Mengintip Prospek Bisnis Pengelolaan Limbah TBS Energi (TOBA)
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) saat ini tengah menggencarkan transformasi bisnis yang lebih berkelanjutan. Pada kuartal pertama 2026, segmen pengelolaan limbah menjadi kontributor utama dalan kinerja perusahaan.
Adapun pendapatan TOBA meningkat sekitar 20,6% year on year (YoY) menjadi US$ 86,28 juta dari US$ 71,5 juta pada triwulan pertama 2025. Sejalan dengan itu, laba kotor melonjak 46,8% YoY menjadi US$ 10,4 juta dari US$ 7,1 juta.
Segmen ini menyumbang sekitar 93% terhadap total EBITDA yang disesuaikan konsolidasi TOBA dan 59,9% dari total pendapatan. Sejumlah analis menilai lonjakan signifikan pendapatan dari segmen pengelolaan limbah hingga 5,5 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga mengatakan, beralihnya bisnis TOBA dari batu bara menunjukkan transformasi yang semakin bergantung pada sumber pendapatan berulang (recurring income) dan bersifat defensif.
Menurut Aditya, pergeseran tersebut membuat pendapatan TOBA menjadi lebih stabil dibanding sebelumnya yang sangat dipengaruhi fluktuasi harga batu bara.
Ia juga menilai lonjakan kinerja segmen pengelolaan limbah menjadi katalis utama dalam memperbaiki profil risiko sekaligus kualitas pendapatan TOBA. Kontribusi EBITDA yang kini semakin ditopang bisnis berbasis layanan dengan arus kas berulang dinilai mampu meningkatkan stabilitas kinerja dan mengurangi ketergantungan terhadap volatilitas harga komoditas.
Selain itu, Aditya menyebut ekspansi TOBA di sektor pengelolaan limbah dinilai sejalan dengan tren global menuju ekonomi sirkular dan penerapan praktik bisnis berkelanjutan.
“Hal ini berpotensi membuka peluang kemitraan strategis serta akses terhadap pendanaan hijau di masa mendatang,” ucap Aditya dalam analisisnya, Kamis (7/5).
Meskipun prospek transformasi bisnis TOBA dinilai positif, Aditya menilai perseroan masih menghadapi sejumlah tantangan. Menurutnya, ekspansi bisnis di berbagai wilayah, pengendalian biaya operasional, hingga kepatuhan terhadap regulasi lingkungan yang semakin ketat menjadi faktor risiko yang perlu terus dimitigasi perseroan.
Namun, Aditya mengatakan risiko tersebut masih dapat dikelola secara prudent seiring fondasi operasional TOBA yang semakin kuat. Ia juga menilai transformasi bisnis TOBA semakin mempertegas arah perseroan menuju bisnis berkelanjutan.
TOBA sebelumnya dikenal sebagai perusahaan berbasis energi konvensional. Menurutnya, kini secara bertahap TOBA tengah membangun portofolio usaha yang lebih berorientasi pada keberlanjutan dan nilai jangka panjang.
"Jika tren ini berlanjut, segmen pengelolaan limbah berpotensi tidak hanya menjadi pilar utama kinerja, tetapi juga redefinisi identitas bisnis TOBA di mata investor," ucap Aditya.
Sebelumnya, TOBA mengakuisisi perusahaan pengelola limbah terintegrasi asal Singapura, Cora Environment. Saat ini, Cora Environment melayani lebih dari 470 ribu pelanggan dengan tingkat ketersediaan fasilitas operasional mencapai 100%.
Di sisi lain, Asia Medical Enviro Services (AMES) tetap mempertahankan posisi strategis di pasar pengelolaan limbah medis Singapura. Dengan pangsa pasar sekitar 45%, AMES menjadi salah satu pemain dominan di segmen yang memiliki hambatan masuk (barrier to entry) tinggi dan standar regulasi yang ketat.
Sementara di pasar domestik, ARAH Environmental Indonesia mencatat ekspansi agresif. Perusahaan tersebut kini telah melayani lebih dari 5.000 pelanggan dari berbagai sektor di 15 provinsi di Indonesia.
Aditya menilai perkembangan tersebut menunjukkan TOBA tidak hanya melakukan diversifikasi bisnis, tetapi juga berhasil mengeksekusi strategi ekspansi dengan pendekatan yang terintegrasi secara regional.
“Sinergi antarentitas di Singapura dan Indonesia memberikan keunggulan dalam skala, efisiensi, serta transfer kapabilitas operasional,” ucap Aditya.
Direktur TBS Energi, Juli Oktarina, sebelumnya menyampaikan bahwa akuisisi dan divestasi yang dilakukan sepanjang 2025 menjadi bagian dari penataan ulang portofolio strategis yang terencana dan krusial bagi masa depan perusahaan.
Menurutnya, fase transisi ini memang berdampak sementara terhadap laba. Lebih lanjut, Juli menegaskan bahwa capaian pada kuartal I 2026 merupakan bagian dari peta jalan transformasi TOBA menuju model bisnis yang lebih berkelanjutan.
“Dengan posisi kas sebesar US$ 103,3 juta dan manajemen modal kerja yang disiplin,” ujarnya.