Bos WIKA Ungkap Divestasi Aset, Restrukturisasi hingga Perampingan Anak Usaha

ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/YU
Pekerja mengoperasikan alat berat menyelesaikan pembangunan jalan tol di ruas tol Serang-Panimbang seksi II, Lebak, Banten, Senin (23/2/2026).
8/4/2026, 07.17 WIB

PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) membeberkan langkah perusahaan jelang penggabungan usaha atau merger tujuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya menjadi tiga entitas yang ditargetkan rampung pada akhir 2026.

Direktur Utama Wijaya Karya, Agung Budi Waskito mengatakan Danantara mengarahkan BUMN karya untuk fokus pada dua prioritas utama sepanjang 2025–2026. Pertama, percepatan penyehatan kinerja perusahaan, termasuk melalui langkah restrukturisasi keuangan jika diperlukan. 

Adapun fokus kedua adalah peningkatan kualitas pelaporan agar lebih transparan dan akuntabel dibandingkan sebelumnya. Menurutnya, seluruh BUMN, khususnya BUMN karya, saat ini memprioritaskan upaya penyehatan perusahaan.  Setelah proses tersebut berjalan, kata Agung, pemerintah baru akan mendorong rencana merger BUMN karya yang ditargetkan terealisasi pada akhir 2026.

“Kami juga melakukan persiapan seiring dengan arahan Danantara yang tadi saya sampaikan. Di antara WIKA mulai tahun 2024-2025, dan ini 2026 kita juga melakukan penyehatan. 

Tak hanya itu, Agung mengatakan salah satu penyehatan keuangan yang tengah dijalankan perusahaan yakni restrukturisasi menyeluruh, baik pada fasilitas perbankan maupun instrumen obligasi dan sukuk. Ia menargetkan proses restrukturisasi tersebut dapat rampung pada semester pertama 2026. 

Selain itu, ia juga membeberkan WIKA saat ini memfokuskan strategi bisnis pada sejumlah prioritas utama. Pertama, penguatan arus kas. Kedua, peningkatan efisiensi biaya di seluruh lini operasional. Ketiga, ekspansi pasar untuk kembali merebut pangsa pasar.

Keempat, perseroan mendorong berbagai inovasi demi meningkatkan efisiensi biaya produksi atau harga pokok produksi (HPP). Terakhir melakukan penataan struktur organisasi supaya lebih efisien.

“Bagaimana laporan keuangan ini lebih baik lagi dibanding sebelumnya, baru setelah itu dimerger di 2026,” ujarnya. 

Divestasi Aset Hingga Dampak Merger ke Anak Usaha

Terkait penjualan aset, Agung mengatakan hingga saat ini rencana itu masih dalam tahap kajian. Ia menjelaskan pembahasan tersebut masuk dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) hingga 2026.

Namun, ia mengaku prosesnya masih berlangsung baik secara internal maupun melalui konsultasi dengan Danantara. Ia pun menyebut belum dapat menentukan aset mana yang akan dilepas.

Di sisi lain, selain rencana merger BUMN karya, WIKA juga tengah menyiapkan perampingan struktur anak dan cucu usaha. Agung mengaku langkah ini merupakan bagian dari arahan Danantara untuk meningkatkan efisiensi dan kesehatan grup usaha.

Ia mengatakan Wijaya Karya selaku induk usaha akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keberlanjutan (sustainability) masing-masing entitas. Anak atau cucu usaha yang dinilai tidak berkelanjutan berpotensi untuk dikurangi, ditutup, atau direstrukturisasi.

Proses perampingan anak usaha ini ditargetkan mulai berjalan pada 2026. Agung menyebut langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perseroan dalam memperkuat fundamental bisnis.

“Mungkin 2-3 minggu lagi baru bisa kita sampaikan apa saja yang akan kami kurangi, tapi kami sedang ke arah sana (perampingan anak usaha),” ungkap Agung.

WIKA Rugi Hampir Rp 10 Triliun

Apabila menilik kinerjanya, berdasarkan laporan keuangan tahunan 2025 WIKA mencatat rugi bersih sebesar Rp 9,70 triliun, membengkak 329,20% dibandingkan tahun sebelumnya Rp 2,26 triliun. Anjloknya kinerja keuangan WIKA karena pendapatan perusahaan turun menjadi Rp 13,32 triliun dari Rp 19,24 triliun secara tahunan. 

Seiring itu, beban pokok pendapatan turun menjadi Rp 12,19 triliun dari Rp 17,72 triliun. Namun, beban lain-lain melonjak menjadi Rp 6,37 triliun dari Rp 3,73 triliun, sementara rugi ventura bersama meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi Rp 1,44 triliun dari Rp 606,66 miliar. 

Alhasil, rugi sebelum pajak WIKA melebar menjadi Rp 10,12 triliun dari Rp 2,46 triliun. Di tengah tekanan tersebut, WIKA mencatat kontrak baru sebesar Rp 17,46 triliun dengan total kontrak berjalan mencapai Rp 50,52 triliun.

 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila