Rahasia di Balik Laba Emiten Nikel DKFT Melejit 74% saat Produksi Turun Drastis

YouTube/Central Omega
Pemandangan umum aktivitas penambangan nikel oleh PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) di Konawe, Sulawesi Tenggara.
Penulis: Ahmad Islamy
30/4/2026, 13.21 WIB

PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) mencatatkan lonjakan kinerja keuangan pada kuartal I 2026. Emiten pertambangan nikel itu membukukan laba bersih Rp 237 miliar sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.

Angka itu tumbuh 74% secara year on year (YoY) dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 137 miliar. Menurut manajemen, capaian tersebut ditopang oleh strategi pemasaran yang adaptif serta disiplin dalam efisiensi biaya.

Perseroan menyebutkan, pertumbuhan tersebut terjadi di tengah penyesuaian operasional yang dilakukan demi mematuhi ketentuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) terbaru dari pemerintah. Kementerian ESDM sebelumnya menyatakan, kuota produksi nikel dalam RKAB 2026 diperkirakan sebesar 190 hingga 200 juta ton per tahun.

"Meskipun menghadapi tantangan operasional, kinerja keuangan perseroan menunjukkan tren positif," tulis manajemen dalam keterangan resminya, Kamis (30/4).

Dari sisi operasional, produksi bijih nikel DKFT tercatat sebesar 554 ribu ton, turun dibandingkan kuartal pertama 2025 yang mencapai 996 ribu ton. Sementara itu, volume penjualan juga menurun menjadi 755 ribu ton dari sebelumnya 932 ribu ton secara YoY.

Meskipun volume turun, perseroan tetap mampu menjaga profitabilitas melalui strategi bauran produk. Komposisi penjualan didominasi oleh limonit sebesar 58% dan saprolit sebesar 42%, yang dinilai mampu mengoptimalkan nilai penjualan di tengah kondisi pasar.

Dari sisi keuangan, pendapatan penjualan DKFT tumbuh 20% menjadi Rp 506 miliar dari Rp 421 miliar pada kuartal I 2025. Pada saat yang sama, beban pokok penjualan berhasil ditekan 13% menjadi Rp 175 miliar, sehingga mendorong kenaikan laba kotor sebesar 51 % YoY menjadi Rp 331 miliar.

Kinerja operasional yang efisien juga tercermin dari EBITDA yang meningkat signifikan sebesar 57% menjadi Rp 335 miliar, dibandingkan Rp 214 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Direktur DKFT Feni Silviani Budiman menuturkan, fokus utama perseroan pada kuartal ini adalah menjaga kualitas pendapatan melalui optimalisasi bauran produk dan efisiensi biaya. 

"Meskipun kami melakukan penyesuaian volume produksi mengikuti regulasi RKAB terbaru dari pemerintah, fundamental keuangan kami tetap solid dan memberikan nilai tambah yang signifikan bagi pemegang saham," ujarnya.

Selain itu, laba per saham juga mengalami peningkatan signifikan menjadi Rp 43,25 dari sebelumnya Rp 25,00, mencerminkan peningkatan kinerja yang berdampak langsung bagi investor.

Secara keseluruhan, kinerja DKFT pada awal 2026 menunjukkan, strategi efisiensi dan penyesuaian operasional yang tepat mampu menjaga pertumbuhan laba di tengah tekanan volume produksi. Ini sekaligus memperkuat fundamental keuangan perseroan ke depan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.