IHSG Sesi I Naik 1,3% Usai Libur Lebaran di Tengah Perang AS–Iran, Apa Kata OJK?
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup naik 1,30% ke 7.199 pada perdagangan sesi pertama usai libur panjang lebaran, Rabu (25/3). Sebanyak 532 saham menguat, 181 saham terkoreksi, dan 105 saham tidak bergerak.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi saham siang ini sebesar Rp 13,30 triliun dengan volume 25,93 miliar saham dan frekuensi sebanyak 1,34 juta kali. Adapun kapitalisasi pasar IHSG sesi pertama hari ini sebesar Rp 12.707 triliun.
Dari sebelas sektor yang ada di BEI, tujuh sektor terpantau hijau. Sektor yang mencatat kenaikan terbesar yakni energi naik hingga 3,91%. Adapun saham yang berada di zona hijau yakni PT Darma Henwa Tbk (DEWA) naik 13,20% ke Rp 446.
Di sisi lain, bursa saham Asia juga kompak bertengger di zona hijau. Indeks Straits Times naik 0,54%, Hang Seng tumbuh 0,08%, Shanghai Composite naik 1,13%, dan Nikkei menguat 3,02%.
Daftar Saham top gainers:
- PT Darma Henwa Tbk (DEWA) naik 13,20% ke Rp 446
- PT Petrosea Tbk (PTRO) naik 9,95% ke Rp 4.750
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik 8,74% ke Rp 224
Daftar Saham top losers:
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 7,74% ke Rp 4.050
- PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) turun 3,75% ke Rp 1.925
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) turun 2,93% ke Rp 3.640
Seiring dengan itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai hijaunya IHSG usai libur panjang Idulfitri 1447 H karena kembalinya kepercayaan investor di tengah tensi konflik Timur Tengah.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyebut OJK akan terus memantau dinamika geopolitik global. Ia juga berharap konflik segera membaik demi memberikan kepercayaan bagi investor.
Hasan juga mengimbau investor tetap tenang dan mencermati perkembangan global. Meski begitu tingginya volatilitas terjadi di hampir seluruh pasar saham dunia, bukan hanya Indonesia.
“Investor kita harapkan tetap tenang, mencermati setiap perkembangan, melakukan perhitungan dan menyelaraskan dengan tujuan dan motif investasi yang memang bisa jadi satu dengan yang lain berbeda, sebelum mengambil keputusan investasi terbaiknya,” ucap Hasan kepada wartawan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (25/3).
.