Laba Unilever (UNVR) Melonjak 73% di Kuartal I 2026, Bagaimana Arah Bisnisnya?

123rf/Balazs Sebok
Ilustrasi kantor/gedung Unilever di Thailand
30/4/2026, 13.19 WIB

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) membukukan laba bersih Rp 2,14 triliun hingga kuartal pertama 2026. Torehan itu melonjak 73% year on year (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 1,23 triliun.

Berdasarkan laporan keuangannya, penjualan bersih Unilever Indonesia juga naik 2,8% yoy menjadi Rp 8,44 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp 8,21 triliun.  Secara rinci penjualan dalam negeri sebesar Rp 5,82 triliun dan ekspor Rp 222,68 miliar. Sedangkan makanan dan minuman dari segmen dalam negeri sebesar Rp 2,39 triliun. 

Presiden Direktur Unilever Indonesia, Benjie Yap menyampaikan di tengah tekanan kondisi eksternal, berbagai inisiatif yang telah dijalankan sepanjang satu tahun terakhir mulai membuahkan hasil. Hal ini tercermin dari membaiknya kualitas pertumbuhan, semakin kuatnya eksekusi di pasar, serta meningkatnya ketahanan kinerja keuangan Unilever Indonesia.

“Hasil kinerja kuartal pertama ini semakin yakin bisnis kami berada dalam jalur kemajuan yang positif, didukung oleh fundamental yang terus membaik serta momentum yang semakin menguat,” kata Benjie dalam keterangannya, Rabu (30/4). 

Di sisi lain, marjin kotor UNVR tercatat sebesar 48,2% atau turun 18 basis poin dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Namun, jika tidak memperhitungkan biaya transformasi, marjin kotor tetap terjaga di level 48,8%.

Benjie menjelaskan Unilever Indonesia terus mengupayakan kenaikan marjin kotor melalui dorongan produktivitas di seluruh lini bisnis, sekaligus mempercepat transformasi digital. 

“Upaya-upaya tersebut memperkuat struktur biaya yang lebih efisien serta menjadi fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan yang berkelanjutan,” ungkap manajemen UNVR. 

Arah Baru Bisnis Unilever 

Pada 31 Maret 2026, Unilever PLC mengumumkan telah menandatangani perjanjian kombinasi bisnis atas segmen usaha Makanan dengan McCormick & Company, Inc (McCormick). Transaksi diharapkan selesai sekitar pertengahan tahun 2027. 

Unilever Indonesia mengatakan perusahaan masih mengevaluasi dampak terhadap laporan keuangan.

Unilever Global sebelumnya menggabungkan bisnis makanannya dengan perusahaan McCormick & Company atau McCormick dan kini mulai fokus pada bisnis kecantikan. Penggabungan tersebut menyatukan dua bisnis yang dinilai memiliki kesamaan, sekaligus memiliki kinerja dengan pertumbuhan pendapatan yang solid. 

Seiring dengan transaksi tersebut, Chief Executive Officer Unilever, Fernando Fernandez, mengatakan Unilever akan memisahkan bisnis makanannya. Langkah ini akan mengubah posisi perusahaan menjadi pemain murni di segmen home and personal care (HPC). Usai spin-off, Unilever diproyeksikan mencatatkan pendapatan sekitar €39 miliar atau sekitar Rp 663 triliun berdasarkan tahun fiskal 2025.  

“Dan kemampuan luar biasa McCormick, kami membangun bisnis yang fokus dan berkualitas tinggi dengan pertumbuhan pendapatan yang signifikan dan potensi penciptaan nilai,” katanya dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (9/4).  

Menurut Fernandez, bagi Unilever transaksi ini menjadi langkah strategis untuk mempertajam portofolio bisnis. Menurutnya, pemisahan unit makanan akan membuka nilai yang selama ini belum terpendam, sekaligus mendorong pembentukan pemain global berskala besar di sektor flavor. 

Ia juga menyebut penggabungan merek-merek ikonik milik Unilever Foods dan jangkauan globalnya dengan portofolio dan keahlian kategori milik mitra akan memperkuat daya saing dan mempercepat pertumbuhan bisnis ke depan.

Merujuk pengumuman terbaru, portofolio usaha gabungan akan diisi merek-merek besar seperti McCormick, Knorr, dan Hellmann’s, hingga brand dengan potensi ekspansi tinggi seperti Cholula, Maille, dan Frank’s RedHot.  

Unilever mengatakan bisnis gabungan Unilever Foods dan McCormick diperkirakan memiliki pendapatan dengan total sekitar US$ 20 miliar atau sekitar Rp 341,76 triliun berdasarkan kinerja tahun fiskal 2025.

Fokus ke Bisnis Kecantikan

Tak hanya itu, ke depannya Unilever akan mengandalkan pertumbuhan dari bisnis kecantikan, kesehatan, perawatan pribadi, dan kebutuhan rumah tangga. 

“Dengan posisi kuat di kategori yang kini diminati, serta hadir di wilayah dan saluran yang tengah tumbuh pesat, didukung portofolio merek yang inovatif dan memiliki kinerja yang baik,” tulis manajemen Unilever.  

Unilever menyebut transaksi ini sebagai langkah lanjutan dalam transformasi bisnis untuk menjadi perusahaan yang lebih sederhana, lebih fokus, dan memiliki pertumbuhan lebih cepat. Transformasi tersebut ditopang oleh sinergi di bidang inovasi berbasis sains, penguatan permintaan pasar, hingga eksekusi operasional yang lebih solid.  

Dalam tiga tahun terakhir, Unilever juga mencatatkan kinerja yang melampaui sektor home and personal care (HPC). Unilever mengatakan fokus bisnis yang lebih tajam diharapkan dapat semakin memperkuat penciptaan nilai bagi pemegang saham. 

Dalam transaksi ini, Unilever bersama pemegang sahamnya akan memperoleh sekitar 65% kepemilikan di entitas gabungan melalui saham McCormick & Company.  Nilai kepemilikan tersebut setara sekitar US$ 29,1 miliar, mengacu pada harga rata-rata tertimbang saham McCormick selama satu bulan terakhir di level US$ 57,84.

 Unilever juga akan menerima dana tunai sebesar US$ 15,7 miliar yang akan digunakan untuk menutup biaya pemisahan dan pajak satu kali. Dana itu juga menurunkan tingkat utang hingga sekitar 2,0 kali rasio utang bersih terhadap EBITDA. 

Selain itu hal itu juga untuk mendukung program pembelian kembali saham senilai €6 miliar yang direncanakan berlangsung pada periode 2026–2029. Unilever mengatakan transaksi ini mencerminkan valuasi enterprise sebesar US$ 44,8 miliar untuk bisnis Unilever Foods. 

Nilai tersebut setara dengan rasio EV terhadap penjualan sebesar 3,6 kali dan EV terhadap EBITDA sebesar 13,8 kali. Valuasi ini dinilai sejalan dengan kelipatan perdagangan Unilever saat ini dan mencerminkan valuasi menarik di sektor industri makanan global.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila