Prabowo Jelaskan Alasan Sering ke Luar Negeri, Sebut demi Amankan Pasokan Minyak
Presiden Prabowo Subianto menjelaskan alasan di balik intensitas kunjungan luar negeri yang ia lakukan belakangan ini. Prabowo mengatakan agenda perjalanan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengamankan pasokan energi nasional, khususnya minyak.
"Dibilang Prabowo seneng jalan-jalan ke luar negeri. Saudara-saudara, untuk amankan minyak, ya gue harus ke mana-mana," kata Prabowo saat menyampaikan taklimat dalam Rapat Kerja Pemerintah di Istana Merdeka Jakarta pada Rabu (8/4).
Ketua Umum Partai Gerindra itu menyebut langkah aktif menjalin komunikasi dan kerja sama dengan berbagai negara menjadi modal penting di tengah ketatnya persaingan global dalam memperoleh sumber pasokan energi.
Ia mencontohkan kunjungannya ke Jepang pada akhir Maret lalu dinilai membuahkan hasil dalam konteks kerja sama energi. "Kita ke Jepang kemarin ya. Kita dapat," ujar Prabowo.
Prabowo mengatakan dalam waktru dekat ia bakal kembali berkunjung ke luar negeri. "Aku mau berangkat lagi ke sebuah negara, nanti begitu aku berangkat kau tahu ke mana, amankan (minyak) juga," ujarnya.
Kunjungan Prabowo ke Jepang menghasilkan sepuluh nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) kerja sama bisnis dengan total nilai US$ 23,1 miliar atau sekitar Rp 392,7 triliun. Kerja sama itu mencakup pengembangan proyek hilirisasi berbasis energi bersih hingga investasi strategis di bidang semikonduktor.
Sejumlah kerja sama yang diumumkan meliputi pengembangan proyek hilirisasi berbasis energi bersih, seperti produksi metanol dari emisi karbon, kerja sama eksplorasi dan pengembangan sektor minyak dan gas, pengembangan energi panas bumi, hingga penguatan ekosistem keuangan inklusif, dan investasi strategis.
Satu diantaranya yakni kerja sama strategis untuk pengembangan Lapangan Gas Abadi di Blok Masela, Indonesia antara PT Pertamina (Persero) dan INPEX.
Selain itu juga ada MoU untuk peluang kemitraan potensial di sektor hulu minyak dan gas di Indonesia dan Asia Tenggara antara PT Pertamina Hulu Energi dan INPEX.