Danantara Kantongi Pemenang Waste to Energy (WtE) Bali-Bekasi, Intip Bocorannya
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara segera merampungkan seleksi pemenang tender proyek Waste to Energy (WtE) untuk gelombang pertama. Pada tahap pertama proyek WtE akan berjalan di empat kota yaitu Bali, Bekasi, Bogor dan Yogyakarta.
Direktur Investasi Danantara Fadli Rahman mengatakan saat ini komite seleksi yang berisikan 60 tokoh tengah memastikan pemenang yang terpilih memenuhi kriteria yang ditetapkan. Nama pemenang rencananya akan diumunkan pada pekan kedua Maret, sedikit mundur dari rencana awal lantaran terdapat beberapa hal teknis yang perlu dirampungkan.
Menurut Fadli penentuan pemenang untuk dua kota yaitu Bekasi dan Bali sudah di tahap akhir. Sementara itu untuk Bogor dan Yogyakarta masih dalam proses lantaran ada beberapa hal yang masih harus difinalisasi.
“Nanti akan diumumkan Pak Rosan pada Maret,” ujar Fadli dalam diskusi terbatas, Kamis (26/2).
Fadli menjelaskan terdapat sejumlah syarat yang harus dipenuhi oleh perusahaan pemenang tender. Di antara syarat yang dibutuhkan adalah pemenuhan administrasi, kemampuan dalam hal latar belakang dan memastikan kualitas rancangan dan penanganan sisi lingkungan. Danantara juga menyebut perusahaan pemenang juga harus memperlihatkan kemampuan lokal partner yang dilibatkan.
“Pemenang sesuai dengan Perpres adalah memiliki kemampuan operasional, kemampuan finansial sangat baik dan punya manajemen risiko yang baik” ujar Fadli.
Tak hanya kesanggupan peserta, Danantara menurut Fadli juga melihat apakah perusahaan peserta melibatkan mitra lokal dalam proposal. Namun menurut dia mitra lokal yang diajak tidak perlu memiliki pengalaman dalam pengelolaan sampah.
Fadli menjelaskan aspek yang diperlukan dari mitra lokal berkaitan dengan perizinan dan kemampuan dalam melakukan sosialisasi. Mitra lokal juga dibutuhkan dalam memahami budaya masyarakat setempat.
Meski begitu dia menyatakan perusahaan lokal tidak perlu memiliki pengalaman di bidang sampah. Ia mencontohkan perusahaan yang bergerak di bidang batu bara bisa saja ikut menjadi mitra karena juga mengalami pengalaman dalam instalasi termal.
“Tidak harus perusahaan yang bergerak di WTE karena sama saja,” ujar Fadli lagi.
Saat ini di pasar modal terdapat beberapa nama perusahaan lokal yang disebut menjadi salah satu mitra dari proyek WtE tetapi tidak memiliki pengalaman di bidang pengelolaan sampah. Beberapa di antaranya adalah PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) dan PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI). Adapun perusahaan lain seperti PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) dan PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI) yang juga disebut terlibat dalam tender memiliki bisnis pengolahan sampah.
Fadli tidak mau berkomentar soal nama beberapa emiten yang disebut-sebut terlibat proyek WtE. Ia pun tak merinci perusahaan lokal mana saja yang berpotensi menjadi mitra dalam proyek WtE. Menurut Fadli pengumuman nama-nama akan disampaikan secara terbuka pada waktunya.
Lebih jauh Fadli mengatakan secara keseluruhan dari 24 perusahaan peserta tender yang ikut hanya 9 perusahaan yang mengirimkan proposal pada gelombang pertama. Dari 9 perusahaan itu terdapat satu perusahaan yang tidak menyertakan mitra lokal sehingga tidak lolos.
Selanjutnya untuk tahap kedua untuk 9 kota berikutnya rencananya akan dimulai setelah lebaran. Sedangkan pengumuman pemenang tahap dua akan dilakukan pada pertengahan 2026.
Adapun tender untuk gelombang kedua tidak hanya akan diikuti oleh 24 perusahaan namun berpotensi diikuti oleh perusahaan lain. Danantara menurut Fadli akan membuka pendaftaran baru untuk perusahaan yang akan bergabung sehingga potensi mendapatkan perusahaan dengan berbagai pengalaman lebih terbuka.