Jelang Libur Nyepi dan Idulfitri, IHSG Diprediksi Tertekan Sentimen Geopolitik

Katadata/Fauza Syahputra
Pengunjung berjalan di dekat layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (9/3/2026).
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
16/3/2026, 11.03 WIB

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan ini hanya berlangsung selama dua hari bursa, yakni 16–17 Maret 2026. Jadwal singkat tersebut terjadi karena pasar modal akan memasuki periode libur panjang karena perayaan Nyepi dan Idulfitri.

Sejumlah analis menilai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada periode perdagangan singkat ini berpotensi cenderung melemah. Konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang kian memanas, diperkirakan masih menjadi tekanan utama bagi pasar. Di tengah tekanna pada indeks, analis merekomendasikan saham-saham komoditas.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (Ipot), Hari Rachmansyah, memprediksi IHSG akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah karena dominannya sentimen global yang membayangi pasar.

Menurut Hari, ketidakpastian global masih dipicu oleh eskalasi tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang hingga kini belum menunjukkan tanda deeskalasi maupun titik terang menuju perdamaian.

“Selama konflik tersebut masih berlangsung, volatilitas pasar global diperkirakan tetap tinggi karena investor cenderung mengadopsi sikap risk-off,” kata Hari dalam keterangannya, dikutip pada Senin (16/3).

Sementara itu, dari dalam negeri, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah, terutama upaya menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar tetap terkendali. Hal ini menjadi salah satu indikator penting bagi investor dalam menilai stabilitas makroekonomi Indonesia.

Selain itu, faktor musiman menjelang libur panjang lebaran juga berpotensi membuat aktivitas transaksi pasar lebih terbatas. Sebagian investor diperkirakan menahan diri untuk mengambil posisi baru hingga periode libur berakhir.

Menurutnya, dalam kondisi pasar yang masih diliputi ketidakpastian, investor disarankan lebih selektif dalam memilih saham. Emiten dengan fundamental kuat, arus kas stabil, serta karakter defensif terhadap volatilitas global dinilai lebih menarik untuk dicermati.

“Strategi smart money wait and see, menjaga porsi kas yang lebih tinggi, serta melakukan akumulasi bertahap pada area support dapat menjadi pendekatan yang lebih prudent sambil menunggu kejelasan perkembangan geopolitik global dan arah kebijakan fiskal domestik,” ujar Hari.

Selama dua hari bursa pekan ini, Hari merekomendasikan tiga saham sektor komoditas yang dapat diperhatikan investor.

Pertama, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan rekomendasi beli di harga Rp 2.910 dan target harga Rp 3.130. Secara teknikal, saham PTBA dinilai masih bergerak dalam tren naik yang didukung aliran dana asing sekitar Rp 137 miliar pada pekan lalu. Kenaikan harga batu bara global juga dinilai menjadi sentimen positif bagi saham ini.

Kedua, PT Indika Energy Tbk (INDY) dengan rekomendasi beli di harga Rp 3.620 dan target harga Rp 4.150. Secara teknikal, saham INDY masih bergerak dalam channel uptrend dan berada di area support, sehingga berpotensi mengalami pembalikan arah setelah menguat pada perdagangan Jumat lalu.

Ketiga, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dengan rekomendasi beli di harga Rp 1.290 dan target harga Rp 1.330. Secara teknikal, saham LSIP masih berada dalam tren naik dengan potensi melanjutkan penguatan setelah pada perdagangan Jumat mampu bertahan di atas EMA-5. Saham ini juga mencatat potensi akumulasi dana asing sekitar Rp 445 miliar sejak awal Maret.

Sementara itu, Phintraco Sekuritas menilai investor cenderung bersikap wait and see menjelang libur panjang. Secara teknikal, IHSG diperkirakan berpotensi menguji level psikologis 7.000.

Beberapa saham yang dinilai layak dicermati pada pekan ini antara lain PTBA, LSIP, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) dan dan PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR).

Phintraco Sekuritas juga menilai perkembangan perang di Timur Tengah dan dampaknya terhadap pasar energi masih akan mempengaruhi pergerakan indeks bursa global. Kondisi tersebut juga berpotensi mempengaruhi arah kebijakan moneter sejumlah bank sentral dunia.

Bank sentral Amerika Serikat (The Fed) diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75% pada pertemuan 18 Maret. Investor global juga akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dari The Fed untuk melihat bagaimana bank sentral memandang risiko inflasi di tengah konflik AS-Iran serta implikasinya terhadap kebijakan moneter ke depan.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga menunggu langkah pemerintah dalam merespons kenaikan harga minyak mentah. Presiden Prabowo menyatakan pemerintah lebih cenderung melakukan penghematan dan efisiensi anggaran dibandingkan memperlebar defisit APBN.

Ia menilai pemerintah masih menghadapi persoalan kebocoran dan inefisiensi anggaran sehingga masih memiliki ruang untuk melakukan efisiensi. Sementara itu, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 17 Maret diperkirakan akan mempertahankan BI rate di level 4,75%.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri