IHSG Dibuka Melonjak 2,75% Usai Pengumuman FTSE dan Gencatan Senjata AS–Iran

ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/tom.
Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (25/3/2026). Usai libur Lebaran, IHSG sempat melemah 22,22 poin atau 0,31 persen ke level 7.084,62 dan bergerak berbalik arah menguat 1,05 persen atau naik 75 poin ke level 7.181,65 setelah beberapa menit dibuka.
8/4/2026, 09.21 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dibuka melonjak 2,75% ke level 7.162 pada perdagangan saham hari ini, Rabu (8/4). 

Adapun IHSG sudah bertengger di zona merah selama tiga hari beruntun dan anjlok 13,05% dalam sebulan terakhir. Pada perdagangan Selasa (7/4), IHSG ditutup turun 0,26% ke level 6.971, dengan tekanan jual yang masih mendominasi pasar. 

Volume yang diperdagangkan tercatat 899,58 juta dengan nilai transaksi Rp 554,23 miliar dan frekuensinya sebanyak 42.676 kali. Sebanyak 351 saham menguat, 69 saham terpantau turun, dan 201 saham stagnan. Tak hanya itu, kapitalisasi pasar IHSG saat dibuka pagi ini mencapai Rp 12.624 triliun.

 FTSE Russell Pertahankan Status Pasar Modal RI

Financial Times Stock Exchange atau FTSE Russell mengumumkan tidak ada perubahan status pasar saham Indonesia. Indonesia kini tetap ada dalam status status pasar pengembangan sekunder Indonesia atau secondary emerging market. 

Sebelumnya Indonesia terancam diturunkan ke frontier market atau tahap awal pasar berkembang. FTSE Russell mengatakan akan terus mencermati reformasi integritas pasar modal Indonesia. Setelah menunda peninjauan indeks pada Maret 2026, FTSE Russell kini mengevaluasi sejauh mana implementasi langkah-langkah reformasi yang ditujukan untuk meningkatkan transparansi, integritas, dan tata kelola pasar. 

“Pada tahap ini, status pasar berkembang sekunder Indonesia atau secondary emerging market status tidak berubah,” tulis FTSE dalam pengumumannya, Selasa (7/4). 

Penyedia indeks global itu menyebut Indonesia telah meluncurkan berbagai inisiatif, seperti keterbukaan pemegang saham, perluasan klasifikasi investor, penetapan batas minimum free float, hingga penguatan sistem pengawasan pasar. Menurut FTSE Russell, langkah-langkah tersebut untuk menjawab kekhawatiran sebelumnya terkait transparansi data.

Adapun kedepannya FTSE Russell akan terus memantau pelaksanaan reformasi tersebut sekaligus berinteraksi dengan pelaku pasar demi menghimpun segala masukan. Keputusan terkait perlakuan sekuritas Indonesia akan diumumkan menjelang peninjauan indeks pada Juni 2026 dengan mempertimbangkan perkembangan reformasi dan respons para pemangku kepentingan. 

“FTSE Russell tidak mempertimbangkan Indonesia untuk dimasukkan ke dalam daftar pantauan dan akan terus memantau kemajuan reformasi serta berinteraksi dengan para pelaku pasar,” tambah FTSE.

Bursa Asia dan Wall Street Bergairah

Seiring dengan itu, bursa Asia juga kompak bergairah. Nikkei melesat 5,21%, Hang Seng melonjak 2,48%, Shanghai Composite naik 1,15%, dan Straits Times naik 0,81%.

Lalu bursa Wall Street di Amerika Serikat (AS) bergerak bervariasi pada perdagangan saham Selasa (7/4). Hal itu seiring pelaku pasar berharap adanya peluang tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.

S&P 500 naik tipis 0,08% ke 6.616,85, dan Nasdaq Composite menguat 0,10% ke 22.017,85. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average turun 85,42 poin atau 0,18% ke 46.584,46.

Pada awal sesi, tekanan jual sempat menekan indeks. Namun, pasar berbalik menguat menjelang penutupan setelah Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengusulkan kepada Presiden AS Donald Trump agar menunda batas waktu aksi militer terhadap Iran selama dua minggu.

Pakistan juga meminta Iran membuka kembali Selat Hormuz sebagai bentuk itikad baik untuk meredakan ketegangan.

Sementara itu, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyampaikan Trump telah mengetahui usulan tersebut dan akan segera memberikan tanggapan. Sebelumnya, Trump menetapkan tenggat waktu pukul 20.00 ET bagi Teheran agar jalur pelayaran tersebut dibuka atau bakal menghadapi potensi serangan terhadap infrastruktur Iran.

Pernyataan keras Trump sempat meningkatkan kekhawatiran pasar. Di samping itu ia tetap membuka peluang untuk tidak melancarkan serangan setelah batas waktu tersebut.

“Sekarang setelah kita memiliki perubahan rezim yang lengkap dan total, di mana pikiran-pikiran yang berbeda, lebih cerdas, dan kurang radikal mendominasi, mungkin sesuatu yang luar biasa dan revolusioner bisa terjadi, SIAPA YANG TAHU?” tulis Trump dalam akun media sosial resminya di Truth Social, dikutip CNBC International, Rabu (8/4). 

Kemudian pernyataan Trump membuat investor was-was sepanjang sesi perdagangan. Kondisi ini sempat menekan harga saham dan mendorong kenaikan harga minyak, sebelum akhirnya minyak ditutup stabil.

Adapun kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate naik 54 sen ke US$ 112,95 per barel, sementara kontrak berjangka Brent turun 15 sen ke US$ 109,62 per barel.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila