Indeks Saham Korsel KOSPI Anjlok 12%, Bursa Asia Lain Juga Merosot
Indeks saham Korea Selatan, KOSPI, anjlok 12,24% dalam perdagangan intraday pada Rabu (4/3), sehingga kembali mengancam level psikologis 5.000 poin. Indeks bahkan sempat merosot hingga 12,64%, menjadi penurunan intraday paling dalam sepanjang sejarah, melampaui koreksi saat serangan teroris 11 September 2001 yang mencapai 12,02%.
Pelemahan ini memperpanjang aksi jual tajam dari sesi sebelumnya, di tengah tekanan pasar Asia akibat eskalasi perang di Timur Tengah yang membebani sentimen investor global.
Bursa Korsel, Korea Exchange (KRX), sempat menghentikan sementara perdagangan KOSPI melalui mekanisme circuit breaker. Langkah serupa juga diterapkan pada indeks KOSDAQ yang ditutup turun 14% ke level 978,44.
“Penurunan KOSPI secara umum dapat dikaitkan dengan konsentrasi pada saham-saham tertentu yang mendominasi pasar Korea,” ujar Direktur Riset Ekuitas Asia Morningstar, Lorraine Tan, dikutip dari CNBC, Rabu (4/3).
Menurut dia, koreksi harga saham dipicu aksi ambil untung setelah reli kuat di tengah sentimen risk-off. Selain itu, muncul kekhawatiran bahwa laju adopsi pusat data kecerdasan buatan (AI) dapat melambat karena biaya energinya jauh lebih tinggi dibandingkan pusat data konvensional.
Senada, ahli strategi pasar global Yuanta Securities, Daniel Yoo, menyebut pasar saham Korea Selatan sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak. Guncangan geopolitik di Timur Tengah kerap memicu volatilitas jangka pendek.
Sebagai negara pengimpor minyak utama, perekonomian Korea yang bertumpu pada sektor manufaktur rentan terhadap lonjakan biaya energi. Kenaikan harga minyak berpotensi menekan sektor industri dan ekspor.
Yoo menilai koreksi KOSPI lebih merupakan penyesuaian setelah reli panjang, bukan perubahan fundamental prospek pasar. Ia memperkirakan stabilitas akan kembali setelah harga minyak mereda.
Performa Indeks Saham Bursa Asia Lainnya
Tekanan tidak hanya terjadi di Korea Selatan. Sejumlah bursa Asia juga bergeak di zona merah. Indeks Nikkei Jepang turun 3,74%. Di Hong Kong, indeks bursa saham Hang Seng Index terkoreksi 2,76%. Sementara di Cina, Shanghai Composite Index melemah 1,11%.
Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga rontok 5,62% ke level 7.493 pada perdagangan intraday pukul 14.17 WIB, Rabu (4/3). Volume transaksi tercatat 44,48 miliar saham dengan nilai Rp 23,75 triliun, sementara kapitalisasi pasar turun menjadi Rp 13.476 triliun.
Pelemahan IHSG dipicu sejumlah sentimen negatif, termasuk kabar dari Fitch Ratings yang menurunkan outlook peringkat utang Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Meski demikian, lembaga tersebut mempertahankan peringkat long-term foreign currency issuer default rating (IDR) atau peringkat gagal bayar penerbit mata uang asing jangka panjang Indonesia di level BBB.
Dalam laporan yang dirilis Rabu (4/3), Fitch menyebut penurunan outlook itu dipicu meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi di tengah sentralisasi pengambilan keputusan.
“Hal ini dapat melemahkan prospek fiskal jangka menengah, merusak sentimen investor, dan memberikan tekanan pada bantalan eksternal,” tulis Fitch.