Emiten perbankan pelat merah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) memberikan sinyal akan membagikan dividen final dengan yield sekitar 8,1%. Berdasarkan Stockbit Sekuritas dalam acara Closed Door Meeting bersama Bank Mandiri pada Senin (30/3), perseroan memberikan panduan payout ratio di kisaran 70–80%, meski keputusan final tetap berada di tangan pemegang saham.
Stockbit menilai dengan asumsi payout ratio mencapai 80%, dividen final tahun buku 2025 diperkirakan sebesar Rp 383 per saham, yang mencerminkan yield sekitar 8,1% dengan harga intraday di Rp 4.710 per saham pada Selasa (31/3).
Manajemen Bank Mandiri juga menyampaikan di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik global, perseroan cenderung memilih untuk mengembalikan porsi modal yang lebih besar kepada para pemegang saham.
“Mengindikasikan bahwa dividend payout ratio berpotensi di kisaran yang lebih tinggi,” demikian tertulis dalam Stockbit Snips, dikutip Rabu (1/4).
Stockbit Sekuritas menilai di tengah kondisi yang semakin menantang, Bank Mandiri akan cenderung lebih selektif dalam menyalurkan kredit dan meningkatkan pencadangan untuk mengantisipasi potensi kredit bermasalah.
Selain itu, risiko bertahannya harga energi di level tinggi dalam jangka waktu panjang dinilai dapat menekan likuiditas perbankan dan margin. terutama jika regulator mengambil langkah untuk menahan pelemahan nilai tukar rupiah. Meski demikian, BMRI belum merinci kemungkinan perubahan target kinerja untuk tahun 2026.
Bank Mandiri Raup Laba Rp 56 Triliun 2025
Bank Mandiri membukukan laba konsolidasi sebesar Rp 56,3 triliun hingga kuartal keempat 2025. Capaian tersebut naik dari laba konsolidasi periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 55,8 triliun.
"Kami terus mendorong pembiayaan yang selektif dan terukur di seluruh segmen, dengan fokus pada sektor produktif yang mendorong ekonomi kerakyatan dan perluasan lapangan kerja. Pendekatan ini memungkinkan Bank Mandiri menjaga momentum pertumbuhan kredit sekaligus memastikan kualitas aset tetap terjaga," kata Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, dalam paparan publik Bank Mandiri yang digelar secara virtual, Kamis (5/2).
Bank Mandiri mencatatkan penyaluran kredit konsolidasi mencapai Rp 1.894,98 triliun. Pertumbuhannya mencapai 13,4% secara tahunan dibandingkan kredit pada 2024 sebesar Rp 1.670,54. Total aset konsolidasi Bank Mandiri juga naik 16,6% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 2.829,94 triliun.
Adapun pertumbuhan kredit tersebut juga diikuti dengan kualitas aset yang terjaga. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross bank only tercatat 0,96%, dengan coverage ratio yang tetap solid di level 253%.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Mandiri tumbuh 23,9% YoY menjadi Rp 2.105 triliun. Komposisi dana murah (CASA) tetap dominan sebesar 70,8%, mencerminkan keberhasilan strategi perseroan menjaga efisiensi biaya dana dan memperkuat likuiditas.