Dua emiten industri emas, yakni PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), mencatatkan kinerja gemilang sepanjang 2025. Lonjakan kinerja ini sejalan dengan kenaikan signifikan harga emas global pada periode tersebut.

Berdasarkan laporan keuangan masing-masing, HRTA membukukan lonjakan laba bersih sebesar 121% menjadi Rp 978,49 miliar. Sementara itu, ARCI mencatatkan pertumbuhan laba yang lebih tinggi, yakni melonjak 874,35% menjadi Rp 1,72 triliun.

Merujuk laporan kinerja keuangan tahun 2026 HRTA, perseroan membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 978,49 miliar sepanjang periode tersebut. Angka tersebut melonjak 121,28% dari laba bersih perseroan tahun 2024 sebesar Rp 442,18 miliar.

Perseroan mencatatkan penjualan neto sebesar Rp 44,54 triliun, melesat 144,39% dari Rp 18,22 triliun secara tahunan atau year on year (yoy). Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang masa atau all time high performance sepanjang 2025.

Kinerja tersebut turut mendorong rasio profitabilitas. Return on Assets (ROA) meningkat menjadi 7,76% dan Return on Equity (ROE) naik ke level 30,29%. Sementara itu, rasio utang berbunga terhadap ekuitas tetap terjaga di level 1,39 kali.

Dari sisi segmen usaha, penjualan HRTA didominasi oleh segmen grosir sebesar 87,57%, termasuk kontribusi dari Bullion Bank sebesar 71,22%. Sisanya berasal dari segmen ritel sebesar 11,68% dan gadai sebesar 0,32%.

Direktur Utama HRTA Sandra Sunanto mengatakan, kinerja perseroan hingga akhir tahun 2025 menunjukkan hasil yang sangat positif, dengan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang signifikan. 

“Hal ini didukung oleh peningkatan volume penjualan, penguatan harga emas, serta kontribusi yang semakin solid dari segmen institusi seperti Bullion Bank dan jaringan ritel perseroan,” kata Sandra dalam keterangan resmi dikutip Senin (30/3).

Sementara itu,  harga emas global pada pekan lalu mengalami tekanan jual dan sempat menyentuh US$ 4.100 per troy ons pada Senin, 23 Maret 2026. Pada hari ini, Senin (30/3) harga emas spot berada di level US$ 4.516 per troy ons.

Adapun HRTA saat ini tengah menyelesaikan proses sertifikasi London Bullion Market Association (LBMA) sebagai bagian dari upaya memenuhi standar kualitas dan tata kelola global.

Sandra mengatakan, pelemahan harga emas belakangan ini dipengaruhi oleh tekanan makroekonomi dan dinamika likuiditas jangka pendek. Ketegangan geopolitik, khususnya yang berdampak pada pasokan energi, mendorong negara pengimpor untuk menggunakan cadangan devisa guna membiayai impor, alih-alih menambah kepemilikan emas.

Sementara itu apabila menengok kinerja keuangan ARCI, kinerja perseroan tak kalah gemilang. ARCI mencatatkan laba bersih sebesar US$ 101,82 juta atau setara dengan Rp 1,72 triliun, meroket 874,35% dibandingkan laba bersih perseroan pada tahun sebelumnya US$ 10,45 juta.

Perseroan membukukan pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar US$ 496,22 juta dari US$ 287,61 juta. 

Adapun pendapatan ARCI berasal dari pelanggan di dalam negeri sebesar US$ 399,85 juta dari US$ 287,61 juta secara yoy serta pelanggan luar negeri sebesar US$ 96,37 juta.

Seiring dengan kenaikan pendapatan, beban pokok penjualan ARCI juga meningkat menjadi US$ 286,18 juta dari sebelumnya US$ 227,09 juta.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri