Pipeline Surat Utang Korporasi Tembus Rp 66 T, 12 BUMN Incar Rp 17 T

Unsplash
Ilustrasi surat utang atau obligasi. Pefindo mencatat total penerbitan surat utang korporasi pada kuartal pertama 2026 mencapai Rp 59,4 triliun, meningkat 26,97% YoY.
16/4/2026, 11.21 WIB

Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengantongi pipeline atau mandat emisi surat utang korporasi mencapai Rp 66,28 triliun hingga kuartal pertama 2026. Adapun penerbitan baru surat utang 2026 diperkirakan berkisar Rp 154 triliun–Rp 196,86 triliun, dengan titik tengah pada Rp 175,77 triliun.

Pefindo juga mencatat, mandat penerbitan surat utang yang diterima hingga 2026 didominasi oleh perusahaan non-BUMN. Dari total 45 perusahaan, sebanyak 33 di antaranya berasal dari kelompok non-BUMN dengan rencana emisi mencapai Rp 48,81 triliun.

Sementara dari kelompok BUMN, termasuk anak usaha BUMN dan BUMD, terdapat 12 perusahaan dengan total rencana penerbitan sebesar Rp 17,47 triliun.

Head of Economic Research Division Pefindo, Suhindarto mengungkapkan, dari total mandat penerbitan surat utang itu, skema penawaran umum berkelanjutan (PUB) obligasi paling dominan dengan nilai mencapai Rp 32,98 triliun. Kemudian, penerbitan obligasi tercatat sebesar Rp 12,91 triliun, disusul PUB sukuk senilai Rp 12,45 triliun.

Dia beranggapan, aktivitas penerbitan surat utang pada awal 2026 masih tergolong semarak. Menurutnya, kondisi yield yang relatif rendah sepanjang Januari hingga Februari dimanfaatkan emiten untuk menghimpun pendanaan dari pasar obligasi.

Selain itu, realisasi penerbitan pada kuartal pertama 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan nilai jatuh tempo pada periode yang sama. Sepanjang kuartal pertama 2026, penerbitan mencapai Rp 26,88 triliun, sementara nilai jatuh tempo pada kuartal kedua 2026 sebesar Rp 28,33 triliun. 

Pefindo menilai rendahnya yield obligasi korporasi menopang aktivitas penerbitan surat utang hingga Maret lalu. Hal ini tercermin dari tingkat yield yang lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, volatilitas yield juga terbilang rendah sepanjang kuartal tersebut. Kondisi ini terlihat dari selisih antara level tertinggi dan terendah yield yang relatif sempit.

“Tapi kenaikan yield baru-baru ini menjadi faktor negatif yang perlu diantisipasi ke depan,” kata Suhindarto dalam Konferensi Pers Pefindo, Rabu (15/4).

Secara terperinci, total penerbitan surat utang korporasi pada kuartal pertama 2026 tercatat mencapai Rp 59,4 triliun, meningkat 26,97% YoY dibandingkan realisasi pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 46,8 triliun.

Dari jumlah tersebut, penerbitan obligasi korporasi dan sukuk mendominasi dengan nilai Rp 52,4 triliun. Angka itu naik 12,96% secara tahunan dari Rp 46,4 triliun pada kuartal pertama 2025.

Sementara itu, instrumen Medium Term Notes (MTN) melonjak  signifikan dengan nilai penerbitan mencapai Rp 7 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan Rp 4 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

“Sementara itu, belum ada penerbitan efek utang lainnya (sekuritisasi dan SBK) pada kuartal pertama 2026,” katanya.

 
 
 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila