Sentimen Perang dan Harga Energi Bayangi Pembukaan IHSG Pasca-Lebaran Besok

Katadata/Fauza Syahputra
Layar digital yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (9/3/2026). IHSG ditutup melemah 3,27% ke 7.337 pada perdagangan awal pekan ini dengan nilai transaksi saham sebesar Rp 23,76 triliun, volume 46,63 miliar saham dan frekuensi sebanyak 2,47 juta kali.
Penulis: Kamila Meilina
Editor: Reza Pahlevi
24/3/2026, 16.27 WIB

Perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan kembali dibuka pada Rabu (25/3) setelah libur panjang Nyepi dan Lebaran. Pergerakan indeks pada awal perdagangan pasca-libur diperkirakan masih akan dipengaruhi sentimen global yang berkembang selama bursa domestik tutup.

Secara historis, pergerakan IHSG setelah libur Lebaran tidak selalu positif. Pada dua tahun sebelumnya, IHSG justru ditutup melemah pada hari pertama perdagangan setelah Lebaran.

Pada perdagangan pasca-Lebaran 2025, IHSG tercatat turun 7,90% didorong pengumuman tarif global Amerika Serikat (AS). IHSG juga terkoreksi 1,68% pada perdagangan pasca-Lebaran 2024.

Pada tahun lalu, tekanan pasar bahkan sempat memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt karena penurunan yang tajam di awal sesi.

Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengatakan proyeksi pergerakan IHSG pasca-Lebaran tahun ini akan sangat dipengaruhi kombinasi sentimen global dan faktor musiman domestik.

Menurutnya, jika melihat kondisi global selama libur panjang, pasar saham Amerika Serikat dan Asia cenderung menguat karena tensi geopolitik mereda dan harga energi mulai stabil. Kondisi ini menjadi sentimen positif awal bagi pasar saham Indonesia.

“Dengan kondisi tersebut, IHSG berpotensi bergerak menguat pada awal pembukaan pasca-libur, namun penguatannya diperkirakan terbatas dan masih dalam fase konsolidasi dengan potensi menguji resistance di kisaran 7.150–7.200,” ujarnya kepada Katadata.co.id, Selasa (24/3).

Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai berbagai risiko eksternal. Apabila tensi geopolitik kembali memanas, terjadi lonjakan harga energi, atau kebijakan suku bunga the Fed kembali lebih ketat dari ekspektasi pasar, IHSG berpotensi kembali tertekan dan menguji area support psikologis di level 7.000.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina