Tak Jadi Masuk MSCI, Saham BUMI Rp 700 Miliar Dilego Asing dalam 7 Hari

PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
Pemandangan umum aktivitas penambangan oleh PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Penulis: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy
22/4/2026, 10.56 WIB

Saham PT Bumi Resources Tbk terpantau terus dibuang investor asing selama tujuh hari perdagangan berturut-turut. Sepanjang periode 13–21 April 2026, total nilai jual bersih atau net sell investor asing di saham emiten tambang patungan Grup Salim dan Bakrie itu mencapai Rp 700,3 miliar.

Pada perdagangan Selasa (21/4), investor asing tercatat melepas saham BUMI senilai Rp 51,1 miliar. Sehari sebelumnya, Senin (20/4), nilai jual bersih mencapai Rp 94,4 miliar. Tekanan jual juga terjadi pada Jumat (17/4) sebesar Rp 107,3 miliar, serta Senin (13/4) senilai Rp 32,1 miliar.

Kendati demikian, harga saham BUMI pada perdagangan hari ini secara intraday pukul 10.15 WIB masih terpantau naik 2,5% ke Rp 246 per saham. Dalam tiga bulan terakhir, saham ini anjlok 36,79% dan merosot 33,33% secara tahun berjalan (year to date).

Saat ini, kapitalisasi pasar BUMI tercatat sebesar Rp 90,60 triliun, dengan porsi saham publik atau free float mencapai 41,32%. Nilai transaksi sahamnya pada hari ini tercatat Rp 224,19 miliar.

Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, menilai tekanan jual investor asing di saham BUMI memang cukup besar. Namun, tekanan tersebut sebagian diimbangi oleh aksi beli investor domestik. Imbasnya, harga saham BUMI tidak jatuh terlalu dalam.

“Tapi untung saja menggunakan harga saham BUMI kan saat ini masih belum dalam kondisi downtrend. Jadi ada fase akumulasi yang terbentuk di situ,” ujar Nafan kepada Katadata, Rabu (22/4).

Dia menjelaskan, aksi jual investor asing kemungkinan dipicu oleh strategi rebalancing portofolio, terutama di tengah ketidakpastian terkait indeks global seperti MSCI. Sebelumnya, kebijakan interim treatment alias pembekuan sementara indeks RI oleh MSCI serta penundaannya turut memengaruhi sentimen pasar terhadap saham-saham tertentu, termasuk BUMI.

Apalagi BUMI sebelumnya sempat digadang-gadang menjadi calon kuat penghuni indeks bergengsi MSCI. Namun, karena MSCI membekukan saham Indonesia sejak periode Februari dan berlanjut pada periode Mei nanti, investor asing melakukan rebalancing portofolio.

Ke depan, Nafan menilai upaya manajemen untuk meningkatkan porsi saham publik (free float) menjadi faktor penting agar saham BUMI kembali menarik bagi investor global, termasuk peluang masuk indeks MSCI.

Di sisi fundamental, kinerja perseroan dinilai masih cukup posiitf. Selain itu, BUMI juga mulai melakukan diversifikasi ke sektor nonbatu bara sebagai langkah mitigasi di tengah harga batu bara global yang cenderung melemah.

“Diversifikasi ini menjadi strategi penting agar kinerja perseroan tetap terjaga,” kata Nafan.

Dia merekomendasikan investor melakukan akumulasi saham BUMI dengan target harga ke Rp 336 per saham.

Sementara itu, Phintraco Sekuritas memberikan target harga saham BUMI ke level Rp 260, Rp 280, dan Rp 300. “Spinning bottom yang terbentuk menjadi indikasi awal rebound hingga rally lanjutan yang divalidasi jika mampu close di atas resistance 226,” tulisnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri