Wall Street Merosot Seiring Eskalasi Konflik AS - Iran dan Lonjakan Harga Minyak

NYSE
Bursa efek New York atau Wall Street
Penulis: Karunia Putri
13/3/2026, 06.48 WIB

Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup turun pada perdagangan Kamis (12/3) waktu setempat. Pelemahan terjadi seiring lonjakan harga minyak di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi, sementara konflik antara Amerika Serikat dan Iran terus berlanjut.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 739,42 poin atau 1,56% dan ditutup di level 46.677,85. Indeks S&P 500 merosot 1,52% menjadi 6.672,62, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 1,78% ke posisi 22.311,98.

Ketiga indeks di Wall Street mencatatkan level penutupan terendah sepanjang tahun ini. Dow yang berisi 30 saham unggulan juga ditutup di bawah ambang 47 ribu untuk pertama kalinya tahun ini.

Kenaikan harga minyak dipicu pernyataan pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang ditunjuk pada 9 Maret. Ia mengatakan Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai alat untuk menekan musuh.

Kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 9,72% dan ditutup di level US$ 95,73 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak Brent menguat 9,22% menjadi US$ 100,46 per barel, sekaligus menjadi penutupan pertama di atas US$100 sejak Agustus 2022.

Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright mengatakan Angkatan Laut AS belum siap mengawal kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz. Meski demikian, ia memperkirakan kemampuan tersebut dapat tersedia pada akhir bulan ini.

Lalu lintas kapal di jalur tersebut hampir terhenti seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Pada malam sebelumnya, tiga kapal asing dilaporkan terkena serangan di Teluk Persia, menurut otoritas setempat. Insiden itu terjadi setelah tiga kapal lainnya, termasuk satu di Selat Hormuz terserang pada Rabu.

“Iran tampaknya berhasil menjalankan strateginya menciptakan kekacauan ekonomi di kawasan Teluk ketika kapal tanker diserang dan Selat Hormuz tetap ditutup, sehingga mendorong harga Brent mendekati US$100,” kata Adam Crisafulli analis dari Vital Knowledge dikutip dari CNBC, Jumat (13/3).

Ia menilai meski Amerika Serikat dan Israel memiliki dominasi militer dan program misil serta nuklir Iran kemungkinan melemah, pemerintahan garis keras di Teheran masih sangat kuat dan kini memanfaatkan minyak sebagai alat tekanan terhadap Presiden AS Donald Trump.

Untuk meredakan biaya energi, Wright mengatakan pemerintah AS akan melepas 172 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR). Proses penyaluran minyak tersebut diperkirakan memakan waktu sekitar 120 hari.

Badan Energi Internasional (IEA) juga menyepakati pelepasan terkoordinasi sebanyak 400 juta barel minyak pada Rabu guna mengatasi gangguan pasokan akibat perang. Meski demikian, harga minyak tetap bertahan tinggi karena kekhawatiran konflik dapat berlangsung lebih lama.

“Jika biaya energi dan harga bensin bertahan pada level saat ini atau bahkan meningkat akibat perkembangan di Timur Tengah, hal itu dapat menekan sentimen konsumen dan kembali memunculkan isu daya beli menjelang pemilu paruh waktu,” ujar Kepala Strategi Pasar Ameriprise, Anthony Saglimbene.

Namun, ia menambahkan kondisi neraca keuangan rumah tangga secara keseluruhan masih cukup kuat. Pendapatan dan kondisi pasar tenaga kerja juga dinilai masih solid, sementara inflasi mulai mereda di beberapa komponen penting, terutama sektor perumahan.

“Seiring waktu, jika inflasi terus melandai di luar dampak sementara dari energi, serta pasar dan ekonomi tetap stabil, sikap masyarakat Amerika terhadap kemampuan mereka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dapat membaik,” ujarnya.

Meski konflik masih berlangsung, koreksi pada indeks S&P 500 relatif terbatas. Indeks acuan tersebut hanya turun sedikit lebih dari 4% dari rekor tertinggi yang dicapai pada Januari.

Sebanyak delapan dari 11 sektor dalam S&P 500 ditutup di zona negatif pada Kamis, dengan saham perbankan dan teknologi memimpin pelemahan. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri