Adu Kinerja Emiten Properti PANI, CBDK hingga LPKR, Siapa Paling Moncer?
Sejumlah emiten sektor properti mulai merilis laporan kinerja keuangan sepanjang 2025. Beberapa di antaranya berasal dari Grup Lippo dan pengembang kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK).
Emiten tersebut antara lain PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) dari Grup Lippo, serta dua emiten hasil kongsi Aguan dan Salim Group yakni PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK).
Berdasarkan laporan keuangan masing-masing perseroan, PANI dan CBDK mencatat pertumbuhan laba bersih yang signifikan. Laba PANI melonjak 83%, sedangkan laba CBDK meningkat 47% sepanjang 2025. Sebaliknya, LPKR justru mengalami penurunan laba bersih yang tajam hingga 97%.
Berikut rincian kinerja keuangan ketiga emiten tersebut sepanjang 2025.
Laba PANI Melesat 83% pada 2025
Emiten pengembang kawasan PIK 2 PANI membukukan laba bersih sebesar Rp 1,14 triliun pada 2025. Capaian ini melonjak signifikan 83,89% dibandingkan laba bersih perseroan pada 2024 yang sebesar Rp 623,91 miliar.
Lonjakan laba tersebut sejalan dengan pertumbuhan pendapatan bersih perseroan yang meningkat 52,29% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 4,31 triliun, dari sebelumnya Rp 2,83 triliun.
Sebagian besar pendapatan PANI berasal dari segmen penjualan tanah yang mencapai Rp 4,18 triliun, meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar Rp 2,77 triliun.
Seiring dengan peningkatan pendapatan, beban pokok pendapatan perseroan juga ikut naik menjadi Rp 1,72 triliun dari Rp 1,24 triliun secara yoy. Meski demikian, lonjakan pendapatan membuat laba bersih perseroan tetap tumbuh signifikan.
Kinerja tersebut turut mengerek laba per saham PANI menjadi Rp 67,79 per saham, naik dari Rp 38,78 per saham pada tahun sebelumnya.
CBDK Cetak Kenaikan Laba Bersih 47%
Tak jauh berbeda dengan perusahaan induknya, CBDK juga mencatat pertumbuhan laba yang moncer sepanjang 2025. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 1,36 triliun, melesat 47,53% dibandingkan capaian 2024 sebesar Rp 924,75 miliar.
Dari sisi pendapatan, CBDK mencatatkan kenaikan 11,32% menjadi Rp 2,50 triliun dari Rp 2,24 triliun pada tahun sebelumnya.
Pendapatan tersebut terutama berasal dari segmen penjualan tanah yang menyumbang Rp 2,42 triliun, sementara segmen penyewaan berkontribusi sebesar Rp 35,46 miliar dan lainnya sebesar Rp 47,58 miliar
Di sisi lain, beban pokok pendapatan justru turun 12,96% menjadi Rp 850,03 miliar, dari Rp 976,57 miliar pada tahun sebelumnya. Kinerja tersebut turut mendorong kenaikan laba per saham CBDK menjadi Rp 241,45 per saham, dari sebelumnya Rp 181,25 per saham.
Laba LPKR Anjlok 97%
Berbeda dengan dua emiten pengembang kawasan PIK, kinerja PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) justru mengalami penurunan tajam.
Perseroan mencatat laba bersih yang merosot hingga 97,49% sepanjang 2025 menjadi Rp 469,53 miliar dari Rp 18,74 triliun secara tahunan. Penurunan ini terjadi di tengah melemahnya kinerja pendapatan perusahaan.
Pendapatan LPKR tercatat turun menjadi Rp 9,03 triliun pada 2025, dibandingkan dengan periode sebelumnya yang mencapai Rp 11,50 triliun. Beban pokok pendapatan perseroan ikut menurun menjadi Rp 5,86 triliun dari Rp 6,55 triliun secara tahunan. Imbasnya, laba per saham perseroan juga menurun menjadi Rp 6,62 per saham dari Rp 264,49 per saham.