Laba WIFI Melonjak 100% jadi Rp 164,5 Miliar, Bagaimana Prospek Sahamnya?

PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)
PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)
Penulis: Karunia Putri
4/5/2026, 16.21 WIB

Emiten milik adik Presiden Prabowo Subianto yakni Hashim Djojohadikusumo PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) mencatatkan kenaikan laba bersih 99,22% menjadi Rp 164,50 miliar dari Rp 82,57 miliar secara tahunan atau year on year (yoy). 

Sejumlah analis melihat prospek pertumbuhan pada kinerja keuangan WIFI. Hal tersebut membuat analis mempertahankan rekomendasi beli pada saham WIFI. Pada perdagangan hari ini, harga saham WIFI turun tipis 0,43% atau 10 poin ke Rp 2.340. Harga sahamnya anjlok 28% sejak awal tahun atau year to date (ytd).

Lantas bagaimana kinerja keuangan WIFI selama tiga bulan perdana 2026 dan prospek sahamnya ke depan?

Merujuk laporan keuangan perseroan, WIFI membukukan kenaikan laba bersih hampir 100% pada kuartal I menjadi Rp 164,50 miliar secara tahunan. Emiten sektor telekomunikasi ini membukukan pendapatan sebesar Rp 783,56 miliar, naik 238,38% dari pendapatan WIFI pada kuartal I 2025 sebesar Rp 231,56 miliar. 

Meroketnya pendapatan perseroan ditopang oleh ekspansi signifikan pada segmen telekomunikasi yang masih menjadi motor utama pertumbuhan perseroan. Selain itu, kontribusi awal dari bisnis wholesale mulai memberikan tambahan sumber pertumbuhan baru pada kuartal pertama.

Pendapatan perseroan pada segmen telekomunikasi melejit menjadi Rp 590,07 miliar dari Rp 132,43 miliar secara yoy. Meski begitu pendapatan segmen periklanan perseroan terpantau lesu menjadi Rp 68,75 miliar dari Rp 99,39 miliar. 

Perseroan juga mencatatkan adanya pendapatan segmen perdagangan besar senilai Rp 124,76 milair di mana pada tahun sebelumnya pos segmen ini kosong.

Analis Phintraco Sekuritas Aditya Prayoga menilai kinerja WIFI pada kuartal pertama 2026 tergolong solid dan secara umum sejalan dengan ekspektasi pasar.

Menurut dia, pertumbuhan pendapatan terutama ditopang oleh ekspansi signifikan pada bisnis telekomunikasi seiring semakin luasnya monetisasi jaringan dan peningkatan utilisasi infrastruktur.

Secara segmental, kontribusi bisnis telekomunikasi terhadap total pendapatan meningkat menjadi 75,3%, dibandingkan 57,2% pada kuartal pertama 2025. “Peningkatan ini sejalan dengan fokus strategi manajemen untuk memperkuat eksposur pada bisnis telekomunikasi yang menawarkan margin yang lebih baik dibanding segmen lainnya,” kata Aditya dalam keterangannya dikutip Senin (2/5).

Di sisi lain, tekanan margin mulai terlihat seiring meningkatnya biaya operasional. Beban pokok pendapatan naik signifikan menjadi Rp 344,3 miliar, sementara beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp 82,6 miliar.

Akibatnya, gross profit margin turun menjadi 56,1% dari sebelumnya 75,3%. Operating margin juga melemah menjadi 46,6%, dari 59,4% pada periode yang sama tahun lalu.

Meski demikian, Phintraco menilai normalisasi margin tersebut masih bersifat transisional dan merupakan bagian dari fase awal ekspansi bisnis.

“Ke depan kami tetap melihat prospek pertumbuhan yang solid diduukung oleh monetisasi yang terus membaik dan kenaikan utilisasi infrastruktur yang semakin tinggi,” tulis Aditya.

Senada dengan Phintraco, PT Semesta Indovest Sekuritas menilai pertumbuhan pendapatan WIFI cukup kuat, terutama ditopang oleh kinerja segmen telekomunikasi.

Pendapatan segmen ini tumbuh menjadi Rp 590 miliar pada kuartal I 2026, didorong pergeseran fokus produk ke layanan fixed wireless access (FWA) dan fiber to the home (FTTH).

Namun, perusahaan sekuritas tersebut juga mencatat adanya tekanan terhadap profitabilitas.

EBITDA WIFI tercatat sebesar Rp 434 miliar, naik 142,9% secara tahunan. Namun, EBITDA margin turun menjadi 55,4% dari 70,1% pada kuartal sebelumnya.

Laba bersih juga tumbuh menjadi Rp 165 miliar dengan net profit margin yang menyusut ke level 21%.

Semesta Indovest menilai penurunan margin tersebut sejalan dengan meningkatnya biaya operasional akibat ekspansi berkelanjutan pada layanan FWA dan peluncuran produk baru.

Meski demikian, prospek pertumbuhan perseroan dinilai tetap positif seiring penguatan monetisasi jaringan dan peningkatan utilisasi infrastruktur digital.

Pertahankan Rekomendasi “Beli” Saham WIFI

Seiring dengan kinerja moncer WIFI, Aditya mempertahankan rekomendasi beli (buy) untuk saham WIFI dengan target harga Rp 4.400 per saham. Saat ini, saham WIFI diperdagangkan pada valuasi yang dinilai menarik, yakni sekitar 5,9 kali tahun 2026 secara penuh.

Dia juga melihat fundamental perseroan akan tetap solid.

“Fundamental perseroan tetap solid, didukung permintaan layanan internet yang stabil, positioning produk yang semakin kompetitif, serta monetisasi infrastruktur yang terus menunjukkan perbaikan,” tulisnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri