Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia tengah meluncurkan strategi 2026 untuk memastikan keberlanjutan transformasi usai pemegang saham mayoritas Garuda itu menyuntik Rp 23 triliun pada tahun lalu.
Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, menyampaikan tahun 2025 menjadi fase penguatan fundamental dan stabilisasi operasional Garuda Indonesia.
Pada periode ini, Danantara menilai 2025 sebagai tahap konsolidasi untuk memperkuat fondasi GIAA dan fokus pada peningkatan kesiapan armada secara bertahap, penguatan struktur permodalan, hingga penataan jaringan dan kapasitas penerbangan dengan pendekatan yang lebih hati-hati untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.
“Langkah-langkah tersebut dilakukan secara disiplin dan terukur, dengan memastikan seluruh proses berjalan sesuai tata kelola perusahaan yang baik serta prinsip komersial yang sehat,” kata Rohan dalam Exclusive Group Interview di Gedung Danantara, Jakarta, Kamis (26/2).
Pemulihan Armada hingga Struktur Keuangan
Sepanjang 2025, Garuda Indonesia melalui Garuda Group menjalani fase peningkatan kesiapan teknis armada dengan melakukan perawatan dan reaktivasi pesawat.
Langkah ini juga merupakan kelanjutan dari penggunaan dana penyertaan modal sebelumnya, di mana sekitar 63% dari injeksi modal senilai Rp 15 triliun dari total Rp23 triliun dialokasikan untuk Citilink.
Rohan mengatakan itu dana itu terutama digunakan untuk kebutuhan perawatan armada yang sempat tertunda selama pandemi Covid-19. Ia mengatakan banyak pesawat Citilink yang tidak beroperasi dan jadwal servis menumpuk.
Tanpa dukungan pendanaan jumbo dari Dannatara, kata Rohan, sebagian besar armada bahkan berpotensi tidak dapat beroperasi karena kewajiban perawatan yang belum dipenuhi.
“Jadi udah numpuk, pesawatnya cukup banyak yang harus di service itu yang lagi dilakukan,” kata Rohan.
Lebih lanjut, Rohan juga mengaku hingga saat ini seluruh armada Garuda Indonesia dan Citilink belum sepenuhnya selesai menjalani perawatan sehingga jumlah pesawat yang dapat beroperasi masih terbatas. Kondisi ini, menurutnya, juga dialami maskapai swasta setelah pandemi Covid-19, meski dengan rasio yang berbeda.
Di samping itu dari total penyertaan modal sekitar Rp 23 triliun, sebagian dana lainnya digunakan Garuda Indonesia dan sekitar Rp 3 triliun untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran bahan bakar pesawat yang tertunda. Hal itu karena selama periode pandemi aktivitas penerbangan menurun dan pendapatan terbatas.
“Tetapi, sisi lainnya, semester 2 tahun 2025, traffic penumpangnya Garuda naik 10,5% dari semester pertama 2025,” kata Rohan.
Merger dengan Pelita Air
Kemudian Danantara Indonesia menargetkan rencana penggabungan usaha atau merger maskapai PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dengan Pelita Air ditargetkan rampung semester pertama 2026.
Sebelumnya Danantara menyebut merger kedua maskapai itu rampung pada kuartal pertama 2026 ini. Usai aksi korporasi itu, Garuda Indonesia akan menjadi holding maskapai pelat merah.
Rohan mengatakan rencana holdingisasi maskapai antara Garuda Indonesia, Citilink, dan Pelita Air bertujuan meningkatkan efisiensi operasional dan menjadi satu integrasi.
Melalui skema itu, nantinya ketiga maskapai akan memiliki sistem pemesanan satu pintu, hingga program loyalitas yang terintegrasi seperti Garuda Points dan mileage, hingga sistem registrasi penumpang yang sama.
Tak hanya itu, penggabungan ini juga nantinya memungkinkan pengaturan kursi penerbangan lebih fleksibel antar maskapai dalam satu grup. Dengan sistem itu, penumpang dari penerbangan Garuda Indonesia yang kelebihan pemesanan (overbook) dapat langsung dialihkan ke penerbangan Citilink atau Pelita Air.
Ia menyebut skema ini dinilai lebih efisien dibandingkan harus mengalihkan penumpang ke maskapai lain di luar grup seperti Batik Air atau Lion Air.
Selain itu, penggabungan ekosistem maskapai juga akan memperbesar total armada di bawah Garuda Indonesia.
“Seperti itu tujuannya, jadi optimalisasi dari sistem booking satu, kedua jumlah pesawat jadi lebih banyak kalau bergabung,” ujar Rohan.
Ia juga mengatakan penggabungan maskapai juga untuk mengoptimalkan rute yang sama yang saat ini dilayani beberapa maskapai sekaligus. Misalnya rute ke Surabaya semuanya ada di pesawat Citilink, Pelita Air, dan Garuda Indonesia.
Menurut Rohan, apabila masing-masing penerbangan hanya terisi sekitar 60% dan melalui penggabungan dalam satu holding penerbangan ini bisa lebih optimal menjadi satu penerbangan.
“Jadi kapannya hopefully ya segera ya di semester I 2026 ya karena itu sangat krusial untuk mendapatkan extra income tanpa menambah pesawat,” ucap Rohan.