Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup naik pada perdagangan Rabu (25/2). ditopang kenaikan saham teknologi, teutama Nvidia dan Oracle.
Indeks S&P 500 naik 0,8%, Nasdaq Composite melesat 1,3%, dan Dow Jones Industrial Average bertambah 307,77 poin atau 0,6%.
Kenaikan terjadi seiring lonjakan saham Nvidia lebih dari 1% menjelang rilis laporan keuangan yang dijadwalkan setelah penutupan pasar. Kinerja Nvidia menjadi sorotan di tengah upaya investor menyesuaikan kembali valuasi saham teknologi yang sebelumnya tinggi serta meningkatnya keraguan terhadap besarnya belanja modal kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan hyperscaler.
Laporan keuangan tersebut juga dirilis bersamaan dengan hasil kinerja raksasa perangkat lunak Salesforce dan Snowflake.
“Apakah kepercayaan pasar ini dapat bertahan dalam beberapa hari ke depan sebagian akan bergantung pada kinerja Nvidia,” kata Chief Investment Officer untuk kawasan Amerika sekaligus Global Head of Equities UBS Ulrike Hoffmann-Burchardi, dikutip dari CNBC, Kamis (26/2).
Ia menilai peningkatan belanja modal hyperscaler dalam beberapa pekan terakhir membuat pasar berekspektasi Nvidia mampu membukukan proyeksi pendapatan di atas konsensus dengan pertumbuhan penjualan yang solid.
Di lain sisi, Chief Investment Officer Angeles Investment Advisors Michael Rosen mengingatkan investor agar tidak meremehkan CEO Nvidia Jensen Huang yang dinilai mantap menjalankan strategi. Namun, ia melihat reli saham Nvidia yang telah terjadi selama empat hari berturut-turut juga membuka peluang bagi pelaku pasar untuk merealisasikan keuntungan.
Saham perusahaan AI lainnya yaitu Oracle melonjak 3% setelah memperoleh kenaikan peringkat dari Oppenheimer. Lembaga tersebut menilai profil risiko dan imbal hasil Oracle menjadi lebih menarik setelah koreksi harga sebelumnya.
Sektor perangkat lunak melanjutkan penguatan dari sesi sebelumnya. ETF iShares Expanded Tech-Software Sector (IGV) yang naik 2% pada perdagangan Selasa kembali menguat 2% pada Rabu, didorong kenaikan saham Palantir Technologies dan Microsoft. Meski demikian, saham Workday melemah setelah perusahaan merilis proyeksi pendapatan yang lebih rendah dari ekspektasi.
Rosen menilai kekhawatiran investor terhadap sektor perangkat lunak dan AI cenderung berlebihan. Menurut dia, pasar kini mulai lebih selektif dalam memilih saham yang memiliki fundamental lebih kuat, setelah sebelumnya cenderung menyamaratakan seluruh saham dalam satu kategori.
Di sisi lain, pelaku pasar turut mencermati ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden Donald Trump sebelumnya mengancam menaikkan tarif global hingga 15%, namun pemerintah AS pada Selasa menerapkan tarif impor sebesar 10%.
Dalam pidato kenegaraan pada Selasa malam, Trump menyoroti kondisi ekonomi AS serta mengusulkan akses rekening pensiun yang didukung pemerintah bagi pekerja. Ia juga kembali menyerukan pelarangan investor institusi besar membeli rumah tapak.