Kinerja indeks Financial Times Stock Exchange atau FTSE Indonesia masih menunjukkan tekanan dalam jangka pendek. Dalam tiga bulan terakhir, indeks terkoreksi hingga 16%, sementara secara year-to-date (YTD) juga masih melemah.

Performa indeks ini mencerminkan belum pulihnya sentimen pasar terhadap saham-saham berkapitalisasi besar dan menengah. Tekanan tersebut tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga memperpanjang tren pelemahan dalam horizon yang lebih panjang.

Secara tahunan hingga multi-tahun, imbal hasil indeks masih mencatatkan kinerja negatif, yang menggambarkan volatilitas tinggi sekaligus belum stabilnya arah pergerakan pasar. Dalam 12 bulan terakhir, return tercatat minus 4%, memperpanjang tren koreksi yang terjadi sebelumnya.

Lebih jauh, kinerja indeks FTSE Indonesia juga terlihat belum stabil dalam jangka menengah hingga panjang. Dalam tiga tahun terakhir, return kumulatif mencapai minus 24,2%, dengan imbal hasil tahunan minus 8,8%. Bahkan dalam horizon lima tahun, return masih berada di zona negatif sebesar 7,4%.

Berikut performa dan volatilitas indeks FTSE Indonesia (Total Return)

IndikatorFTSE Indonesia (%)FTSE Indonesia USD Net Tax (%)
3M-16,0-16,2
6M-11,1-11,5
YTD-16,0-16,2
12M-4,0-5,2
3YR-24,2-26,4
5YR-7,4-11,4
Return pa 3YR-8,8-9,7
Return pa 5YR-1,5-2,4
Vol 1YR23,723,7
Vol 3YR19,919,8
Vol 5YR18,318,4

Sumber: FTSE Indonesia Index yang diumumkan pada 31 Maret 2026 

Indeks FTSE Indonesia merupakan indeks berbasis kapitalisasi pasar yang mencerminkan kinerja saham-saham berkapitalisasi besar dan menengah di Indonesia, yang menjadi bagian dari Indeks FTSE All-World. Indeks ini disusun mengacu pada FTSE Global Equity Index Series (GEIS), yang mencakup sekitar 99% dari total kapitalisasi pasar global yang dapat diinvestasikan.

Jika ditarik lebih panjang, performa tahunan indeks juga menunjukkan fluktuasi yang cukup tajam. Setelah mencatatkan kinerja positif pada periode 2016–2017, indeks sempat tertekan pada 2018 dan kembali pulih di 2019. Namun, sejak pandemi dan periode setelahnya, pola pergerakan cenderung tidak konsisten hingga kembali terkoreksi dalam dua tahun terakhir.

 

Year-on-Year Performa (Total Return)

TahunFTSE Indonesia (%)FTSE Indonesia USD Net Tax (%)
201622,321,7
201725,725,1
2018-7,1-7,6
201910,710,1
2020-6,4-7,1
20211,91,4
20224,84,1
20239,18,1
2024-12,1-13,0
2025-0,1-1,2

Sumber: FTSE Indonesia Index yang diumumkan pada 31 Maret 2026 

Di sisi lain, struktur indeks FTSE Indonesia masih ditopang kuat oleh saham perbankan besar. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memimpin dengan bobot 18,81%. Disusul oleh bank pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang masuk dalam tiga besar dengan bobot masing-masing 13,07% dan 12,16%.

NoPerusahaanSektorNet MCap (USD juta)Bobot (%)
1PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)Perbankan18.62918,81
2PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)Perbankan12.94813,07
3PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)Perbankan12.04212,16
4PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM)Telekomunikasi7.8417,92
5PT Astra International Tbk (ASII)Otomotif7.4177,49
6PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)Energi (Batu Bara)4.7624,81
7PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)Pertambangan3.4973,53
8PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)Perbankan2.6652,69
9PT United Tractors Tbk (UNTR)Alat Berat & Tambang2.5812,61
10PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO)Teknologi2.3482,37

Selain itu, jika dilihat dari sektornya, sektor keuangan menyumbang bobot terbesar mencapai 47,13%. Di posisi berikutnya, sektor bahan baku mencatatkan bobot 12,62%, sektor telekomunikasi 10,64%, sementara sektor energi dan konsumer masing-masing berkontribusi di kisaran 7%–8%.

Kode ICBIndustriJumlah EmitenNet MCap (USD juta)Bobot (%)
10Teknologi12.3482,37
15Telekomunikasi610.54510,64
20Kesehatan11.0581,07
30Keuangan546.69247,13
35Properti11470,15
40Konsumer Diskresioner28.1648,24
45Konsumer Primer77.5017,57
50Industri41.3131,33
55Bahan Baku712.49712,62
60Energi47.8357,91
65Utilitas19620,97
Total-3999.061100,00

Sumber: FTSE Indonesia Index yang diumumkan pada 31 Maret 2026 

Secara keseluruhan, karakteristik indeks FTSE Indonesia menunjukkan dominasi saham berkapitalisasi besar. Indeks ini terdiri dari 39 emiten dengan total kapitalisasi pasar mencapai US$ 99,06 miliar, serta menawarkan dividend yield sebesar 6,17%.

Rata-rata kapitalisasi pasar berada di kisaran US$ 2,54 miliar, dengan median hanya US$ 981 juta. Sementara itu, emiten terbesar memiliki kapitalisasi hingga US$ 18,62 miliar, sedangkan yang terkecil hanya sekitar US$ 147 juta.

Tingkat konsentrasi indeks juga cukup tinggi. Bobot konstituen terbesar mencapai 18,81% yang dipegang oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Bahkan, sepuluh saham terbesar menguasai 75,44% dari total kapitalisasi indeks.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila