IHSG Jadi Indeks Saham Paling Lemah di Dunia Sejak Awal Tahun
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia mencatatkan kinerja paling lemah dibandingkan bursa global sepanjang 2026. Berdasarkan data perdagangan Selasa (17/3), IHSG terkoreksi sebesar 17,62% secara year to date (ytd).
Tekanan terhadap pasar saham domestik terjadi secara beruntun sejak akhir Januari. Salah satu sentimen utama berasal dari keputusan MSCI Inc yang menangguhkan rebalancing saham Indonesia pada Februari. MSCI juga menyoroti isu transparansi data investor di pasar saham Indonesia yang dinilai dapat memicu kekhawatiran investor asing.
Sentimen negatif dari MSCI belum mereda, sejumlah lembaga pemeringkat global seperti Moody’s, S&P Global Ratings dan Fitch Ratings turut menyoroti risiko terhadap stabilitas fiskal Indonesia.
Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan kemampuan anggaran negara dalam membiayai program prioritas, terutama ketika defisit fiskal mendekati batas 3% dari produk domestik bruto (PDB). Di akhir Februari terjadi eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran yang mengguncang pasar saham seluruh dunia.
Jika dibandingkan dengan bursa global lainnya, penurunan IHSG menjadi yang terdalam. Indeks KOSPI Korea Selatan yang juga sempat mengalami trading halt akibat penurunan tajam justru masih mencatatkan kenaikan 38,88% secara ytd.
Indeks lainnya di kawasan Asia Pasifik, indeks Nikkei 225 menguat 3,60%, Shanghai Composite naik 0,66%, sementara Hang Seng terkoreksi 1,77%. Adapun indeks BSE Sensex turun 11,13% sepanjang tahun berjalan.
Di pasar Amerika Serikat, indeks S&P 500 tercatat turun 2,32% secara ytd, Nasdaq Composite melemah 3,71%, dan Dow Jones Industrial Average turun 2,97%.
Penurunan IHSG juga menyebabkan dana asing deras keluar di pasar saham domestik. Berdasarkan data bursa, sepanjang tahun 2026, investor asing mencatatkan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp 8,85 triliun. Kapitalisasi pasar juga menyusut menjadi Rp 12.555 triliun per hari ini, menguap Rp 3.488 triliun dari Rp 16.043 triliun pada 2 Januari 2026 lalu.
Ekonom senior Bright Institute Yanuar Rizky menilai volatilitas IHSG masih akan berlanjut seiring kondisi fiskal yang dinilai kurang solid. Menurut dia, sorotan dari lembaga pemeringkat lebih berdampak terhadap pasar dibandingkan isu MSCI.
“IHSG masih akan terus volatil, karena kondisi fiskal kita memang sedang tidak bagus,” kata Yanuar kepada Katadata, dikutip Selasa (17/3)
Ia juga mengingatkan investor ritel untuk mewaspadai tingginya volatilitas pasar, terutama di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Investor dengan profil agresif dinilai masih dapat memanfaatkan peluang jangka pendek, sementara investor dengan profil risiko lebih rendah sebaiknya mempertimbangkan instrumen safe haven hingga kondisi pasar lebih stabil.