Konflik Iran–Israel Picu Gejolak Minyak Dunia, Cek Rekomendasi Saham Energi

ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/bar
Sejumlah kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur, Kamis (18/12/2025). Badan Energi Internasional (IEA) mencatat bahwa konsumsi batu a di ASEAN pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar 516 Mt, meningkat sekitar 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
5/3/2026, 12.37 WIB

Eskalasi konflik antara Iran dengan Israel-Amerika Serikat mulai mengguncang sistem energi global. Perang itu memicu gangguan pada jalur perdagangan minyak dunia, khususnya di Selat Hormuz yang menekan kinerja indeks saham global.

Investor pun mengkhawatirkan konflik tersebut berlangsung panjang. Investor juga mulai memperkirakan konflik geopolitik tersebut bisa berlangsung selama beberapa bulan, bukan hanya dalam hitungan minggu.

Tim riset Sinarmas Sekuritas menilai lonjakan harga energi akibat konflik Iran-Israel justru menjadi peluang bagi Indonesia. Hal itu lantaran batu bara masih menjadi salah satu komoditas ekspor utama nasional.

“Lonjakan pada tolok ukur energi menawarkan lindung nilai struktural yang unik bagi Indonesia, mengingat status batu bara sebagai ekspor utama,” tulis tim riset Sinarmas Sekuritas dalam laporannya yang dikutip pada Kamis (5/3).

Sejumlah saham energi dinilai berpotensi diuntungkan dari situasi ini. Di antaranya PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Indika Energy Tbk (INDY), dan PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA).

Sinarmas Sekuritas menjelaskan, kawasan Timur Tengah memiliki peran sangat besar dalam sistem energi global. Wilayah ini menjadi rumah bagi lima dari sepuluh produsen minyak terbesar dunia, yaitu Arab Saudi, Iran, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwait.

Selain itu, tiga dari sepuluh produsen gas terbesar dunia juga berada di kawasan tersebut, yakni Iran, Qatar dan Arab Saudi. Secara keseluruhan, kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar sepertiga produksi minyak dunia serta seperempat produksi gas global.

Di sisi lain, Selat Hormuz menjadi jalur distribusi energi paling vital di dunia. Setiap hari sekitar 20 juta barel minyak melintasi selat ini, atau setara dengan sekitar 25% perdagangan minyak dunia melalui jalur laut dan sekitar 20% perdagangan LNG global.

Sebagian besar LNG yang melewati jalur ini berasal dari Qatar. Lebih dari 80% minyak dan LNG yang melintasi Selat Hormuz juga ditujukan ke pasar Asia.

Pilihan jalur alternatif untuk menghindari selat ini sangat terbatas. Menurut data US Energy Information Administration, kapasitas pipa cadangan di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang dapat digunakan untuk mengalihkan pengiriman hanya sekitar 2,6 juta barel per hari.

Guncangan di Sektor Energi Gobal

Sinarmas Sekuritas menilai arah harga energi dan kondisi ekonomi global ke depan sangat bergantung pada perkembangan konflik yang sedang berlangsung. Risiko terbesar muncul bila Selat Hormuz benar-benar ditutup. Kondisi tersebut berpotensi memicu guncangan besar pada pasar energi global.

Sebagian analis sebelumnya memperkirakan pembekuan di Selat Hormuz biasanya hanya berlangsung dalam beberapa bulan. Namun pernyataan terbaru dari Donald Trump menyebut operasi militer Amerika Serikat dan Israel bisa berlangsung selama lima minggu atau lebih.

Jika blokade berlangsung permanen, situasi tersebut sebenarnya juga merugikan Iran karena pendapatan minyaknya sangat bergantung pada jalur tersebut. Dalam skenario ini, analis memperkirakan Cina sebagai pembeli utama energi dari kawasan tersebut akan memberikan tekanan diplomatik agar jalur perdagangan kembali dibuka.

Namun terdapat pula risiko skenario yang lebih besar, yakni Iran memperluas serangan ke infrastruktur energi regional seperti fasilitas LNG di Qatar, kilang minyak di Arab Saudi serta pelabuhan dan kapal tanker di UEA. Jika hal itu terjadi, harga energi global berpotensi melonjak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Rekomendasi Rotasi ke Saham Energi

Di tengah ketegangan geopolitik tersebut, indeks saham global tercatat bergerak melemah sejak dimulainya operasi militer AS-Israel yang disebut “Epic Fury”. Pada perdagangan saham hari ini, Indeks Harga Saham Global (IHSG) tercatat naik 1,67% ke level 7.703. Namun pada perdagangan kemarin, indeks ditutup anjlok 4,57% ke level 7.577.

Sinarmas Sekuritas mencatat, IHSG sempat mencatat arus keluar dana asing (ouflow) sekitar Rp 500 miliar setelah serangan awal terjadi. Tekanan jual terutama terjadi pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.

Kendati demikian, Sinarmas Sekuritas menilai kenaikan harga energi dapat menjadi penopang bagi pasar Indonesia karena batu bara merupakan komoditas ekspor utama. Oleh karena itu, analis merekomendasikan investor melakukan rotasi portofolio ke sektor energi selama periode ketegangan geopolitik.

Namun, kata dia, IHSG tetap akan menghadapi tiga risiko utama, yakni penularan risiko geopolitik global yang mendorong investor menghindari aset berisiko, potensi penurunan status pasar oleh MSCI Inc. menjadi frontier market serta risiko penurunan prospek kredit negara setelah Fitch Ratings merevisi outlook Indonesia menjadi negatif.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri