Ada Nama Megawati hingga Pemerintah Norwegia di Saham BKSL, Intip Kinerjanya
Struktur pemegang saham PT Sentul City Tbk (BKSL) menjadi sorotan setelah Bursa Efek Indonesia membuka data kepemilikan saham di atas 1%. Sejumlah nama mencuat dalam daftar tersebut, mulai dari investor lokal hingga investor institusi global, yang memperkaya komposisi kepemilikan emiten properti itu.
Salah satu nama yang tercatat adalah Megawati Taufiq, yang masuk sebagai pemegang saham BKSL. Tak hanya itu, institusi asing Government of Norway juga tercatat memiliki porsi saham di atas 1% di perusahaan tersebut.
Diketahui kepemilikan Megawati di saham BKSL usai Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka data penghuni saham hingga 1%. Berdasarkan data per 27 Februari 2026, tercatat nama Hj Megawati Taufiq memiliki sebanyak 1,97 miliar saham atau 1,18% saham BKSL.
Di samping itu, pemegang saham terbesar dipegang oleh PT Sakti Generasi Perdana dengan kepemilikan mencapai 109,462 miliar saham atau setara 65,27% dari total saham BKSL. Di posisi berikutnya ada Stella Isabella Djohan menguasai 11,23 miliar saham atau sekitar 6,70%.
Kemudian PT Bukit Wahana Gemilang memiliki 3,60 miliar atau 2,15% dari total saham perseroan. Selain itu, terdapat pula investor institusi global Government of Norway yang memiliki 1,94 miliar saham atau sekitar 1,16% di BKSL.
Lalu PT Samuel Sekuritas Indonesia tercatat memegang 9,24 miliar saham atau 5,51%. Adapun Samuel Sekuritas sempat menargetkan saham BKSL bisa ke Rp 200.
Target yang disematkan oleh kode broker IF itu melihat potensi kenaikan BKSL sebesar 125%. Rekomendasi tersebut didasarkan pada valuasi diskon 75% terhadap Revised Net Asset Value (RNAV).
Samuel Sekuritas membandingkan kinerja pendapatan BKSL yang hampir dua kali lipat dari Rp 951 miliar pada 2019 menjadi Rp 1,7 triliun pada 2023. Hal itu karena kombinasi penurunan suku bunga dan kualitas pengembangan properti yang solid diperkirakan akan menjadi katalis utama pertumbuhan BSKL.
“Risiko terhadap rekomendasi kami: penghentian insentif PPN 11%, keterlambatan kemajuan infrastruktur, pelemahan rupiah, dan pertumbuhan PDB yang lebih lemah,” demikian tertulis dalam riset BKSL pertengahan tahun lalu.
Dalam risetnya, Samuel Sekuritas memproyeksikan pertumbuhan pendapatan rata-rata tahunan pada periode FY25–26F sebesar 146% serta pertumbuhan laba per saham (EPS) mencapai 1.284%.
Namun pada perdagangan saham Selasa (3/2) kemarin, saham BKSL terpantau turun 0,82% ke Rp 121 dan sudah anjlok 15,38% dalam seminggu terakhir. Adapun kapitalisasi pasarnya sebesar Rp 20,29 triliun.
Bila merujuk laporan keuangan, BKSL membukukan laba bersih sebesar Rp 71,94 miliar hingga akhir September 2025. Angka tersebut melonjak 161,40% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 27,52 miliar.
Kenaikan laba ditopang oleh pertumbuhan pendapatan yang meningkat 96,24% menjadi Rp 836,97 miliar hingga kuartal ketiga 2025, dari Rp 426,42 miliar pada periode sebelumnya.