Cerita Investor Nyangkut di Saham BUMN Karya: Sudah Rugi Besar, Pilih Bertahan

ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/foc.
Jembatan Layang Pasupati terlihat dari Jalan Cihampelas, Bandung, Jawa Barat, Selasa (22/2/2022).
14/4/2026, 07.35 WIB

Bayang-bayang tekanan di sektor konstruksi pelat merah semakin nyata. Setelah lama berperan sebagai penggerak utama pembangunan infrastruktur nasional, emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya kini justru menghadapi masa sulit.

Kondisi ini tidak hanya tercermin dari laporan keuangan perusahaan, tetapi juga dirasakan langsung oleh investor ritel. Sejumlah investor mengaku terjebak dalam posisi rugi besar, bahkan hingga puluhan persen. Rasa cemas kian meningkat di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Ketika kinerja fundamental melemah dan risiko gagal bayar meningkat, kepercayaan investor pun ikut tergerus. Saham-saham BUMN Karya yang sebelumnya menjadi primadona saat era pembangunan masif kini justru berbalik menjadi sumber kerugian, menahan investor dalam posisi yang sulit untuk keluar maupun bertahan.

Tekanan tersebut tercermin nyata dalam kinerja keuangan sepanjang 2025. Emiten konstruksi BUMN terpantau babak belur, dengan sebagian besar perusahaan mencatatkan kerugian besar, bahkan hingga triliunan rupiah. Imbas dari lesunya laporan keuangan, sejumlah investor pun tak bisa “kabur” dari saham-saham tersebut.

Di sisi lain, risiko di pasar juga semakin meningkat. Sejumlah saham BUMN Karya kini ada yang telah lama disuspensi dan bahkan terancam delisting oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), menambah tekanan bagi investor yang sudah terlanjur masuk.

Berikut kinerja emiten BUMN Karya:

EmitenPerusahaanKinerja 2025Kinerja 2024 (Rp)
PTPPPT PP Tbk (PTPP)(Rp 8,08 triliun)(Rp 1.8 triliun)
PPREPT PP Presisi Tbk(Rp 1.34 triliun)Rp 197,98 miliar
PPROPT PP Properti Tbk(Rp 4,84 triliun)(Rp 1,09 triliun)
WIKAPT Wijaya Karya (Persero) Tbk(Rp 10,18 miliar)(Rp 2,59 miliar)
WTONPT Wijaya Karya Beton TbkRp 5,7 miliarRp 67,56 miliar
WEGEWijaya Karya Bangunan Gedung( Rp 627,92 miliar)Rp 56,6 miliar
WSKTPT Waskita Karya(Rp 4.36 triliun)(Rp 3.83 triliun)
WSBPWaskita Beton Precast(Rp 495,46 miliar)(Rp 920,21 miliar)
ADHIPT Adhi Karya Tbk(Rp 5,56 triliun)Rp 113,26 miliar
ADCPPT Adhi Commuter Properti TbkBelum diumumkanRp 42,8 miliar

Sumber: diolah dari laporan keuangan perusahaan 

Investor Terjebak, Pilih Bertahan

Seorang investor ritel, Fahrezi (26), mengaku masih menahan saham Adhi Karya (ADHI) yang dibelinya sejak 2020, ketika prospek pembangunan infrastruktur dinilai tengah masif.

Ia tertarik masuk ke saham ADHI dan anak usahanya ADCP karena menggarap proyek tol, LRT, hingga pengembangan kawasan hunian berbasis transportasi. Seiring dengan itu, ia juga mengoleksi saham Waskita Karya (WSKT).

Fahrezi membeli saham tersebut di awal dirinya berinvestasi di pasar modal, tepat setelah lulus SMA. Ia masuk di harga rata-rata sekitar Rp 820 dengan ekspektasi harga bisa naik ke kisaran Rp 1.200. Namun hingga kini, ia mencatatkan kerugian sekitar 70% dan memilih tetap menahan sahamnya.

“Sepertinya bakal hold saja. Saya sudah enggak berharap naik sih, ragu kalau untuk balik ke harga awal saya beli,” kata Fahrezi.

Ia membiarkan saham ADHI di portofolionya sebagai pengingat agar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Ia juga semakin pesimistis setelah melihat kinerja keuangan yang masih merugi dan sejumlah proyek terhambat.

Menurutnya, prospek sektor konstruksi ke depan juga kurang menarik, seiring fokus pemerintah yang bergeser ke sektor pangan, energi, dan industri ekstraktif. Ia pun menilai kecil kemungkinan harga saham ADHI kembali ke level 2020.

“Tapi untungnya sekarang nominal portofolio saham saya bertambah, tapi pengalaman beli saham ADHI bakal terus membekas,” ujarnya.

Meski begitu, Fahrezi melihat wacana merger Adhi Karya yang kini berada di bawah holding Danantara berpotensi memberikan perbaikan, terutama dari sisi efisiensi dan skala aset. Namun, ia menilai persoalan utama BUMN Karya bukan pada manajerial, melainkan ketergantungan terhadap proyek pemerintah.

Menurutnya, ketika pemerintah mendorong proyek jumbo dengan dampak yang belum terukur, BUMN Karya tetap harus menjalankannya. Kondisi ini justru membebani kinerja keuangan, bahkan menyebabkan kasus gagal bayar seperti yang dialami Waskita Karya.

“Jadi menurut saya dipantau saja sambil terus berdoa,” ujarnya.

Ekspektasi IKN Berujung Kerugian

Investor ritel lainnya, Dessy (41), juga mengaku mengoleksi saham Waskita Karya (WSKT) dan Wijaya Karya (WIKA) sejak 2020, didorong oleh optimisme pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Namun, realisasinya tidak sesuai ekspektasi. Ia justru mencatatkan kerugian hingga 70%. Meski demikian, Dessy memilih tetap menahan sahamnya karena khawatir kerugian semakin besar jika melakukan cut loss saat ini.

“Kalau cutloss jadi rugi banget, jadi ekspektasi seenggaknya tunggu ruginya nyusut sampai 30%,” ujarnya.

Ia menilai saham BUMN yang seharusnya ditopang fundamental kuat justru lebih sering “digoreng” di pasar. Kekecewaannya terhadap pasar saham domestik pun meningkat, terutama terhadap saham pelat merah seperti WSKT dan WIKA yang kini tertekan.

“Korban saham gorengan negara, harus ngadu siapa coba,” kata Dessy.

Adapun saham WIKA saat ini disuspensi oleh bursa karena penundaan pembayaran kewajiban obligasi dan sukuk yang jatuh tempo pada 3 Maret 2026.

Otoritas BEI menyatakan, penundaan tersebut mengindikasikan adanya permasalahan pada kelangsungan usaha perseroan.

Selain WIKA, saham WSKT juga berada di ujung tanduk. Bursa Efek Indonesia sempat mengumumkan bahwa perusahaan tersebut terancam delisting.

Saat ini, saham WIKA berada di level Rp 204 dengan kapitalisasi pasar Rp 8,13 triliun, sementara WSKT di Rp 202 dengan kapitalisasi pasar Rp 5,82 triliun.

Nyangkut di PPRE

Lalu investor ritel lainnya, Aji (35) mengaku masuk saham PP Presisi (PPRE) usai melihat pola candlestick PPRE tengah naik saat itu. Kemudian ia tergirur dengan adanya rekomendasi dari komunitas trader. 

Selain itu, berkaca dari pengalaman sebelumnya, dirinya sempat meraup untung dari saham PPRE dan sudah taking profit. Lalu ia masuk ke saham PPRE lagi menjelang rilis laporan keuangan.

Namun, pergerakan saham tidak sesuai ekspektasi. Hingga saat ini, posisinya tercatat merugi sekitar 54%. Meski demikian, ia memilih membiarkan saham tersebut tetap di portofolionya dan tidak ada rencana cut loss.

“Didiemin aja sih. Mau cutloss udah kejauhan, jadi buat invest longterm aja berharap naik,” kata Aji ketika dihubungi Katadata.co.id, Kamis (8/4). 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila