang. Setidaknya kami nunggu sampai MSCI kelihatan dulu, baru kami lanjut lagi” ujar Fifi.

Seiring dengan itu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) tengah melakukan sejumlah pembenahan terhadap pasar modal nasional. Langkah itu demi memperkuat transparansi dan integritas bursa saham Indonesia. 

Sebut saja misalnya dengan kenaikan ketentuan minimum free float perusahaan tercatat dari 7,5% menjadi 15%. Selain itu, bursa bakal mengumumkan data kepemilikan saham di atas 1% yang akan disampaikan setiap bulan, hingga membuka ultimate beneficial owner (pemilik manfaat akhir).

Sementara dari sisi infrastruktur data, KSEI melakukan penyempurnaan klasifikasi investor pada sistem Single Investor Identification (SID). Saat ini, sistem KSEI mencatat sembilan jenis investor. Ke depan, lembaga itu akan menambahkannya hingga menjadi 28 klasifikasi investor, termasuk kategori investor korporasi dan kategori lainnya di dalam SID.

8 Perusahaan Antre IPO

Pada awal pekan ini, BEI melaporkan bahwa ada delapan perusahaan calon emiten yang tengah mengantre untuk IPO. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, berdasarkan klasifikasi aset perusahaan yang mengacu pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017, terdapat lima entitas dengan aset skala besar atau yang memiliki aset di atas Rp 250 miliar bersiap untuk IPO. 

Sisanya sebanyak tiga calon emiten adalah perusahaan dengan aset skala menengah atau aset antara Rp 50 miliar sampai Rp 250 miliar. Jumlah tersebut bertambah satu perusahaan dibandingkan pipeline yang diumumkan pada 19 Januari lalu yang mencatatkan tujuh calon emiten.

Berikut daftar lengkap calon perusahaan yang mengantre IPO berdasarkan sektornya: 

  • 2 Perusahaan dari sektor material dasar 
  • 0 Perusahaan dari sektor konsumsi siklikal 
  • 1 Perusahaan dari sektor konsumsi bukan siklikal 
  • 1 Perusahaan dari sektor energi
  • 2 Perusahaan dari sektor keuangan 
  • 0 perusahaan dari sektor kesehatan 
  • 1 perusahaan dari sektor industri 
  • 0 perusahaan dari sektor infrastruktur 
  • 0 Perusahaan dari sektor properties dan real estate 
  • 0 perusahaan dari sektor teknologi 
  • 1 perusahaan dari sektor transportation dan logistik
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila