Adu Rapor Keuangan 2025 Emiten Anthoni Salim dari INDF hingga BUMI, Siapa Juara?

Arief Kamaludin | Katadata
Pengusaha nasional Anthoni Salim.
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
15/4/2026, 12.01 WIB

Sejumlah emiten milik konglomerat Anthoni Salim sudah melaporkan kinerja keuangan mereka sepanjang 2025. Mayoritas emiten dalam Grup Salim itu mencatatkan pertumbuhan, baik dari sisi laba bersih maupun kinerja saham.

Kinerja positif tersebut turut mendongkrak kekayaan Anthoni Salim dan keluarganya. Berdasarkan laporan Forbes 2025, harta kekayaan keluarga Salim mencapai US$ 13,6 miliar, menempatkannya sebagai orang terkaya kelima di Indonesia.

Sementara itu, data Forbes Billionaires per Rabu (15/4) mencatat kekayaan Anthoni Salim sebesar US$ 12,1 miliar atau setara Rp 207,33 triliun (kurs Rp 17.135 per dolar AS). Nilai tersebut menempatkannya di posisi keempat orang terkaya di Indonesia. Posisi ini melonjak dibandingkan pantauan Katadata pada 25 Februari lalu, ketika namanya belum masuk dalam daftar 10 besar orang terkaya di Tanah Air.

Di sektor barang konsumer primer, dua emiten Salim yang menjadi produsen mi instan merek Indomie mencatatkan kinerja keuangan yang moncer. Namun kinerja saham perseroan pada 2025 justru loyo.

Di sektor perkebunan kelapa sawit, baik kinerja keuangan dan kinerja saham dua perusahaannya kompak tumbuh pada tahun lalu. Sementara di sektor komoditas batu bara dan minyak, performa kinerja emitennya malah tidak searah.

Lantas bagaimana perincian kinerja keuangan bisnis-bisnis Anthoni Salim sepanjang 2025? Berikut ulasan singkatnya.

Sektor Barang Konsumer Primer: INDF-ICBP

Dua emiten utama Salim di sektor barang konsumsi, yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan anak usahanya PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), membukukan kinerja positif pada Tahun Buku 2025.  

Pendapatan INDF naik hingga 7% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp 123,49 triliun pada tahun lalu dibandingkan Rp 115,79 triliun pada 2024. Kemudian, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 24% YoY menjadi Rp 10,68 triliun dari sebelumnya Rp 8,64 triliun.

Anthoni Salim menyampaikan, di tengah tekanan kondisi makroekonomi, perusahaan masih berada dalam posisi solid dengan mencatatkan pertumbuhan penjualan dan laba. Direktur utama sekaligus chief executive officer (CEO) Indofood itu menuturkan, kinerja 2025 ditopang model bisnis yang terintegrasi secara vertikal. Adapun ke depannya perusahaan akan tetap berfokus pada upaya menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan.

Di samping itu, anak usaha INDF, ICBP, mencatatkan penjualan neto konsolidasi sebesar Rp 74,85 triliun sepanjang 2025. Torehan itu naik 3% YoY menjadi dari Rp 72,60 triliun pada tahun sebelumnya.

Seiring dengan kenaikan penjualan itu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 30% YoY menjadi Rp 9,22 triliun dibandingkan Rp 7,08 triliun pada 2024. Laba usaha juga naik 2% YoY menjadi Rp 16,66 triliun dari Rp 16,32 triliun, dan margin laba usaha stabil di 22,3%.

Salim mengatakan, di tengah tekanan makroekonomi, ICBP tetap mampu menunjukkan ketahanan kinerja keuangan sepanjang 2025 dan menjaga posisinya sebagai pemimpin di industri barang konsumsi. Ke depan, perusahaan akan terus meningkatkan relevansi produk lewat inovasi yang berfokus pada kebutuhan konsumen.

Sektor Komoditas: BUMI-MEDC

Di bisnis komoditas, Salim memiliki saham di PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Medco Energi Tbk (MEDC). Salim tercatat menajdi pemegang manfaat akhir BUMI. 

Adapun BUMI membukukan laba bersih sebesar US$ 81,01 juta atau setara Rp 1,37 triliun pada Tahun Buku 2025. Torehan itu melonjak 21% secara tahunan dari periode Tahun Buku 2024 senilai US$ 67,47 juta atau sekitar Rp 1,14 triliun.  

Berdasarkan laporan keuangan 2025, pendapatan BUMI juga naik 4,79% YoY menjadi US$ 1,42 miliar atau sekitar Rp 24,20 triliun dari sebelumnya US$ 1,35 miliar atau Rp 23,09 triliun.  

Secara terperinci, pendapatan BUMI ditopang oleh penjualan batu bara kepada pihak ketiga yang mencapai US$ 1,17 miliar. Pendapatan itu terdiri atas ekspor sebesar US$ 820,5 juta dan penjualan domestik sebesar US$ 354,8 juta. 

Selain itu, kontribusi dari penjualan emas tercatat sebesar US$ 242,3 juta, yang didominasi oleh pasar domestik sebesar US$ 230 juta. Sementara ekspor mencapai US$ 12,2 juta. Adapun penjualan perak berkontribusi terhadap pendapatan sebesar US$ 7,04 juta, dengan kontribusi utama dari pasar domestik. 

Sementara itu, MEDC membukukan laba bersih sebesar US$101 juta atau sekitar Rp 1,89 triliun sepanjang 2025. Namun, capaian tersebut turun 63,16% dibandingkan laba tahun sebelumnya yang mencapai US$ 367 juta.

Manajemen MEDC menjelaskan, penurunan laba terutama disebabkan oleh kontribusi yang lebih rendah dari PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), serta adanya penurunan nilai aset nonkas. Selain itu, biaya pengeboran sumur kering (dry hole) di PSC Beluga dan melemahnya harga komoditas turut menekan kinerja perseroan.

Sektor Perkebunan Sawit: LSIP-SIMP

Tak hanya itu, Salim juga punya bisnis di sektor perkebunan kelapa sawit. Adapun laba bersih PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) melonjak 27,89% YoY menjadi Rp 1,88 triliun, dari  sebelumnya Rp 1,47 triliun.

LSIP membukukan penjualan sebesar Rp 5,51 triliun dari Rp 4,56 triliun secara YoY. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh peningkatan harga jual rata-rata serta volume penjualan produk sawit.

Sementara itu, PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) membukukan kenaikan laba bersih sebesar 33% menjadi menjadi Rp 2,06 triliun. Perseroan mencatatkan kenaikan 32% menjadi Rp 21,06 triliun pada 2025 dari Rp 15,96 triliun di tahun sebelumnya.

Daftar Kinerja Keuangan Gurita Bisnis Salim pada 2025

NoEmitenLaba 2025Laba 2024Selisih (%)Harga saham 2 Januari 2025 (per saham)Harga Saham 30 Desember2025 (per saham)Selisih (%)
1.PT Bumi Resources Tbk (BUMI)Rp 1,37 triliunRp 1,14 triliun21%Rp 123Rp 366210,17% 
2. PT DCI Indonesia Tbk (DCII)Rp 1 triliunRp 796,82 miliar25,74%Rp 42.100Rp 200.000375,05%
3.PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET)Rp 1,25 triliunRp 1,07 triliun 16,82%Rp 9.000Rp 9.075 0,83%
4.PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP)Rp 9,22 triliunRp 7,07 triliun30,41%Rp 11.225Rp 8.200-26,94%
5.PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)Rp 10,68 triliunRp 8,64 miliar24%Rp 7.475Rp 6.775 -9,36%
6.PT PP Londin Sumatra Indonesia Tbk (LSIP)Rp 1,88 triliunRp 1,47 triliun27,89%Rp 995Rp 1.19520,50%
7.PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)Rp 1,89 triliunRp 6,13 triliun-63,16%Rp 1.120Rp 1.34520,08%
8.PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP)Rp 2,06 triliunRp 1,54 triliun 33,76%Rp 378Rp 57050,79%

Sumber: laporan keuangan masing-masing emiten serta data perdagangan BEI, dikutip Rabu (15/4).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri