IHSG Berpotensi Rebound, Analis Rekomendasikan Saham BRMS, EMTK, ICBP, NCKL
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diprediksikan naik atau rebound pada perdagangan bursa akhir pekan ini, Jumat (17/4). Pada perdagangan Kamis (16/4) kemarin, IHSG ditutup melemah 0,03% ke level 7.621, di tengah tekanan jual.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai posisi IHSG saat ini tengah bergerak pada bagian wave [iv] dari wave A (label hitam) atau alternatifnya wave B (label merah).
Dalam skenario tersebut, IHSG berpeluang menguat menuju kisaran 7.786–7.843, sekaligus menguji area resistance terdekatnya.
“Cermati area koreksi terdekat yang berada di 7.453–7.575 kembali,” tulis Herditya dalam risetnya, Jumat (17/4).
MNC Sekuritas menetapkan support IHSG berada di 7.488 dan 7.351. Sementara resistance terdekat berada di 7.700 dan 7.861.
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.
Sementara resistance adalah tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.
MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness sejumlah saham. Salah satunya PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) untuk akumulasi beli di rentang Rp 815–Rp 835 dengan target harga di Rp 940–Rp 1.025, sementara level stoploss di bawah Rp 790.
Kemudian, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 545–Rp 565 dengan target harga di Rp 600–Rp 635, serta stoploss di bawah Rp 520.
Sentimen IHSG
Di samping itu, Phintraco Sekuritas melihat perundingan AS–Iran yang diharapkan dapat menghentikan perang dan turunnya harga minyak mentah masih menjadi faktor positif indeks. Namun secara teknikal, kondisi IHSG yang masih berada di area overbought mendorong aksi ambil untung atau profit taking.
“Sehingga diperkirakan IHSG masih akan bergerak sideways pada kisaran 7.550-7.700,” tulis Phintraco dalam analisisnya, Jumat (17/4).
Di samping itu rupiah ditutup menguat tipis 0,02% ke level Rp 17.136 per dolar AS pada perdagangan Kamis (16/4), sejalan dengan penguatan mayoritas mata uang kawasan. Kendati demikian, sentimen pasar masih dibayangi ketidakpastian geopolitik serta kekhawatiran terhadap prospek ekonomi domestik.
Di tengah kondisi tersebut, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) menjadi salah satu pilihan investor karena menawarkan imbal hasil yang relatif tinggi. Melemahnya rupiah mendorong Bank Indonesia untuk meningkatkan intervensi di pasar, termasuk melalui optimalisasi SRBI sebagai instrumen penyerap likuiditas guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Seiring tekanan terhadap rupiah yang berlanjut, Bank Indonesia juga meningkatkan frekuensi lelang SRBI dari satu kali menjadi dua kali dalam sepekan sejak Februari 2026.
Di sisi global, International Monetary Fund (IMF) atau Dana Moneter Internasional memproyeksikan potensi kekurangan pasokan minyak mentah pada 2026. Menurut mereka, hal itu tetap akan terjadi bahkan jika konflik antara Amerika Serikat dan Iran mereda dalam waktu dekat.
IMF juga mengingatkan pemerintah untuk tidak agresif menambah subsidi energi, meski harga berpotensi meningkat. Ini mengingat kondisi fiskal global yang sudah tertekan sebelum konflik terjadi.
“IEA (Badan Energi Internasional) memperkirakan pasokan minyak global tahun ini turun menjadi 10.1 juta bpd, namun IEA juga memprediksi terjadinya penurunan tajam permintaan minyak,” tulis Phintraco.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).