Asing Mulai Masuk Pasar Modal RI, Borong Saham BRPT, ADRO, hingga INDF

ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/tom.
Pengunjung memotret layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (25/3/2026).
7/5/2026, 08.01 WIB

Investor asing mulai masuk perlahan ke pasar modal Indonesia. Terpantau dalam seminggu terakhir penjualan saham oleh investor asing atau net sell mulai surut.

Dalam seminggu terakhir per 30 April 2026–6 Mei 2026, net buy asing tercatat Rp 26,74 triliun. Secara rinci, net buy di pasar tunai dan negosiasi sebesar Rp 2,68 triliun dari sebelumnya net sell Rp 1,18 triliun pada minggu lalu.

Kemudian net foreign sell di segala pasar juga kian menyusut, dari Rp 7,07 triliun pada minggu lalu, kini tercatat sudah menjadi Rp 565,36 miliar. Pada perdagangan Rabu (6/5) kemarin, net sell asing sebesar Rp 484,31 miliar. 

Berdasarkan RTI Business, dalam lima hari terakhir asing mencatatkan beli di saham milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar Rp 263,7 miliar.

Kemudian asing juga masuk ke saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) senilai Rp 194,1 miliar, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Rp 108,5 miliar, dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) senilai Rp 104,5 miliar. 

Lalu asing juga masuk ke saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) sebesar Rp 82,3 miliar, PT Timah Tbk (TINS) Rp 82,3 miliar, dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) sebesar Rp 72,6 miliar. 

Masih Konsolidasi

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini masih berada dalam fase bullish consolidation.

Menurut Nafan, kondisi IHSG sudah terlalu lama berada di zona penurunan sehingga mulai muncul peluang untuk naik kembali. IHSG juga mulai bergerak naik setelah sebelumnya melewati fase pelemahan. Hal itu terlihat dari pola pergerakan yang menunjukkan pasar saham domestik masih berpotensi melanjutkan penguatan.

Dari sisi global, pasar juga merespons positif meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump menghentikan sementara “Project Freedom” di Selat Hormuz. 

Di saat yang sama, laporan Axios menyebut Amerika Serikat dan Iran hampir mencapai kesepakatan yang dituangkan dalam dokumen one-page memo untuk mengakhiri perang.

Nafan menyebut perkembangan itu memberikan sentimen positif bagi pasar global karena dinilai dapat meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dunia. Sejalan dengan menurunnya tensi geopolitik, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun hampir 6%.

“Hal ini menguntungkan bagi negara importir minyak seperti Indonesia karena dapat menekan beban subsidi dan inflasi,” tulis Nafan dalam analisisnya, Kamis (7/5). 

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada triwulan pertama 2026 yang lebih baik dari ekspektasi pasar. Kondisi ini dinilai menjadi fondasi kuat bagi optimisme investor terhadap fundamental ekonomi domestik.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga menunjukkan perbaikan dengan kembali bergerak di bawah level Rp 17.400 per dolar AS, tepatnya di kisaran Rp 17.387 per dolar AS. Penguatan rupiah tersebut turut memberikan sentimen positif dan stabilitas bagi pasar modal domestik.

“Meski demikian, investor masih mencermati net foreign sell yang sebelumnya terjadi serta dampak lanjutan dari tinjauan indeks MSCI,” ucap Nafan. 

Rupiah Jadi Kunci Arah IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,50% ke level 7.092 pada perdagangan Rabu (6/5). Penguatan ini setelah rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal I 2026 yang tumbuh 5,61% secara tahunan (yoy), melampaui ekspektasi pasar.

Meskipun begitu Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyampaikan kenaikan IHSG masih sejalan dengan sentimen global dan belum mencerminkan perubahan fundamental yang signifikan. Ia pun mengaku masih terlalu dini untuk mengasumsikan bahwa kenaikan IHSG akan berlanjut

“Mengingat aliran dana asing masih mencatatkan outflow dan belum terdapat katalis baru yang cukup kuat untuk mengubah arah pasar,” ucap Rully dalam keterangannya, dikutip Kamis (7/5).

Menurut Rully, stabilitas nilai tukar menjadi faktor penting untuk menarik kembali minat investor asing ke pasar domestik. Selama volatilitas rupiah masih tinggi, investor global dinilai cenderung berhati-hati dalam meningkatkan eksposur terhadap aset berdenominasi rupiah. 

Ia mengatakan stabilisasi nilai tukar menjadi prasyarat utama untuk mendorong pembalikan arus dana asing secara lebih berkelanjutan. Mirae Asset juga menilai tekanan eksternal mulai terlihat dari perlambatan ekspor dan kenaikan impor yang lebih kuat. Selain itu, sektor pertambangan mengalami kontraksi seiring pelemahan harga komoditas global.

Mirae Asset juga memperkirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% sepanjang 2026. Hal itu ditopang inflasi yang relatif terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang masih solid.

Meski demikian, Mirae Asset mengingatkan risiko tetap membayangi, terutama apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut dan harga minyak di level tinggi. Kondisi itu berpotensi mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat.

Adapun kedepannya pasar akan mencermati sejumlah katalis utama, termasuk hasil Market Accessibility Review dari MSCI pada Juni 2026 dan konsistensi kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.

 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila