Target Ambisius Antam (ANTM) Pecahkan Rekor ATH Penjualan Emas pada 2026
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam berambisi untuk memecahkan rekor penjualan emas sepanjang masanya atau all-time high (ATH) pada 2026. Emiten pertambangan pelat merah di bawah holding MIND ID itu juga mengungkapkan kabar terbaru sejumlah proyek perseroan, termasuk Project Dragon yang berfokus pada pengembangan ekosistem baterai EV senilai total US$ 16 miliar.
Dalam earnings call bersama Stockbit, manajemen ANTM menyampaikan volume penjualan emas tahun ini berpotensi menyamai bahkan melampaui capaian 2024 sebesar 1,4 juta ons (oz). Hingga Maret 2026, realisasi penjualan disebut masih berada di jalur yang sesuai target, meski harga emas berfluktuasi.
“Optimistis volume penjualan selama 2026 dapat menyamai atau melebihi all-time high perseroan yang dicatat pada 2024 di 1,4 juta oz. Run-rate volume penjualan hingga Maret 2026 on track dengan target tersebut, meski harga fluktuatif,” tulis Stockbit dalam ANTM Earnings Call, dikutip Selasa (14/4).
Selain itu, ANTM menargetkan peningkatan porsi pasokan emas dari domestik menjadi 50–60% pada 2026. Kenaikan ini seiring dengan peningkatan produksi dari sejumlah mitra tambang perseroan, seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), serta Freeport. Sebagai perbandingan, pada 2025 pasokan emas domestik ANTM masih berada di kisaran 40%, sementara sekitar 60% berasal dari impor.
Adapun volume penjualan emas ANTM pada 2025 tercatat sekitar 37,4 ton, turun dari 43,8 ton pada 2024. Penurunan ini dipengaruhi gangguan operasional Freeport Indonesia akibat force majeure di tambang Grasberg
ANTM Kantongi Kuota Produksi Penuh di Bisnis Nikel
Di segmen nikel, ANTM memperoleh kuota produksi bijih sebesar 18,1 juta wet metric tons (wmt) dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Jumlah tersebut meningkat dari 16,4 juta wmt pada 2025.
Manajemen menargetkan cash cost pada 2026 berada di kisaran US$ 21–24 per wmt. Jumlah tersebut relatif stabil dibandingkan pada 2025 yang berada di sekitar US$ 21,5 per wmt. Perseroan menilai potensi revisi kenaikan kuota produksi nikel nasional pada pertengahan tahun ini tidak akan berdampak signifikan terhadap keseimbangan pasokan dan harga.
Selain itu, manajemen juga menyatakan ANTM juga tidak berencana agresif menambah kuota produksi dalam periode revisi RKAB, mengingat perusahaan telah memperoleh alokasi penuh. Sementara itu, rencana pemerintah untuk menaikkan harga patokan mineral (HPM) nikel dinilai hanya berdampak terbatas terhadap harga jual.
Adapun terkait wacana penerapan bea ekspor nikel olahan, manajemen belum memberikan perincian lebih lanjut. Hingga kini, kebijakan tersebut masih dalam tahap pembahasan oleh pemerintah.
Proyek Bauksit dan Alumina di Mempawah Mulai Beroperasi
Selanjutnya, pada komoditas bauksit, ANTM memperoleh kuota produksi sebesar 4,8 juta wmt dalam RKAB 2026. Sekitar 3 juta wmt akan berasal dari tambang Tayan, sedangkan sisanya dari Mempawah, Kalimantan Barat.
Proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah yang secara efektif dimiliki 40% oleh ANTM telah memasuki tahap commissioning pertama pada kuartal pertama 2026. Produk yang dihasilkan disebut telah memenuhi standar kualitas milik Inalum dan pasar ekspor.
Saat ini, pembahasan terkait tambahan kapasitas SGAR sebesar 1 juta ton masih berada dalam tahap studi kelayakan bersama Inalum dan MIND ID.
ANTM menganggarkan belanja modal (capex) sekitar Rp7 triliun atau setara US$400 juta pada 2026. Sekitar Rp3,3 triliun akan dialokasikan untuk Project Dragon, sementara sisanya untuk pembangunan fasilitas precious metal refinery di Gresik serta commissioning proyek PT Feni Haltim.
Manajemen juga mengungkapkan sensitivitas terhadap kenaikan harga minyak. Jika harga minyak Brent mencapai US$130 per barel, maka cash cost diperkirakan naik sekitar 12% menjadi US$24 per wmt. Namun, dampaknya terhadap laba bersih relatif terbatas, hanya sekitar 2–3%, mencerminkan margin perseroan yang masih kuat.
Incaran Proyek Hilirisasi dan Ekspansi ke Depan
Menatap ke depan, manajemen ANTM mengungkapkan sederet update terbaru proyek-proyek perseroan. Adapun manajemen emiten tambang emas negara itu mengaku perseroan tengah mendorong proyek hilirisasi nikel.
Adapun Project Dragon yang digarap bersama konsorsium Huayou ditargetkan merampungkan kerangka joint venture pada akhir 2026. Proyek ini diperkirakan membutuhkan tambahan pasokan bijih saprolit 7 juta wmt dan limonit 3 juta wmt per tahun mulai 2027–2028.
Untuk proyek RKEF Haltim, di mana ANTM memiliki 40% kepemilikan dengan kapasitas 88 ribu ton NPI, konstruksi telah dimulai sejak kuartal IV 2025 dan ditargetkan beroperasi pada pertengahan 2027.
Sementara itu, proyek HPAL Haltim dengan kapasitas 55 ribu ton mixed hydroxide precipitate (MHP) telah memasuki tahap pembentukan entitas joint venture. Keputusan investasi final ditargetkan rampung pada triwulan kedua 2026 dengan konstruksi dimulai pada paruh kedua 2027.
Di sisi lain, proyek IBC Precursor di Karawang ditargetkan selesai pada akhir 2026. Adapun proyek Precursor Cathode Active Material di Halmahera Timur masih dalam tahap studi kelayakan.
Sebagai potensi tambahan kinerja, manajemen menyebut adanya peluang penerimaan tambahan dari CATL terkait konversi sumber daya menjadi cadangan dari divestasi 49% saham PT Sumberdaya Arindo senilai sekitar US $417 juta. Nilai tersebut ditargetkan terealisasi pada akhir 2026.