Emiten Afiliasi Saratoga - Boy Thohir (EMAS) Jual 16 Kg Emas ke Antam

Unsplash
IPO Saham Emas Merdeka Gold Apakah Potensial
16/3/2026, 09.06 WIB

Emiten pertambangan afiliasi Grup Saratoga dan Garibaldi “Boy” Thohir, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menjual emas sebanyak 16,0597 kg atau 516,287 ounces emas ke PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). 

Penjualan perdana emas itu melalui anak usahanya, PT Puncak Emas Tani Sejahtera, pada 16 Maret 2026. Penjualan ini menjadi bagian dari kerja sama strategis antara Grup Merdeka dan Antam melalui Gold Sales and Purchase Agreement (GSPA) demi mendukung penyerapan produksi emas domestik dan memperkuat integrasi rantai pasok emas nasional.

Seiring dengan itu, berdasarkan estimasi per 31 Desember 2025, total ore reserve mencapai 203,1 juta ton bijih dengan kadar rata-rata 0,79 gram per ton emas atau setara sekitar 5,2 juta ounces emas. 

Angka ini meningkat dibandingkan laporan Oktober 2025 sebesar 190,3 juta ton bijih yang mengandung 4,8 juta ounces emas dan cadangan akhir 2024 sebesar 77,5 juta ton dengan kandungan sekitar 1,9 juta ounces emas.

Sementara itu, total mineral resources EMAS per akhir 2025 tercatat sekitar 7 juta ounces emas dan 6,6 juta ounces perak. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan laporan 2024 seiring dimulainya kegiatan penambangan bijih sejak Oktober 2025.

Presiden Direktur Merdeka Gold Resources, Boyke Poerbaya Abidin, mengatakan dimulainya penjualan emas perdana dari Tambang Emas Pani menjadi tonggak penting bagi kinerja keuangan EMAS. Tak hanya itu, peningkatan signifikan cadangan bijih dalam waktu singkat menunjukkan kualitas deposit emas di proyek tambang anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) itu.

“Kami semakin yakin terhadap potensi jangka panjang Pani sebagai salah satu tambang emas utama di Indonesia, ” ujar Boyke dalam keterangan resminya, Senin (16/3). 

Adapun Merdeka Gold Resources menargetkan produksi sekitar 100.000–115.000 ounces emas pada tahun 2026. Hal itu seiring percepatan pengembangan fasilitas pengolahan dan optimalisasi operasi tambang.

Perseroan juga terus melanjutkan program eksplorasi untuk memperluas basis sumber daya di area Pani. 

Saat ini empat unit diamond drill rigs telah beroperasi di lokasi proyek, dengan tambahan dua diamond drill rigs serta satu reverse circulation rig yang dijadwalkan tiba dalam beberapa bulan ke depan. Hal ini untuk mendukung pelaksanaan program pengeboran yang direncanakan lebih dari 32.000 meter tahun ini.

Ambisi Balikkan Rugi jadi Untung Tahun Ini

Seiring dengan itu EMAS juga memproyeksikan kinerja keuangan perseroan akan berbalik untung pada tahun buku 2026. Proyeksi itu usai perusahaan mencatatkan lonjakan rugi bersih pada tahun buku 2025 sebesar 116% menjadi Rp 459 miliar. 

Boyke mengatakan karena tahun ini perseroan sudah menangguk pendapatan dari penjualan emas di tambang Emas Pani. Menurutnya, kinerja keuangan yang masih negatif pada 2025 mencerminkan fase pembangunan proyek tambang.  

“Perseroan memperkirakan kinerja keuangan akan berbalik menuju profitabilitas pada tahun buku 2026. Untuk tahun 2026, Perseroan menargetkan produksi emas sebesar 100-115 ribu ons,” kata Boyke.

Boyke menjelaskan selama fase pembangunan proyek tambang, perusahaan masih berada pada tahap konstruksi sehingga belum mencatat pendapatan dari produksi emas. 

Adapun EMAS membukukan rugi bersih sebesar US$27,49 juta atau setara Rp459,67 miliar sepanjang 2025. Nilai kerugian tersebut melonjak 116,62% dibandingkan rugi tahun sebelumnya yang sebesar US$ 12,69 juta.  

Berdasarkan laporan keuangan perseroan tahun 2025, pendapatan EMAS tercatat sebesar US$131,96 ribu. Angka ini merosot 92,51% dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang mencapai US$1,74 juta. Seluruh pendapatan tersebut berasal dari bisnis penyewaan alat berat. 

Sejalan dengan penurunan pendapatan, beban pokok pendapatan EMAS juga menyusut menjadi US$277,95 ribu dari sebelumnya US$1,18 juta secara tahunan atau year on year (yoy).  Namun, lonjakan kerugian terutama disebabkan meningkatnya beban umum dan administrasi perseroan. 

Beban ini naik signifikan dari US$1,01 juta pada 2024 menjadi US$9,48 juta pada 2025. Kenaikan beban tersebut mendorong rugi usaha perseroan meningkat menjadi US$9,63 juta dari sebelumnya US$449,79 ribu secara tahunan.

 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila