IHSG Jadi Indeks dengan Kinerja Terburuk di Asia, Merosot 20% Sejak Awal Tahun

ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/rwa.
Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Penulis: Karunia Putri
12/5/2026, 08.45 WIB

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi indeks saham dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang tahun berjalan atau year to date (ytd). Hingga perdagangan Senin (11/5), IHSG tercatat merosot 20,14% ke Rp 6.905.

Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama Tae Yong Shim menilai anjloknya IHSG dipicu kombinasi berbagai faktor di dalam dan luar negeri, mulai dari tekanan terhadap nilai tukar rupiah, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah hingga tuntutan dari pengelola indeks global MSCI terhadap transparansi pasar modal Indonesia.

Berdasarkan data yang dihimpun Katadata dari sejumlah bursa saham Asia, indeks saham Korea Selatan KOSPI mencatatkan kenaikan tertinggi di kawasan dengan lonjakan 84,03% ke level 7.931,16. Kenaikan signifikan KOSPI tak lepas dari upaya reformasi pasar modal yang tengah dilakukan Korea Selatan untuk membuka peluang kenaikan status dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar maju (developed market) dalam klasifikasi MSCI.

Shim mengatakan pasar modal Korea Selatan saat ini memang tengah bersiap untuk memenuhi berbagai persyaratan menuju status developed market.

“Sekali lagi, ada potensi peningkatan status terbaru di mana Korea Selatan dapat masuk ke MSCI Developed Market. Korea Selatan sudah mempersiapkan diri untuk menuju ke sana,” ujar Shim dalam agenda Media Connect Samuel Sekuritas beberapa hari lalu.

MSCI dalam keterangannya juga menyebut tengah memantau implementasi reformasi pasar Korea Selatan, khususnya terkait peningkatan aksesibilitas pasar saham dan pasar valuta asing. Lembaga tersebut menilai reformasi itu perlu mampu menciptakan kondisi yang setara dengan pasar valuta asing offshore yang beroperasi penuh, sebagaimana yang berlaku di negara-negara dengan status developed market.

Selain Korea Selatan, sejumlah indeks saham utama Asia juga membukukan kenaikan indeks sepanjang tahun ini. Taiwan Stock Exchange Weighted Index melonjak 42,39%, disusul Nikkei Jepang 23,99%, SET Thailand 19,11% serta VN Index Vietnam 6,22%.

Indeks lainnya yang turut mencatatkan penguatan yakni Straits Times Singapura sebesar 6,24%, Shanghai Composite Cina 6,45%, Tadawul Arab Saudi 6,25%, Malaysia KLCI 3,88% dan Hang Seng Hong Kong 3,03%.

Di tengah penguatan mayoritas bursa regional tersebut, IHSG menjadi satu-satunya indeks utama di Asia yang mengalami koreksi, bahkan dua digit.

Kinerja Indeks Saham Asia Ytd (Katadata/Karunia)

Kenapa IHSG Terkoreksi Paling Dalam?

Shim menilai terdapat dua faktor utama yang menekan pasar saham Indonesia. Pertama, meningkatnya tuntutan MSCI terhadap transparansi dan kualitas free float emiten di pasar domestik. Kedua, pelemahan nilai tukar rupiah yang masih berlanjut.

“Kedua isu tersebut merupakan persoalan struktural, sehingga penyelesaiannya membutuhkan keputusan strategis dari pemilik bisnis dan pembuat kebijakan,” kata Shim.

Sorotan MSCI terhadap struktur kepemilikan saham yang terkonsentrasi pada sejumlah emiten dinilai memicu kekhawatiran investor asing terhadap tingkat likuiditas dan aksesibilitas pasar Indonesia.

Di sisi lain, pelemahan rupiah turut meningkatkan tekanan terhadap arus modal asing, terutama di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Meski demikian, Shim menilai peluang pembalikan arah atau reversal tetap terbuka seiring valuasi saham domestik yang kini semakin murah. Ia menyebut Samuel Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi underweight secara taktis untuk aset saham.

Daftar Lengkap Kinerja Indeks se-Asia sejak awal 2026:

  • KOSPI Korea Selatan: naik 84,03%
  • Taiwan Stock Exchange Weighted Index: naik 42,39%
  • Nikkei Jepang: naik 23,99%
  • SET Thailand: naik 19,11%
  • VN Index Vietnam: naik 6,22%
  • Straits Times Singapura: naik 6,24%
  • Shanghai Composite Cina: naik 6,45%
  • Tadawul Arab Saudi: naik 6,25%
  • Malaysia KLCI: naik 3,88%
  • Hang Seng Hong Kong: naik 3,03%
  • Bursa Efek Indonesia: turun 20,14%
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Karunia Putri