Alfamart (AMRT) Buka Suara setelah Diminta Menkop Setop Buka Gerai di Desa

Katadata
Pemandangan umum gerai ritel Alfamart.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
24/2/2026, 17.14 WIB

Manajemen PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) merespons imbauan pemerintah yang meminta ritel modern tidak lagi menambah gerai baru di wilayah pedesaan. Imbauan tersebut sebelumnya disampaikan melalui Kementerian Koperasi.

Pengelola jaringan minimarket Alfamart itu menyatakan akan mengikuti ketentuan yang berlaku sepanjang kebijakan tersebut telah ditetapkan secara resmi.

Direktur AMRT, Solihin mengatakan, sebagai perusahaan terbuka, perseroan berkomitmen untuk mematuhi seluruh regulasi pemerintah, termasuk terkait pembatasan ekspansi gerai. “Kalau memang ada aturannya, ya pasti kita tidak akan melanggar aturan itu. Aturan ya, kan?,” ujar Solihin kepada Katadata, Selasa (23/2).

Adapun hingga saat ini belum terdapat aturan resmi yang melarang pembukaan gerai ritel modern di desa. Imbauan tersebut sebelumnya disampaikan Menteri Koperasi Ferry Juliantono dalam sebuah forum diskusi pada bulan lalu.

Menurut Solihin, selagi belum ada perintah resmi yang melarang pembukaan gerai, perseroan tetap akan membuka sebagai langkah ekspansi.

“Kalau aturannya (yang melarang) enggak ada dan memang pemerintah daerah (mengizinkan) boleh kita buka di sana, ya kita akan buka,” kata dia lagi.

Pemerintah tampaknya tengah menyusun ulang peta perdagangan ritel di desa. Kemenkop meminta jaringan ritel modern seperti AMRT dan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) yang merupakan pengelola Indomaret untuk tidak lagi menambah gerai baru di wilayah pedesaan. Imbauan juga berlaku untuk jaringan ritel modern lainnya.  

Imbauan tersebut disampaikan Menkop Ferry sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) agar menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat desa. Pemerintah ingin koperasi mengambil peran utama dalam distribusi barang kebutuhan sehari-hari di tingkat lokal.

“Jadi saya pernah ketemu dengan yang punya ritel modern yang sebelah sana, saya bilang setop bikin ritel modern di desa, biarkan di desa itu si koperasi desa yang jualan ritel barang-barangnya,” kata Ferry dalam kanal YouTube IDN Times, dikutip Jumat (20/2). 

Ferry menilai terdapat perbedaan mendasar antara ritel modern dan koperasi desa, terutama dalam hal aliran keuntungan. Jika gerai modern beroperasi di desa, keuntungan usaha dinilai lebih banyak mengalir ke pemegang saham di kota besar. 

Sebaliknya, koperasi memungkinkan perputaran uang tetap berada di lingkungan desa dan dinikmati kembali oleh masyarakat setempat.

Meski demikian, pemerintah tidak sepenuhnya menutup ruang bagi ritel modern. Produk-produk yang belum dapat diproduksi koperasi tetap bisa dipasok oleh peritel besar. Di saat yang sama, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di desa didorong untuk memproduksi kebutuhan rumah tangga seperti sabun, sampo, deterjen, kecap, saus, hingga sambal. 

Pemerintah menjanjikan dukungan ekosistem, mulai dari kurasi hingga pembiayaan, guna mempercepat terbentuknya koperasi produktif yang dikelola generasi muda.

Pada perdagangan intraday Selasa (24/2) pukul 10.18 WIB, saham AMRT turun tipis 0,28% ke level Rp1.795 per saham. Dalam tiga bulan terakhir pergerakan sahamnya cenderung volatil dengan pelemahan 1,91% dan terkoreksi 28,49% secara tahunan.

Berdasarkan paparan publik pada Mei 2025, perseroan mengoperasikan 23.277 gerai ritel dan 359 gerai stock point melalui entitas anak.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri