Perkawinan dua konglomerat antara Prajogo Pangestu dan emiten afiliasi Hapsoro Sukmonohadi alias Happy Hapsoro PT Singaraja Putra Tbk (SINI) mewarnai kuartal kedua 2026 ini. Prajogo Pangestu melalui Petrosea Tbk (PTRO) melepas bisnis tambangnya ke SINI.
Aset tambang yang dialihkan tersebut adalah perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di Kutai Barat, Kalimantan Timur yaitu PT Kemilau Mulia Sakti (KMS). Selanjutnya SINI akan melakukan penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHETD) atau rights issue dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 721.500.000 saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham. Asumsi harga pelaksanaan adalah Rp 5.000 per saham.
Perseroan berpotensi mengantongi dana segar Rp 3,6 triliun dari aksi itu, yang akan mendongkrak kas perusahaan. Masuknya dana tersebut diproyeksikan meningkatkan total aset menjadi hampir Rp 4 triliun.
Lewat dana hasil aksi rights issue, SINI berencana mengakuisisi 507.380.875 saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) yang dimiliki PT Petrosea Tbk (PTRO) atau setara dengan 99,995%. Transaksi ini dilakukan berdasarkan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat yang ditandatangani pada 15 April 2026.
Adapun kegiatan usaha KMS meliputi berbagai sektor, yaitu aktivitas di bidang keuangan dan asuransi, kegiatan perusahaan holding, serta bidang usaha aktivitas profesional, ilmiah, dan teknis. Selain itu, KMS juga menjalankan aktivitas konsultasi manajemen lainnya, dan bergerak di sektor pertambangan dan penggalian, khususnya pertambangan batu bara.
“Nilai dari rencana pengambilalihan KMS sebesar Rp 1,73 triliun,” ungkap manajemen SINI dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Senin (20/4).
Demi mengeksekusi aksi tersebut, SINI dijadwalkan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 26 Mei 2026.
Pertimbangan Caplok Anak Usaha PTRO
Manajemen SINI menyampaikan langkah akuisisi anak usaha PTRO merupakan bagian dari strategi perseroan sebagai perusahaan holding untuk meningkatkan kinerja secara berkelanjutan. Hal itu juga dmei memperkuat ketahanan bisnis jangka panjang dan menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham di masa depan melalui investasi pada sektor usaha yang memiliki potensi pertumbuhan.
Menurut perusahaan industri pertambangan batu bara dinilai masih memiliki prospek positif dalam jangka menengah. Permintaan global terhadap batu bara disebut tetap terjaga, terutama dari negara-negara yang masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga uap seperti Cina dan India.
“Berdasarkan publikasi dari International Energy Agency, konsumsi batu bara di kawasan Asia juga diperkirakan masih akan menjadi penopang utama permintaan global,” ungkap manajemen.
Dari sisi domestik, berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, kebutuhan listrik nasional diperkirakan tumbuh rata-rata sekitar 5,3% per tahun. Kondisi ini mendorong kebutuhan penambahan kapasitas pembangkit serta infrastruktur pendukung oleh PT PLN (Persero).
Meskipun porsi energi baru terbarukan terus meningkat, batu bara masih menjadi komponen utama dalam bauran energi nasional, dengan kontribusi sekitar 73% pada 2026 dan diproyeksikan masih berada di kisaran 52% pada 2034..
Dengan mempertimbangkan kondisi itu dan prospek permintaan batu bara yang masih tinggi baik dari pasar domestik maupun global, SINI berencana memperluas dan meningkatkan investasi pada perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan batu bara melalui pengambilalihan KMS.
Rencana ini sejalan dengan strategi SINI untuk memperkuat investasi dengan menjadi pengendali KMS dan entitas anaknya yang bergerak di sektor pertambangan batu bara.
“Yang mana hal ini akan menambah cakupan bisnis perusahaan di bidang pertambangan batu bara,” ungkap manajemen SINI.
Rencana CUAN Mau Caplok Singaraja Putra (SINI)
Seiring dengan rencana SINI mengakuisisi entitas anak usaha PTRO, sebelumnya emiten pertambangan milik Prajogo Pangestu PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) justru bakal mencaplok emiten milik Happy Hapsoro PT Singaraja Putra Tbk (SINI).
CUAN menyebut setelah rencana pengambilalihan rampung dapat menguasai sedikitnya 51% saham SINI dan sekaligus menjadi pengendali SINI.
Manajemen Petrindo Jaya Kreasi menyampaikan CUAN melalui entitas anaknya PT Kreasi Jasa Persada beserta afiliasinya telah memiliki secara tidak langsung sebesar 19,99% dari modal ditempatkan dan disetor PT Singaraja Putra Tbk (SINI).
Saat ini, progresnya CUAN tengah melakukan negosiasi dengan pemegang saham pengendali SINI untuk membahas mekanisme pengambilalihan, termasuk perkiraan jumlah saham, harga, serta waktu penyelesaian transaksi.
“Serta sebagai bagian dari rencana pengembangan usaha jangka panjang grup CUAN untuk menjadi perusahaan pertambangan dan jasa pertambangan yang terintegrasi,” ucap manajemen CUAN dalam keterbukaan informasi BEI, Desember 2025 lalu.