Samuel Ungkap 8 Mesin Pemulihan Kinerja GIAA 2026, Harga Saham Ditarget Rp 130
Emiten penerbangan Garuda Indonesia Tbk (GIAA) diproyeksikan mulai mencatatkan pemulihan kinerja pada tahun ini setelah mengalami kerugian selama beberapa tahun terakhir. Perkiraan tersebut ditopang oleh peningkatan frekuensi penerbangan, disiplin pengendalian biaya, serta perbaikan struktur neraca keuangan.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Jason Sebastian, bahkan memberikan rekomendasi beli (buy) untuk saham emiten pelat merah itu. Adapun target harga saham GIAA ditetapkan sekuritas tersebut di level Rp 130.
“Kami memulai cakupan terhadap saham Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dengan rekomendasi buy (beli) dan target harga Rp 130, yang mencerminkan potensi kenaikan sekitar 75,7%,” kata Jason dalam laporan analisanya, dikutip Rabu (11/3).
Valuasi tersebut didasarkan pada proyeksi rasio EV/EBITDAR 2026 sebesar 9 kali, sejalan dengan rata-rata industri. Penilaian ini juga didukung margin EBITDAR Garuda yang diperkirakan mencapai 27,2%, lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata industri sebesar 24%.
Saat ini, saham GIAA diperdagangkan di level 73 secara intraday, Rabu (11/3). Sahamnya saat ini sedang masuk dalam papan pemantauan khusus. Selama tiga bulan terakhir, saham GIAA anjlok 33,64%.
Kendati demikian, Jason mengingatkan sejumlah risiko yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan. Risiko tersebut antara lain volume penumpang yang lebih rendah dari perkiraan, kenaikan harga bahan bakar, serta beban bunga yang lebih tinggi dari ekspektasi.
Adapun Samuel Sekuritas memperkirakan pendapatan GIAA akan tumbuh 13,2% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi US$ 3,64 miliar pada 2026. Pendapatan tersebut diproyeksikan kembali meningkat 9,5% menjadi US$ 3,98 miliar pada 2027.
Pertumbuhan itu terutama ditopang segmen penerbangan yang menyumbang sekitar 90% dari total pendapatan perusahaan. Segmen ini diperkirakan tumbuh 13,7% pada 2026 dan 9,9% pada 2027 seiring pemulihan ekonomi serta penambahan armada pesawat baru.
“Frekuensi penerbangan diperkirakan mencapai 154 ribu hingga 160 ribu penerbangan per tahun pada periode 2026–2027,” ujar Jason.
Selain itu, kebijakan fiskal pemerintah yang bertujuan meningkatkan daya beli masyarakat serta mendorong Indonesia sebagai destinasi wisata internasional juga diperkirakan akan menopang pertumbuhan jumlah penumpang.
Prospek profitabilitas Garuda juga didukung oleh penurunan beban bunga seiring berkurangnya utang perusahaan. Maskapai nasional itu juga bakal memperoleh tambahan suntikan modal sebesar US$ 1 miliar serta konversi utang menjadi ekuitas senilai US$ 405 juta dari Danantara Indonesia.
Dana tersebut akan digunakan terutama untuk modal kerja dan belanja modal (capital expenditure atau capex) terkait perawatan pesawat. Sementara itu, kelebihan kas diperkirakan akan digunakan untuk melunasi sebagian utang yang masih tersisa.
Delapan Mesin Pertumbuhan GIAA
Sejalan dengan proyeksi tersebut, Jason menyebut terdapat delapan strategi utama yang menjadi mesin penggerak pertumbuhan Garuda Indonesia.
Mesin pertama adalah memperbaiki neraca keuangan melalui skema konversi utang menjadi ekuitas (debt to equity swap) senilai US$ 405 juta, serta suntikan modal US$ 1 miliar dari Danantara Indonesia.
Menurut Jason, setelah mendapat persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada November 2025, Danantara akan menyuntikkan dana hingga US$1,4 miliar atau sekitar Rp 23,7 triliun. Jika terealisasi, GIAA diperkirakan dapat kembali mencatatkan ekuitas positif sekitar US$219 juta pada 2025.
Mesin kedua yaitu mencapai kinerja laba yang konsisten positif melalui rasionalisasi armada dan biaya, yang didukung pengendalian biaya yang lebih ketat. Ekuitas positif hasil restrukturisasi neraca harus diikuti laba bersih positif agar kondisi keuangan tetap sehat.
Untuk mencapai hal tersebut, kata Jason, perusahaan perlu menyederhanakan jenis armada, meningkatkan utilisasi pesawat, serta menekan biaya per unit. Langkah serupa sebelumnya dilakukan oleh LATAM Airlines saat bangkit dari kondisi hampir bangkrut.
Mesin ketiga yakni memprioritaskan margin dibandingkan pangsa pasar melalui perencanaan armada dan rute yang lebih disiplin. Dalam proses pemulihan maskapai, pengurangan sewa pesawat menjadi salah satu strategi penting karena industri penerbangan memiliki biaya tetap yang tinggi.
“Karena itu, pengurangan jumlah armada dapat melindungi arus kas dari beban biaya sewa dan perawatan,” kata Jason.
Mesin keempat adalah memperkuat manajemen pendapatan (yield management) dengan mengoptimalkan rute, frekuensi penerbangan, dan harga tiket berbasis data. Sementara mesin kelima, memperkuat integritas kepemimpinan melalui penyegaran tim manajemen.
Mesin keenam, membangun kembali moral karyawan serta fokus organisasi melalui penerapan cultural reset atau perubahan budaya organisasi.
Langkah itu dimulai dari manajemen teratas agar lebih transparan transparansi, pembagian tanggung jawab yang jelas, sistem penghargaan dan sanksi yang seimbang, penyederhanaan struktur organisasi serta pengambilan keputusan yang lebih tegas dengan fokus pada profitabilitas.
Berikutnya, mesin ketujuh adalah memanfaatkan kondisi negatif saat ini sebagai katalis inovasi dan transformasi jangka panjang.
Adapun mesin kedelapan adalah membentuk aliansi strategis untuk memperluas jangkauan pasar dengan risiko modal yang lebih terbatas.