Wall Street Babak Belur Lagi Imbas Harga Minyak, Nasdaq Merosot 10% dari Puncak
Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) babak belur lagi karena tertekan harga minyak seiring investor memantau konflik AS–Iran.
S&P 500 ditutup merosot 1,74% ke level 6.477,16 dan Nasdaq Composite anjlok 2,38% ke 21.408,08 dan resmi masuk zona koreksi setelah turun lebih dari 10% dari puncaknya. Dow Jones Industrial Average juga terkoreksi 1,01% atau 469,38 poin ke posisi 45.960,11.
Seiring dengan itu, melonjaknya harga minyak turut menekan pasar saham. Kontrak berjangka Brent melonjak 5,66% ke US$ 108,01 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik 4,61% ke US$ 94,48 per barel. Lonjakan ini turut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun dan 2 tahun.
Presiden AS Donald Trump menilai lonjakan harga minyak dan tekanan pasar tidak seburuk dari perkiraan. Ia menyebut harga minyak berpotensi kembali turun ke level sebelumnya atau bahkan lebih rendah.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik kini juga meningkat. Dalam media sosialnya Truth Social, Trump memperingatkan Iran agar segera serius dalam negosiasi. Ia menyebut tidak akan ada jalan kembali untuk Iran jika situasi kian memburuk.
Tak hanya itu, ia juga mengklaim negosiator Iran menunjukkan sikap berbeda dan meminta kesepakatan dengan AS untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama empat minggu.
Namun, pejabat Iran sebelumnya menyatakan Teheran tengah meninjau proposal AS, tetapi belum berencana membuka pembicaraan langsung dengan Washington.
Di samping itu, negara-negara Teluk kompak mengecam serangan yang mereka sebut sebagai “kejahatan” oleh Iran, yang dilancarkan dari wilayah Irak dan menargetkan infrastruktur energi strategis mereka.
Mereka menegaskan siap mengambil langkah tegas untuk melindungi kepentingan nasional dan keamanan energi di tengah eskalasi konflik kawasan.
“Meskipun kami menghargai hubungan persaudaraan kami dengan Republik Irak, kami mendesak pemerintah Irak untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk segera menghentikan serangan terhadap negara-negara tetangga,” bunyi pernyataan bersama tersebut dikutip CNBC International, Jumat (27/3).
Adapun Wall Street sempat menguat di tengah pernyataan yang saling bertentangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait prospek pembicaraan damai.
Indeks Dow Jones Industrial Average bahkan berpeluang mencatatkan kenaikan mingguan. Hal ini mencerminkan optimisme investor meski ketidakpastian geopolitik masih membayangi.
Manajer portofolio Argent Capital Management, Jed Ellerbroek, menilai pasar saat ini cenderung lengah. Ia mengatakan investor masih optimistis dan bersedia menyerap sentimen negatif karena pasar pada dasarnya ingin terus naik.
Sementara itu, Kepala Kebijakan dan Politik AS di Wolfe Research, Tobin Marcus, menilai pergerakan pasar menunjukkan bahwa investor meragukan pernyataan Iran. Ia menyebut pasar menafsirkan pesan publik Iran yang bernada negatif sebagai strategi.
“Kami tidak begitu yakin dan ambiguitas ini tidak akan bertahan lama di tengah batas waktu 5 hari yang ditetapkan Trump untuk perundingan,” kata Marcus.