Wall Street Ditutup Bervariasi Dibayangi Pernyataan Trump soal Perang AS-Iran
Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) bergerak bervariasi pada perdagangan saham Selasa (7/4). Hal itu seiring pelaku pasar berharap adanya peluang tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.
S&P 500 naik tipis 0,08% ke 6.616,85, dan Nasdaq Composite menguat 0,10% ke 22.017,85. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average turun 85,42 poin atau 0,18% ke 46.584,46.
Pada awal sesi, tekanan jual sempat menekan indeks. Namun, pasar berbalik menguat menjelang penutupan setelah Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengusulkan kepada Presiden AS Donald Trump agar menunda batas waktu aksi militer terhadap Iran selama dua minggu.
Pakistan juga meminta Iran membuka kembali Selat Hormuz sebagai bentuk itikad baik untuk meredakan ketegangan.
Sementara itu, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyampaikan Trump telah mengetahui usulan tersebut dan akan segera memberikan tanggapan. Sebelumnya, Trump menetapkan tenggat waktu pukul 20.00 ET bagi Teheran agar jalur pelayaran tersebut dibuka atau bakal menghadapi potensi serangan terhadap infrastruktur Iran.
Pernyataan keras Trump sempat meningkatkan kekhawatiran pasar. Di samping itu ia tetap membuka peluang untuk tidak melancarkan serangan setelah batas waktu tersebut.
“Sekarang setelah kita memiliki perubahan rezim yang lengkap dan total, di mana pikiran-pikiran yang berbeda, lebih cerdas, dan kurang radikal mendominasi, mungkin sesuatu yang luar biasa dan revolusioner bisa terjadi, SIAPA YANG TAHU?” tulis Trump dalam akun media sosial resminya di Truth Social, dikutip CNBC International, Rabu (8/4).
Kemudian pernyataan Trump membuat investor was-was sepanjang sesi perdagangan. Kondisi ini sempat menekan harga saham dan mendorong kenaikan harga minyak, sebelum akhirnya minyak ditutup stabil.
Adapun kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate naik 54 sen ke US$ 112,95 per barel, sementara kontrak berjangka Brent turun 15 sen ke US$ 109,62 per barel.
Head of Investment Facet, Tom Graff, menilai investor perlu mengasumsikan harga minyak akan tetap jauh lebih tinggi dibandingkan level sebelum konflik. Namun, ia mengatakan potensi penutupan Selat Hormuz sebagai bagian dari taktik negosiasi.
Menurutnya, Iran kemungkinan ingin membuka kembali jalur tersebut dengan syaratnya sendiri, bukan mengikuti keinginan AS. Meski begitu, ia menegaskan tidak ada pihak termasuk Iran yang diuntungkan jika penutupan dilakukan secara permanen.
“Saya tidak melihat penutupan Selat itu bisa bertahan berbulan-bulan. Pada akhirnya, situasi di sana harus berubah,” kata Graff dikutip CNBC International, Rabu (8/4).
Di sisi lain, saham Broadcom menjadi sorotan setelah melonjak sekitar 6%. Kenaikan ini usai perusahaan menandatangani kesepakatan kecerdasan buatan yang diperluas dengan Google dan Anthropic.