Danantara–INA Guyur Rp 3,37 T ke Pabrik Chlor Alkali Milik TPIA, Intip Prospekya
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) bersama Danantara Indonesia dan Indonesia Investment Authority (INA) meneken Conditional Share Subscription Agreement (CSSA) demi memperkuat kapasitas produksi Caustic Soda dan Ethylene Dichloride (EDC). Dalam perjanjian itu, Danantara dan INA akan mengguyur modal sebesar US$ 200 juta atau sekitar Rp 3,37 triliun.
Pendanaan yang diperoleh TPIA selanjutnya akan digunakan untuk pembangunan fasilitas industri strategis Chlor Alkali – Ethylene Dichloride (CA-EDC) yang berlokasi di Cilegon, Banten. Proyek tersebut akan dikelola melalui anak usaha TPIA, Chandra Asri Alkali (CAA) dan direncanakan mulai beroperasi pada tahun 2027.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menyampaikan perjanjian yang ditandatangani tersebut mencerminkan komitmen Danantara Indonesia dalam memperkuat sektor-sektor industri strategis nasional. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi bahan kimia dasar domestik serta mengurangi ketergantungan impor bagi industri nasional.
Menurut Pandu langkah ini bertujuan untuk mendorong industri dengan nilai tambah tinggi, membuka lebih banyak lapangan kerja, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Kolaborasi ini tidak hanya sebagai respons terhadap tantangan ketergantungan impor, tetapi juga sebagai langkah nyata untuk mempercepat hilirisasi, kunci penggerak ekonomi Indonesia,” ucap Pandu dalam keterangannya, Selasa (3/3).
Sementara itu Presiden Direktur dan CEO Chandra Asri Group, Erwin Ciputra, mengatakan dukungan tersebut mencerminkan kepercayaan terhadap kemampuan perseroan dalam mengembangkan fasilitas tersebut. Ia juga menyebut proyek CA-EDC diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor bahan kimia strategis secara signifikan, sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok nasional dan mendorong program hilirisasi industri.
Selain itu, pembangunan dan operasional fasilitas tersebut juga diproyeksikan membuka sekitar 3.000 lapangan kerja pada masa konstruksi. “Dan 250 peluang kerja baru pada saat operasional serta memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat dan industri di Cilegon dan sekitarnya,” katanya.
Kapasitas produksi soda kaustik di dalam negeri diharapkan mampu memperkuat substitusi impor sekaligus menjaga ketahanan pasokan domestik. Sementara itu, produksi Ethylene Dichloride (EDC) tidak hanya memenuhi kebutuhan industri nasional, tetapi juga berpotensi meningkatkan ekspor dan menambah devisa seiring meningkatnya daya saing industri kimia Indonesia.
Pembangunan pabrik Chlor Alkali–Ethylene Dichloride (CA-EDC) memiliki nilai proyek sekitar US$ 800 juta atau senilai Rp 13,5 triliun dan masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) yang berfokus pada penyediaan bahan baku penting bagi industri hulu hingga hilir. Caustic Soda digunakan sebagai bahan baku dalam produksi sabun dan deterjen, pemurnian alumina, serta pembuatan kertas. Adapun EDC menjadi bahan baku utama bagi industri konstruksi dan pengemasan.
Pada tahap pertama, pabrik CA-EDC akan memproduksi sekitar 400.000 ton Caustic Soda kering per tahun dan 500.000 ton Ethylene Dichloride per tahun. Perseroan mengembangkan fasilitas ini dengan teknologi modern dan standar keselamatan industri yang tinggi guna memastikan efisiensi operasional, keandalan pasokan, serta penerapan prinsip keberlanjutan.
Pengganti Sementara Ketua Dewan Direktur Indonesia Investment Authority (INA), Eddy Porwanto, mengatakan investasi tersebut mencerminkan mandat investasi jangka panjang INA dalam mengarahkan modal ke sektor-sektor prioritas nasional.
Menurutnya kolaborasi ini bertujuan membangun fondasi permodalan yang kuat untuk mendukung pengembangan kapasitas industri bahan baku strategis secara berkelanjutan.
“Upaya ini diharapkan dapat mendorong hilirisasi, meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, serta memperkuat daya saing dan ketahanan industri nasional,” ujarnya.