Ada Grup Bakrie dan Kongsi BIPI–OASA di Proyek WTE Danantara Cipeucang, Tangsel
Emiten portofolio Grup Bakrie, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) menyebut telah telah mengikuti tender proyek waste to energy (WtE) atau pembangunan proyek fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Danantara Indonesia di Cipeucang, Tangerang Selatan.
Corporate Secretary BIPI, Kurniawati Budiman, menyampaikan partisipasi dalam proyek itu melalui PT Indoplas Energi Hijau (IEH). Selanjutnya BIPI melalui IEH akan mengkaji berbagai opsi pendanaan, mulai dari penggunaan kas internal, pinjaman dari institusi keuangan, hingga peluang aksi korporasi lainnya.
“Perseroan akan menyampaikan keterbukaan informasi lebih lanjut apabila terdapat perkembangan material,” ungkap Kurniawati dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Senin (4/5).
Proyek PSEL Tangerang Selatan dikembangkan oleh Badan Usaha Pelaksana PT Indoplas Tianying Energy, yang merupakan kerja sama antara PT Indoplas Energi Hijau dengan kepemilikan 76% dan China Tianying Inc sebesar 24%.
Proyek ini berlokasi di atas lahan seluas 5,53 hektare dan memiliki kapasitas pengolahan sampah hingga 1.100 ton per hari terdiri dari 1.000 ton sampah baru dan 100 ton sampah lama hasil penambangan.
Dari pengolahan tersebut, fasilitas ini ditargetkan menghasilkan listrik dengan kapasitas terpasang 25 MW, gross output sebesar 23,14 MW, dan kapasitas bersih (nett) mencapai 19,62 MW. Listrik yang dihasilkan akan dijual dengan tarif US$ 0,1335 per kWh untuk periode tahun pertama hingga tahun ke-30.
Selain itu, proyek ini juga memperoleh pendapatan dari tarif pengolahan sampah atau tipping fee sebesar Rp 529.000 per ton. Total kebutuhan investasi proyek PSEL Tangerang Selatan mencapai Rp 2,30 triliun atau setara dengan US$ 139,9 juta.
April 2026 lalu, BIPI menandatangani perjanjian dengan entitas usaha PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA), yakni PT Maharaksa Kapital Indonesia (MKI) untuk membeli saham PT Maharaksa Energi Hijau (MEH).
OASA merupakan perusahaan yang bergerak di bidang energi baru terbarukan (EBT) dan teknologi ramah lingkungan. Perusahaan ini berfokus pada pengolahan limbah menjadi energi, biomassa, dan industri hijau (bio industry) sebagai bagian dari upaya transisi energi.
Lewat aksi itu, BIPI sepakat untuk membeli saham PT Multi Energi Hijau (MEH) sebanyak 1.000 saham dengan nilai nominal Rp 500.000 per saham atau setara 20% dari total saham yang diterbitkan. Dengan demikian, nilai transaksi itu mencapai Rp 500 juta.
Pada saat yang sama, BIPI juga menandatangani Akta Jual Beli Saham dengan PT Indoplas Makmur Lestari, entitas anak OASA. Melalui kesepakatan itu, BIPI membeli 20 saham PT Indoplas Energi Hijau dengan nilai nominal Rp 1 juta per saham atau setara 20% kepemilikan, sehingga total nilai transaksi mencapai Rp 20 juta.
Kurniawati menyebut transaksi ini merupakan bagian dari strategi memperkuat portofolio investasi di sektor energi hijau demi mendukung pengembangan bisnis energi berkelanjutan.
Terkait masuknya Grup Bakrie ke BIPI, Kurniawati mengatakan masuknya Bakrie Capital Indonesia sebagai pemegang saham BIPI dengan porsi sekitar 6% atau setara 3,82 miliar saham merupakan investasi murni.
“Perseroan menegaskan keterlibatan Bakrie Capital Indonesia merupakan investasi murni dalam kapasitasnya sebagai pemegang saham,” kata Kurniawati.
Ikut Tender Proyek WtE Danantara Yogyakarta
Bursa Efek indonesia (BEI) telah meminta tanggapan kepada BIPI terkait rencananya dalam proyek pembangkit sampah di Yogyakarta. Manajemen BIPI tidak membantah, perusahaan mengaku aksi itu secara umum mencerminkan arah strategis BIPI yang tengah dalam proses transisi dari bisnis batu bara menuju sektor energi yang berkelanjutan.
Sebelumnya berdasarkan riset Samuel Sekuritas Indonesia, Astrindo Nusantara Infrastruktur (BIPI) saat ini tengah dalam transisi dari bisnis batu bara menuju sektor energi yang lebih berkelanjutan.
Analis Samuel Sekuritas, Juan Harahap dan Ahnaf Yassar, menyebut BIPI menargetkan ekspansi ke tiga lini utama, yakni liquefied natural gas (LNG), waste-to-energy (WTE), dan panas bumi (geotermal).
Samuel Sekuritas menyebut tren kenaikan harga energi saat ini menjadi faktor pendukung yang dapat memperlancar proses transisi BIPI menuju bisnis non-batu bara ke depan. Seiring dengan itu, Samuel mengungkapkan manajemen BIPI mulai masuk ke sektor WTE melalui kemitraan dengan Danantara dalam skema tender pemerintah.
“Seperti yang ditunjukkan melalui partisipasi dalam tender gelombang kedua untuk proyek Yogyakarta dengan kapasitas total 1.500 ton,” demikian tertulis dalam riset Samuel Sekuritas, dikutip Selasa (28/4).