Jurus Garudafood (GOOD) Jaga Margin di Tengah Kenaikan Harga Bahan Baku

Katadata
Logo Garudafood (ilustrasi).
7/5/2026, 14.07 WIB

Lonjakan harga bahan baku dan kenaikan harga minyak dunia di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini berdampak ke industri makanan dan minuman. Karena itu, PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) atau Garudafood menyiapkan berbagai strategi untuk menjaga margin keuntungan dan mempertahankan pertumbuhan bisnis sepanjang tahun ini. 

Direktur Garudafood, Fransiskus Johny Soegiarto, mengakui lonjakan harga bahan baku memberi tekanan jangka pendek terhadap perusahaan. Kendatipun begitu, Garudafood menegaskan tetap menjaga keseimbangan antara profitabilitas dan keterjangkauan harga produk di tengah kondisi tersebut.

Perusahaan menyebut penyesuaian harga akan dilakukan secara selektif, khususnya pada kategori produk yang memiliki kekuatan merek (brand equity) kuat dan tingkat toleransi harga yang lebih tinggi di pasar.

“Sementara produk di segmen mass market kami pertahankan dengan pendekatan efisiensi internal,” ucap Fransiskus kepada Katadata.co.id, Kamis (7/5). 

Demi menjaga profitabilitas di tengah kenaikan harga bahan baku, Garudafood menyiapkan sejumlah langkah strategis, mulai dari efisiensi operasional, inovasi produk, hingga penguatan manajemen rantai pasok.

Dari sisi operasional, perseroan menerapkan lean manufacturing dan smart manufacturing demi mengoptimalkan proses produksi. Strategi itu demi meningkatkan efisiensi sekaligus menekan biaya produksi tanpa mengurangi kualitas produk.

Di saat yang sama, Garudafood juga memperkuat strategi portofolio dan inovasi produk sejalan dengan tagline “Leading in Innovation”. Dalam empat bulan terakhir, perseroan meluncurkan sejumlah produk baru seperti Okky Jelly Candy, Chocolatos Drink (RTS) Kurma, Chocolatos Drink (RTD) Matcha, Chocolatos Extrude untuk pasar modern trade, hingga produk musiman Chocolatos Rich Dubai Pistachio.

“Kami mengembangkan varian produk baru yang relevan dan sesuai dengan tren konsumen, termasuk segmen produk yang dapat menopang margin lebih baik,” ucap Fransiskus. 

Selain itu, Garudafood memperkuat manajemen rantai pasok dengan mendiversifikasi jenis dan sumber bahan baku, serta meningkatkan strategi lindung nilai (hedging) demi mengurangi eksposur terhadap volatilitas harga global.

“Hingga risiko kelangkaan bahan baku serta penguatan manajemen risiko untuk memastikan ketersediaan produk dan kelancaran distribusi,” katanya. 

Potensi Kenaikan Harga Produk

Fransiskus mengatakan, penyesuaian harga produk menjadi langkah paling pamungkas yang akan diambil perusahaan. Hal itu dilakukan secara proporsional dan terukur, bukan secara reaktif tanpa perhitungan matang.

Menurutnya, kondisi daya beli masyarakat saat ini membuat konsumen semakin sensitif terhadap harga. Konsumen cenderung lebih aktif membandingkan produk, mencari promo, hingga beralih ke merek yang lebih terjangkau apabila kenaikan harga tidak diimbangi dengan nilai tambah yang dirasakan.

“Oleh karena itu, setiap keputusan penyesuaian harga kami dasarkan pada analisis elastisitas per kategori produk dan segmen konsumen,” ujar Fransiskus.

Dia juga mengatakan, penyesuaian harga jual tetap menjadi opsi yang dipertimbangkan perusahaan dengan sangat hati-hati. Menurut Fransiskus, prioritas utama Garudafood saat ini adalah menjaga efisiensi biaya dan operasional tanpa mengorbankan kualitas produk, sebelum memutuskan untuk penyesuaian harga kepada konsumen. 

Perseroan juga memastikan setiap kebijakan harga akan mempertimbangkan keseimbangan antara daya saing produk di pasar dan keberlanjutan margin usaha.

Sebagai langkah antisipatif, Garudafood terus mengevaluasi kebijakan harga secara berkala dengan membuka peluang penyesuaian harga secara selektif sebagai langkah terakhir. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara daya saing pasar dan keberlanjutan margin bisnis perusahaan.

Garudafood berkomitmen untuk tetap tumbuh secara berkelanjutan, mempertahankan daya saing produk, sekaligus memastikan produknya tetap terjangkau bagi masyarakat Indonesia.

“Kami optimistis bahwa kombinasi efisiensi operasional, inovasi produk, dan strategi pricing yang terukur serta mitigasi cepat dan tepat terhadap risiko bisnis akan menjaga kinerja perusahaan secara solid ke depan,” ucap Fransiskus.

Kinerja Kuartal I 2026

Adapun Garudafood  mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 3,52 triliun pada kuartal pertama 2026. Torehan itu melonjak 12,53% secara tahunan atau year on year (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 3,13 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan interim perseroan, beban pokok penjualan meningkat 15,06% YoY menjadi Rp 2,57 triliun, dibandingkan Rp 2,23 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Alhasil, laba bruto Garudafood menjadi Rp 946,82 miliar atau tumbuh 6,19% YoY dari Rp 891,65 miliar pada kuartal I 2025.

Beban penjualan perseroan juga naik 8,89% YoY menjadi Rp 506,53 miliar. Namun, Garudafood berhasil menekan beban umum dan administrasi sebesar 8,62% YoY menjadi Rp 183,10 miliar.

Dari sisi profitabilitas, laba sebelum pajak penghasilan tercatat sebesar Rp 227,84 miliar atau naik 8,42% YoY dibandingkan Rp 210,14 miliar pada kuartal I 2025.

Adapun laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 0,89% YoY menjadi Rp 139,68 miliar, dari sebelumnya Rp 138,44 miliar. Selain itu, laba per saham naik menjadi Rp 3,79 per saham dari Rp 3,75 per saham pada periode yang sama tahun lalu.

Garudafood telah menggelar rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) dan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada akhir April 2026.

Dalam RUPST tersebut, pemegang saham menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 9,5 per saham atau setara Rp 350,33 miliar. Nilai itu sekitar 50,9% dari laba bersih tahun buku 2025 yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 688,65 miliar.

Dividen dijadwalkan dibayarkan pada 20 Mei 2026 kepada pemegang saham yang tercatat dalam daftar pemegang saham (DPS) per 6 Mei 2026.

Memasuki 2026, Garudafood membidik momentum pertumbuhan konsumsi domestik yang diperkirakan berada di kisaran 5,0% hingga 5,4%. Demi menangkap peluang tersebut, perseroan menyiapkan sejumlah strategi, mulai dari diversifikasi bahan baku dan bahan kemasan.

Hal itu demi memitigasi fluktuasi harga komoditas global, percepatan transformasi digital, hingga penguatan komitmen terhadap aspek keberlanjutan atau environmental, social, and governance (ESG).

Dengan efektivitas operasional yang terus ditingkatkan hingga fundamental keuangan yang solid, Garudafood optimistis mampu mempertahankan pertumbuhan kinerja sekaligus memperkuat posisinya di industri makanan dan minuman nasional.

 
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila