Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat ditutup naik pada perdagangan Jumat (8/5) waktu setempat. Kenaikan indeks ditopang melonjaknya saham Nvidia serta saham bisnis kecerdasan buatan (AI) lainnya. Tak hanya itu, naiknya laporan ketenagakerjaan AS memberikan bukti pasar tenaga kerja AS tetap tangguh.
Indeks S&P 500 naik 0,84% ke 7.398,93, Nasdaq melonjak 1,71% ke 26.247,08 sementara Dow Jones Industrial Average naik tipis 0,02% ke 49,609,16. Sepanjang 2026, S&P 500 telah naik 8%, sedangkan Nasdaq melonjak 13%.
S&P 500 dan Nasdaq terus menembus rekor kenaikan selama pekan ini. Investor pun percaya terhadap kuatnya laporan keuangan perusahaan-perusahaan AS. Sementara ini, investor mengesampingkan kekhawatiran lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.
“Ini adalah ekonomi yang tampaknya sulit diguncang. Ada cerita soal produktivitas, belanja konsumen, efek kekayaan dan pertumbuhan laba perusahaan,” kata Chief Investment Strategist Sage Advisory Services Rob Williams dikutip dari Reuters, Senin (11/5).
Saham Nvidia naik 1,8%, sementara saham emiten memori dan penyimpanan data Micron Technology dan Sandisk masing-masing melonjak 15%. Kenaikan ini didorong tingginya permintaan seiring pesatnya pembangunan pusat data AI.
Di samping itu, data menunjukkan jumlah tenaga kerja di AS pada April naik dibandingkan ekspektasi, sementara tingkat pengangguran tetap stabil di 4,3%. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya lebih lama.
Pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS akan menahan suku bunga di kisaran 3,50% hingga 3,75% hingga akhir tahun. Optimisme atas kinerja emiten membuat investor mengabaikan eskalasi terbaru konflik antara pasukan AS dan Iran di kawasan Teluk.
Harga minyak mentah Brent naik menembus US$ 100 per barel setelah harapan penyelesaian cepat konflik Timur Tengah memudar, termasuk terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur penting pengiriman minyak dan gas alam cair dunia.
Pemerintah AS menyatakan masih menunggu respons Teheran atas proposal terbaru yang diajukan pada Jumat lalu.
Dari 440 perusahaan S&P 500 yang telah melaporkan kinerja kuartal pertama, sebanyak 83% melampaui ekspektasi laba analis, lebih tinggi dari rata-rata historis jangka panjang sekitar 67%.
Meski demikian, beberapa emiten mencatat hasil mengecewakan di antaranya Cloudflare (NET.N) anjlok 24% setelah mengumumkan pemangkasan sekitar 20% tenaga kerja dan proyeksi pendapatan kuartal kedua di bawah ekspektasi serta CoreWeave (CRWV.O) merosot 11,4% setelah menaikkan batas bawah proyeksi belanja modal tahunan akibat kenaikan biaya komponen.
Secara keseluruhan, saham yang turun lebih banyak dibandingkan yang naik di indeks S&P 500 dengan rasio 1,4:1.
S&P 500 mencatat 28 saham mencetak rekor tertinggi baru dan 30 saham menyentuh titik terendah baru. Nasdaq mencatat 134 saham mencapai level tertinggi baru dan 119 saham mencetak level terendah baru. Volume perdagangan di bursa AS tergolong ringan, dengan 17,2 miliar saham