IHSG Diramal Turun ke 6.800, Analis Rekomendasi Saham ANTM, PGAS, BUMI, dan TINS
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG rawan terkoreksi pada perdagangan saham awal pekan ini, Senin (4/5). Pada perdagangan Kamis (30/4), IHSG ditutup anjlok 2,03% ke level 6.956, disertai dengan munculnya tekanan jual.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai secara teknikal koreksi IHSG telah menembus level support krusial di 6.917. Dalam timeframe mingguan, IHSG turun 2,42% dengan tekanan jual yang masih dominan. Ia menyebut pergerakan IHSG saat ini berada dalam skenario wave hitam, tepatnya pada fase wave [v] dari wave A dalam struktur wave (2).
“Hal tersebut berarti, IHSG akan rawan terkoreksi ke rentang 6.645–6.838,” tulis Herditya dalam risetnya, Senin (4/5).
MNC Sekuritas menetapkan support IHSG berada di 6.838 dan 6.745. Sementara resistance terdekat berada di 7.022 dan 7.240.
Support merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu. Saat menyentuh support, harga umumnya akan kembali naik karena daya beli saham naik.
Sedangkan resistance merupakan tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi. Setelah saham menyentuh level ini, biasanya akan ada aksi jual cukup besar hingga laju kenaikan harga tertahan.
MNC Sekuritas merekomendasikan buy on weakness sejumlah saham. Misalnya PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) akumulasi beli di rentang Rp 3.550–Rp 3.710 dengan target harga di Rp 3.910–Rp 4.130, sementara level stoploss di bawah Rp 3.450.
Kemudian PT Darma Henwa Tbk (DEWA) direkomendasikan buy on weakness pada area Rp 458–Rp 486 dengan target harga di Rp 545–Rp 595, serta stoploss di bawah Rp 438.
Sentimen IHSG
Phintraco Sekuritas menilai pada pekan ini investor global akan mencermati lanjutan dari negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Dari sisi data, pelaku pasar akan menunggu rilis data tenaga kerja AS serta indikator sektor jasa Institute for Supply Management (ISM), yang menjadi salah satu acuan utama arah ekonomi.
Sementara dari dalam negeri, investor juga akan mencermati sejumlah data penting seperti indeks manufaktur PMI, neraca perdagangan, serta inflasi yang dijadwalkan rilis pada awal pekan ini.
“Selain itu juga akan dirilis data pertumbuhan ekonomi 1Q26 (5/5) serta cadangan devisa, indeks harga properti dan penjualan mobil (8/5),” tulis Phintraco dalam analisisnya, Senin (4/5).
Realisasi APBN 2026 hingga akhir Maret mencatat defisit Rp 240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap PDB, melebar dibandingkan defisit 0,43% pada periode yang sama tahun lalu. Pelebaran ini dipicu lonjakan belanja negara 31,4% menjadi Rp 815 triliun, sementara pendapatan negara baru mencapai Rp 574,9 triliun atau 18,2% dari target.
Pelaku pasar akan mencermati perkembangan fiskal ini di tengah kekhawatiran terhadap disiplin anggaran dan dampaknya ke perekonomian. Dari sisi teknikal, IHSG berpeluang menguat ke kisaran 7.020–7.150 apabila mampu rebound dan bertahan di atas level 7.000.
“Namun jika IHSG masih bergerak di bawah level 7.000, diperkirakan berpotensi uji level di 6.750–6.850,” tulis Phintraco.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).