Bos BEI Pertanyakan Saham Baru IPO Langsung Masuk Daftar HSC
Otoritas pasar modal mempertanyakan saham yang baru melantai atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) bisa langsung masuk daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC).
HSC adalah daftar emiten di BEI yang sebagian besar sahamnya terkonsentrasi pada segelintir pihak atau kelompok afiliasi tertentu. Data itu dirilis oleh BEI untuk meningkatkan transparansi, meminimalkan risiko praktik spekulatif, serta memenuhi standar investor global.
Bos BEI pun mengaku bingung, emiten yang belum lama IPO dan mengalami auto reject atas (ARA) selama belasan hari beruntun justu bisa masuk daftar itu. Sebut saja saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) yang mencetak rekor fantastis dengan ARA sebanyak 18 kali berturut-turut sejak melantai di bursa pada 8 Desember 2025.
Lalu, ada saham PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) yang mencetak ARA hingga 11 kali sejak IPO pada 10 April 2026.
“Kami punya pertanyaan yang sama (mengapa saham baru IPO dan ARA berkali-kali bisa HSC),” kata Pjs Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, kepada wartawan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (13/5).
Jeffrey menegaskan, pengawas akan menindaklanjuti temuan terkait proses distribusi saham saat IPO maupun transaksi di pasar sekunder. Menurut dia, regulator bakal melihat bagaimana distribusi saham kala IPO hingga pola transaksi setelah saham diperdagangkan di pasar sekunder.
“Salah satu konsekuensinya adalah tidak akan bisa masuk ke dalam indeks utama di bursa,” katanya.
Sebelumnya, BEI memasukkan saham emiten jasa logistik WBSA dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi. Berdasarkan metodologi penentuan HSC atas struktur kepemilikan saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat per 7 Mei 2026, saham WBSA diketahui dikuasai sejumlah pemegang saham tertentu yang secara agregat menguasai 95,82% dari total saham beredar.
Kendatipun begitu, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Kristian S Manullang menyatakan, pengumuman tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran.
“Pengumuman ini tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku di bidang pasar modal,” kata Kristian dalam keterangan resmi, dikutip Senin (11/5).
Kemudian, saham RLCO dimiliki oleh sejumlah pihak tertentu pemegang saham yang secara agregat menguasai 95,35% dari total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat RLCO. UBO RLCO adalah Edwin Pranata. Free float saham emiten ini tercatat 20,04%.
Merujuk data HSC per 31 Maret 2026 dan dipublikasi pada Kamis (2/4), selain WBSA dan RLCO, terdapat delapan saham lagi yang terkonsentrasi tinggi. Berikut perinciannya:
- PT Rockfields Properti Indonesia (ROCK) yang dimiliki oleh sejumlah tertentu pemegang saham yang secara agregat menguasai 99,85% dari total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat ROCK. Ultimate beneficiary owner (UBO) atau penerima manfaat utama ROCK adalah Po Sun Kok dan Luciana. Free float saham ROCK tercatat 20%.
- PT Ifishdeco Tbk (IFSH) yang dimiliki oleh sejumlah tertentu pemegang saham yang secara agregat menguasai 99,77% dari total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat IFSH. UBO IFSH adalah Fanni Susilo dan Oei Harry Fong Jaya. Free float saham IFSH tercatat 10,06%.
- Saham PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS). Saham ini dimiliki oleh sejumlah tertentu pemegang saham yang secara agregat menguasai 98,35% dari total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat SOTS. Free float saham SOTS tercatat 25,01%.
- PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) yang dimiliki oleh sejumlah tertentu pemegang saham yang secara agregat menguasai 97,75% dari total Saham. Adapun UBO AGII adalah Heyzer Harsono, Rasid Harsono, serta Rachmat Harsono. Free float saham AGII tercatat 7,55%.
- Saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang dimiliki oleh sejumlah tertentu pemegang saham yang secara agregat menguasai 97,31% dari total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat BREN. Adapun UBO BREN adalah Prajogo Pangestu. Free float saham BREN tercatat 12,30%.
- Saham PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV) yang dimiliki oleh sejumlah tertentu pemegang saham yang secara agregat menguasai 95,94% dari total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat MGLV. Adapun UBO MGLV adalah Glenn T Sugita, Suriyanto, dan Sugito Walujo. Free float saham MGLV tercatat 21,26%.
- Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang dimiliki sejumlah tertentu pemegang saham yang secara agregat menguasai 95,76% dari total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat DSSA. Adapun UBO DSSA adalah Franky Oesman Widjaja. Free float saham DSSA tercatat 20,41%.
- Saham PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) yang dimiliki oleh sejumlah tertentu pemegang saham yang secara agregat menguasai 95,47% dari total Saham dalam bentuk Warkat dan Tanpa Warkat LUCY. Adapun UBO LUCY adalah Dimas Wibobo. Free float saham LUCY tercatat 38,94%.